Resensi

Pikiran Rakyat, 16 Okt 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Kalau ada buku baru terbit atau ada pertunjukan drama atau musik, bahkan film, yang menarik, biasanya kita baca resensinya dalam majalah atau surat kabar. Istilah resensi yang kita ambil dari bahasa Belanda recensie artinya sama dengan review dalam bahasa Inggris. Dalam resensi itu, penulis bukan saja memberitahukan tentang adanya buku baru atau pertunjukan yang baru dipentaskan, melainkan juga memberikan penilaian terhadap buku atau pertunjukan itu. Baguskah, kalau bagus mengapa. Atau jelekkah, kalau jelek apa sebabnya. Pendeknya dalam resensi itu si penulis harus memberikan pendapatnya pribadi tentang buku atau pertunjukan yang diresensinya. Para pembaca yang membaca resensi itu dapat menyetujui pendapat itu (karena menyetujui alasan-alasan yang dikemukakan peresensi) atau mempunyai pendapat yang berbeda (karena tidak setuju dengan alasan-alasan yang dikemukakan peresensi). Kalau pembaca itu sudah membaca buku tersebut atau telah menonton pertunjukan itu, dia bisa membandingkan apakah pendapat si peresensi itu cocok atau tidak dengan pendapatnya sendiri.

Pembaca yang belum membaca buku itu atau tidak menonton pertunjukan itu, bisa bangkit rasa penasarannya, sehingga ia membeli buku itu atau kalau pertunjukan itu masih berlangsung pergi menontonnya. Dengan demikian, resensi merupakan juga rangsangan bagi pembaca resensi itu untuk membaca atau menonton sendiri buku atau tontonan yang diresensi. Dengan kata lain, resensi mempunyai juga nilai bisnis, yang dalam dunia yang segala sesuatunya dilihat dari kacamata bisnis, dapat dimanfaatkan juga untuk kepentingan bisnis. Oleh karena itu, kita baca resensi yang dimuat dalam Kompas kebanyakan hanya buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia atau grupnya, sedangkan dalam Republika kebanyakan hanya buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit Republika. Hal seperti itu sebenarnya kurang sehat karena seharusnya resensi dimuat untuk kepentingan pembaca bukan untuk kepentingan (mitra) bisnis.

Pembaca surat kabar itu yang seharusnya mendapat tahu melalui resensi tentang buku yang penting bagi mereka baik yang diterbitkan oleh penerbit mitra bisnis surat kabar surat kabar tersebut ataupun yang diterbitkan oleh penerbit lain. Resensi bukan iklan. Oleh karena itu, kebiasaan yang (pernah) berlangsung di Indonesia penerbit memberikan honorarium buat penulis resensi atas bukunya juga hal yang tidak sehat. Pemberian honorarium itu seakan-akan hendak menggiring penulis resensi agar memuji atau membahas segi-segi bagusnya saja dalam buku yang dia resensi sehingga mendorong pembaca resensi itu untuk membeli buku tersebut. Padahal, penulis resensi seharusnya menuliskan pendapatnya secara objektif tentang kebaikan dan kelemahan buku yang diresensinya. Dengan demikian, ia memberikan penilaian yang objektif buat para pembaca resensinya itu.

Dengan kata lain, resensi ditulis dan dimuat seharusnya untuk kepentingan pembaca surat kabar atau majalah yang memuatnya, bukan untuk kepentingan bisnis penerbit yang menerbitkan buku yang diresensi, walaupun harus diakui bahwa resensi dapat mempengaruhi pembaca untuk membeli buku tersebut. Artinya, kalau resensi itu objektif sekalipun, ada saja kemungkinan ada pembaca yang tertarik untuk membeli buku itu setelah membaca resensinya. Bahkan, sering terjadi buku menjadi laku karena ada resensi yang menunjukkan kelemahan-kelemahannya. Dalam hal demikian, pembaca ingin membaca sendiri buku itu karena penasaran apakah benar buku itu penuh kelemahan atau cacat yang ditunjukkan dalam resensi tersebut.

Pembaca surat kabar atau majalah yang membaca sesuatu resensi adalah orang merdeka yang mempunyai pikiran dan pendapat sendiri, tidak akan begitu saja mengekor pendapat peresensi yang dibacanya. Mereka juga mempunyai ketajaman rasa atau naluri yang segera akan memberi tahu apakah resensi yang dibacanya itu objektif ataukah tidak. Resensi yang objektif akan lebih banyak dipercaya daripada yang hanya menjual kecap saja.

Belakangan kelihatan ada beberapa surat kabar dan majalah yang menyediakan ruangan tetap yang memberikan nformasi tentang buku yang dianggap penting. Dalam informasi itu tidak ada penilaian tentang buku tersebut seperti dalam resensi, maklum informasinya hanya singkat saja. Sayang bahwa dalam ruangan itu pun buku-buku yang dimuat informasinya kebanyakan hanya buku-buku terbitannya sendiri atau terbitan mitra bisnisnya saja.

Yang mengherankan dalam surat kabar atau majalah yang terbit di Jakarta, sering dimuat resensi atau informasi tentang buku dalam bahasa asing (terutama bahasa Inggris) yang diterbitkan di luar negeri, tetapi tidak pernah ada resensi atau informasi tentang buku dalam salah satu bahasa ibu, misalnya, dalam bahasa Jawa, Bali, atau Sunda, yang terbit di daerah, tetapi di wilayah Republik Indonesia juga.

Padahal, pembaca surat kabar atau majalah itu lebih banyak yang memerlukan informasi tentang buku dalam bahasa ibunya karena buku dalam bahasa ibu tidak pernah diiklankan, maklum tirasnya rendah.

Iklan

One thought on “Resensi

  1. “Bahasa ibu” disini bersifat subjektif. Saya dibesarkan dengan bahasa indonesia jadi “bahasa ibu” saya Bahasa Indonesia. Orang lain yang dibesarkan bahasa Jawa, Bali, Sunda — masing-masing mempunyai “bahasa ibu” daerahnya tersendiri. Karena itu saya dapat memaklumi kalau koran nasional hanya meresensi buku-buku yang berbahasa indonesia atau inggris. Bahasa daerah di Indonesia banyak, tak mungkin koran nasional dapat meresensikan semua buku yang dianggap penting dalam bahasa daerah masing-masing. Ini juga untuk menghindari kesenjangan, iri hati dan tuduhan jika etnis lain menuduh koran nasional berpihak pada etnis tertentu.

    Maka itu saya anggap wajar, jika seharusnya, koran daerah masing-masing berperan penting dan harus “memikul” tanggung jawab atas buku yang ditulis dengan bahasa daerahnya sendiri. Saya tidak tahu bagaimana persisnya keadaan di daerah masing-masing. Sudahkah, koran-koran tersebut meresensikan buku yang ditulis dengan bahasa daerahnya sendiri?

    Poin penting yang amat disayangkan adalah jarang sekali saya membaca resensi buku yang lebih banyak mengungkapkan kelemahan buku tersebut daripada pujiannya. Apakah para resensor kita tidak “enak hati” dan tidak mau “cari musuh” dengan mengkritik karya orang lain atau media surat kabar dan majalah kita yang enggan memuatnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s