“Proyek”

Pikiran Rakyat, 25 Sep 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Kata proyek sudah menjadi bahasa Indonesia. Dia diambil dari bahasa Belanda (project) atau Inggris (project). Meskipun dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris ditulisnya sama, tetapi diucapkannya berlainan. Dalam bahasa Belanda diucapkan proyek, tetapi dalam bahasa Inggris projek. Maklumlah, huruf “j” dalam bahasa Belanda diucapkan “y”, sedangkan dalam bahasa Inggris diucapkan seperti “j” dalam EYD. Karena kata tersebut biasanya diucapkan “proyek”, jelas kata itu diambil dari bahasa Belanda, bukan dari bahasa Inggris. Kecuali kalau nanti orang yang suka ber-Inggris-ria mengucapkannya seperti dalam bahasa Inggris “projek” seperti terjadi dengan kata produk yang diambil dari bahasa Belanda product yang kita ucapkan produk seperti dalam bahasa Belanda, tetapi sekarang banyak orang yang mengucapkannya secara Inggris, yaitu prodak. Padahal, kata produksi masih tetap kita ucapkan secara Belanda karena memang diambil dari bahasa Belanda. Dan kata-kata yang kita ambil dari bahasa Belanda yang terdapat juga dalam bahasa Inggris dan belakangan diucapkan secara Inggris cukup banyak. Seharusnya kata-kata yang sudah kita terima sebagai bahasa Indonesia dari bahasa lain (dalam hal ini Belanda) apalagi kalau sudah disesuaikan ucapannya dengan bahasa Indonesia, tak usahlah kita kembalikan kepada bahasa Inggris karena kebetulan kata tersebut terdapat juga dalam bahasa Inggris.

Kita harus jujur juga kepada pihak yang bahasanya telah memengaruhi bahasa nasional kita dan telah memberikan kata-kata yang sudah menjadi kosakata bahasa nasional kita.

Proyek menurut KBBI Pusat Bahasa edisi keempat (2008) adalah “n rencana pekerjaan dengan sasaran khusus (pengairan, pembangkit tenaga listrik, dsb.) dan dengan saat penyelesaian yang tegas”. Sementara menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia Badudu-Zain (1994), arti proyek adalah “(Bld) rencana pekerjaan yg akan dikerjakan dan diselesaikan”, contohnya “proyek pembangkit tenaga listrik, proyek pembuatan irigasi, proyek penelitian bahasa”, dsb.

Sejak masa Orde Baru, perkataan “proyek” menjadi kian populer dan mempunyai arti yang khusus. Presiden Soeharto secara sengaja memberi gaji tidak cukup kepada para pegawai negeri, baik sipil maupun militer, termasuk polisi. Mula-mula karena keuangan negara tidak memungkinkan. Akan tetapi, setelah negara mendapat banyak utang dari luar negeri, kemudian dengan terjadinya krisis energi serta harga minyak bumi melonjak dan Indonesia sebagai negara yang kaya minyak mendapat tambahan keuntungan yang memperkaya keuangan negara, seharusnya pemerintah dapat memberi gaji yang layak buat pegawai negeri baik sipil maupun militer termasuk polisi. Akan tetapi, daripada memberi gaji yang cukup, pemerintah Soeharto memberi dana pembangunan yang dapat digunakan untuk melakukan atau membeli barang di luar anggaran rutin. Pembangunan dan pembelian barang dengan anggaran tersebut biasanya dilaksanakan melalui proyek. Pengawasan terhadap anggaran pembangunan itu agak longgar, sehingga memberi kesempatan kepada setiap pemimpin proyek untuk menyimpangkan sebagian dari anggaran itu ke rumahnya atau ke sakunya.

Oleh karena itu, perkataan proyek mempunyai arti lain, bukan berarti “rencana pekerjaan dengan sasaran khusus” (KBBI) atau “rencana pekerjaan yang akan dikerjakan dan diselesaikan” (KUBI) lagi, melainkan pekerjaan yang administrasinya dilakukan secara khusus berlainan dengan atau di luar anggaran rutin. Sementara dalam masyarakat, kata proyek mempunyai arti sendiri seperti pada kalimat “Truk Proyek Ganggu Lalu Lintas” (judul berita “PR”, 16 Juli 2010) atau seperti pengumuman yang sering kita jumpai di pinggir jalan, “Hati-hati di depan keluar-masuk kendaraan proyek”, atau “Maaf perjalanan terganggu, sedang ada proyek”. Jelas arti proyek di situ bukan “rencana pekerjaan” baik dengan sasaran khusus atau tidak.

Bagi orang awam, perkataan proyek selalu membawa asosiasi kepada pekerjaan besar, baik punya pemerintah maupun bukan, yang melibatkan alat-alat besar. Akan tetapi, bagi lingkungan tertentu, proyek adalah sesuatu yang selalu berhubungan dengan uang, terutama uang besar — walaupun besar kecil jumlahnya sangat relatif bagi tiap orang — yang diperoleh di luar gaji yang resmi. Bagi para sarjana di lingkungan universitas, misalnya, proyek biasanya berarti “proyek penelitian” yang dananya disediakan oleh pemerintah. Karena uang itu di luar anggaran rutin, bukan gaji, proyek bagi para sarjana itu adalah kesempatan mendapatkan tambahan pendapatan — yang dianggapnya sebagai rejeki nomplok. Oleh karena itu, mereka mau saja harus menandatangani kuitansi yang jumlah uangnya tidak sesuai dengan angka yang tertulis di situ. Biasanya mereka menerima hanya 50 persen atau 60 persen dari angka yang ditulis di situ.

Praktik itu menunjukkan bahwa korupsi memang sudah menjadi kebiasaan sehingga dianggap wajar-wajar saja — juga oleh kaum intelektual yang seharusnya aktif memberantas korupsi.

Di kalangan birokrasi, melakukan korupsi seperti dianjurkan oleh peraturan yang ada. Misalnya, pembelian barang (termasuk buku) oleh pemerintah di atas jumlah tertentu diharuskan dilakukan melalui tender dan pelaksanaannya dilakukan oleh para “rekanan”, yaitu perusahaan-perusahaan yang sudah mendapat ketetapan dari lembaga yang bersangkutan. Pada praktiknya, perusahaan rekanan inilah yang melakukan tawar-menawar tentang besarnya potongan yang harus diberikan oleh perusahaan yang menjual barang termasuk menentukan harga yang harus diajukannya.

Praktik demikian tampaknya belum mendapat perhatian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena masih berjalan dengan aman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s