Mantan

Pikiran Rakyat, 9 Okt 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Istilah mantan diperkenalkan oleh Prof. Dr. Anton Moeliono sebagai padanan ex atau eks yang tadinya sering diterjemahkan dengan bekas seperti “eks gubernur” menjadi “bekas gubernur”, “eks komandan” menjadi “bekas komandan”, “eks wartawan” menjadi “bekas wartawan”, dan lain-lain. Akan tetapi, kata bekas niscaya dianggap kurang cocok karena terhadap guru misalnya, rasanya tak pantas guru ada “bekas”-nya, sehingga istilah “bekas guru” terasa janggal.

Kata mantan mengingatkan saya akan kata manten dalam bahasa Sunda yang artinya orang yang sudah berhenti dari jabatannya, misalnya “kuwu manten”, “lurah manten”, “lebe manten”. Hanya menurut pengamatan saya, perkataan manten hanya digunakan untuk menyebut orang yang pernah menduduki jabatan di lingkungan kelurahan, tak pernah digunakan untuk menyebut orang yang pernah menduduki jabatan yang diangkat dengan bisluit pemerintah seperti camat, guru, mantri pulisi, atau semacamnya. Untuk mereka biasa digunakan istilah pensiun seperti “guru pangsiun”, “camat pangsiun”, dan lain-lain.

Akan tetapi, beda dengan dalam bahasa Sunda, perkataan mantan dalam bahasa Indonesia ditempatkan di depan jabatan yang pernah dipangkunya, sama dengan letak perkataan ex atau eks. Oleh karena itu, saya mengira Prof. Dr. Anton Moeliono mengambil istilah itu dari bahasa Jawa dan mempergunakannya seperti dalam bahasa Jawa.

Waktu saya periksa kamus Baoesastra Djawa susunan W.J.S. Poerwadarminta (1939) ternyata memang terdapat lema manten yang artinya dekat dengan ex. Kata manten yang terdapat dalam kamus itu diartikan sebagai “I k : mana, mene, mono. II, engg.: tilasan, pocotan, ktj. mari”. Keterangan II cocok dengan istilah ex. Begitu juga dalam Bausastra Jawa-Indonesia susunan S. Prawiroatmodjo (edisi kedua, 1985), terdapat kata manten yang diartikan “kian, bekas, lepasan”. Sayang dalam kedua kamus itu tidak ada contoh di mana istilah itu diletakkan, di depan atau di belakang nama jabatan yang dimaksudkan. Apakah sama dengan di dalam bahasa Sunda? Yaitu diletakkan di belakang jabatan yang dimaksudkan? Kalau demikian, meletakkannya di depan jabatan yang dimaksudkan adalah karena hendak disesuaikan dengan istilah ex yang diambil dari bahasa Belanda.

Menempatkan keterangan di depan yang diterangkan sebenarnya tidak sesuai dengan hukum DM dalam bahasa Indonesia. Jadi istilah “camat mantan”, “guru mantan” lebih cocok dengan hukum DM.

Poerwadarminta menerangkan kata manten antaranya dengan tilasan, pocotan atau mari (= berhenti). Kata pocotan memberikan indikasi bahwa pemberhentiannya itu tidaklah karena masa jabatannya habis, melainkan diberhentikan. Artinya, berhenti dengan tidak hormat. Begitu juga S. Prawiroatmodjo memberikan padanan kata manten dalam bahasa Jawa dengan bekas, lepasan. Istilah lepasan juga mengindikasikan bahwa yang bersangkutan diberhentikan dari jabatannya dengan dipaksa, mungkin karena melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Dengan kata lain berhenti dengan tidak hormat.

Sementara itu, istilah manten dalam bahasa Sunda, tidak mempunyai konotasi buruk. Oleh karena itu, “lurah manten” disebut juga “lurah hormat”. Artinya, dia berhenti dengan hormat karena tidak pernah melakukan sesuatu yang tercela. Untuk mereka yang berhenti karena melakukan kesalahan, artinya diberhentikan dengan tidak hormat, dalam bahasa Sunda digunakan istilah khusus, yaitu erpol atau dongkol, sehingga ada sebutan “lurah erpol”, “demang dongkol”, dan lain-lain.

Sedemikian jauh, kata manten dalam bahasa Sunda hanya digunakan sehubungan dengan jabatan yang pernah diduduki seseorang. Akan tetapi dalam bahasa Indonesia, kata mantan dihubungkan dengan urusan apa saja sehingga digunakan istilah “mantan istri” dan “mantan suami”. Memang kalau mantan digunakan dalam arti eks atau bekas hal itu boleh-boleh saja. Akan tetapi bagi saya sebagai orang Sunda yang mengenal kata manten dalam bahasa Sunda, sebutan “mantan suami” dan “mantan istri” itu terasa janggal karena bagaimanapun kedudukan sebagai istri ataupun suami bukanlah jabatan.

Menurut saya, istilah “bekas istri” atau “bekas suami” lebih tepat digunakan. Dalam bahasa Sunda digunakan istilah “urut pamajikan” dan “urut salaki” (urut = bekas) sehingga terdapat peribahasa “pamajikan (atau salaki) aya urutna, dulur mah henteu”. Artinya istri atau suami ada bekasnya, yaitu kalau hubungan pernikahan mereka putus, tetapi hubungan saudara tak bisa putus.

Begitu juga istilah “mantan guru” sebagai padanan “eks guru” yang berarti guru itu pernah mengajar seseorang, seperti “bekas guru” terasa janggal. Lain halnya kalau yang dimaksudkannya ialah “pensiunan guru” atau “guru pensiun”. Kata “pensiun” memang digunakan untuk menyebut orang yang pernah menjadi guru, atau jabatan-jabatan yang pengangkatannya dilaksanakan dengan bisluit atau keputusan pemerintah. “Wedana pensiun”, “camat pensiun”, “mantri cacar pensiun”, dan sebagainya.

Artinya ketika kita mencari atau memberikan padanan istilah asing dengan istilah yang terdapat dalam bahasa Melayu lama atau dalam salah satu bahasa ibu mesti juga kita pertimbangkan pemakaiannya dalam bahasa asalnya, di samping jangan menyalahi kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia seperti hukum DM.

Iklan

2 thoughts on “Mantan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s