Istilah dan Ungkapan Bahasa Inggris

Pikiran Rakyat, 13 Nov 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Harus diakui dalam bidang ilmu banyak sekali istilah bahasa asing, terutama bahasa Inggris, yang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Kamus istilah untuk berbagai bidang keilmuan sudah disusun, tetapi ternyata untuk pemakaian sehari-hari tidak cukup, atau istilah itu belum dikenal oleh para ilmuwan dalam bidang yang bersangkutan. Hal itu bisa kita saksikan kalau kita meneliti tulisan-tulisan para ilmuwan, baik yang berupa karangan yang dimuat dalam majalah atau surat kabar maupun dalam buku-buku yang ditulisnya. Dalam karangan-karangan itu kita sering melihat bahwa setelah ditulis istilah dalam bahasa Indonesia, lalu diikuti di antara tanda kurung, istilahnya dalam bahasa Inggris.

Hal itu menunjukkan bahwa istilah bahasa Indonesia yang digunakannya tidak meyakinkannya akan diartikan secara tepat oleh pembaca. Oleh karena itu, dia merasa perlu menambahkan istilah bahasa Inggrisnya di antara tanda kurung.

Hal demikian dapat kita mengerti, walaupun sebenarnya menimbulkan tanda tanya, siapakah sebenarnya pembaca yang dibayangkan ilmuwan itu ketika menulis karangannya? Kalau dimuat dalam majalah atau surat kabar umum, niscaya pembaca umum belum tentu tahu istilahnya dalam bahasa Inggris. Jadi, keterangan tambahan dalam bahasa Inggris sama sekali tidak diperlukan.

Lain halnya kalau tulisan itu dimuat dalam majalah profesi yang dibaca oleh para ahli dalam bidang yang sama dengan penulis. Keterangan di antara tanda kurung yang memberikan istilah padanannya dalam bahasa Inggris atau bahasa lain memang diperlukan. Akan tetapi, harusnya cukup satu kali, yaitu pada waktu istilah itu pertama kali digunakan. Memberikan keterangan istilah Inggris setiap kali setelah menggunakan istilah Indonesia hanya membuang energi, baik bagi yang menulis maupun bagi yang membaca.

Akan tetapi, keterangan dalam bahasa Inggris yang ditempatkan di antara tanda kurung setelah penggunaan istilah bahasa Indonesia, kita jumpai juga dalam teks buku-buku keilmuan kita. Hal itu terasa mengganggu karena penulis bisa menyatukan semua istilah yang digunakannya dalam satu daftar disertai dengan persamaannya dalam bahasa Inggris. Kalau ada yang membingungkan, pembaca bisa memeriksa istilah yang dimaksud dalam daftar yang memberikan padanannya dalam bahasa Inggris atau bahasa lain itu.

Daftar istilah seperti itu terutama diperlukan dalam buku-buku terjemahan, supaya istilah asing yang sama secara konsisten menggunakan istilah bahasa Indonesia yang tetap. Dengan demikian, tidak diperlukan keterangan dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya setiap setelah mempergunakan istilah bahasa Indonesia.

Sayang hal itu tidak atau jarang sekali dilakukan dalam buku-buku terjemahan Indonesia.

Misalnya ada buku yang merupakan terjemahan dari disertasi di luar negri yang ditulis oleh seorang sarjana Indonesia tentang situasi kecendiakawanan kaum Muslim di Indonesia. Aslinya tentu saja ditulis dalam bahasa Inggris, tetapi terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia dikerjakan oleh orang lain. Membaca buku itu tersendat karena terlalu banyak kata-kata dan istilah dalam bahasa Indonesia yang diikuti dengan keterangan dalam bahasa Inggris, sehingga menimbulkan pertanyaan dalam hati, sebenarnya penulis atau penerjemahnya menujukan bukunya kepada siapa? Kepada pembaca Indonesiakah atau pembaca Inggris? Bahkan, kata-kata yang sebenarnya bukan istilah ilmiah, diberi padanannya juga dalam bahasa Inggris, seperti tak liberal (illiberal), kesinambungan (continuity), perubahan-perubahan (changes), para intelektual modern yang sekular (secular modernising intellectuals), kuasa (power), dll. Itu dikutip dalam tiga halaman berturut-turut. Dan dalam halaman berikutnya terdapat lagi kuasa (power).

Hal itu hanya menunjukkan bahwa penerjemah kurang yakin akan pekerjaannya. Selain itu, juga memperlihatkan bahwa editor penerbit itu tidak bekerja. Tugas editor yang utama ialah mewakili calon pembaca agar menyediakan teks yang enak dibaca dan mudah dimengerti. Kalau tugas itu tak dapat dilaksanakannya dengan baik maka dia gagal sebagai editor.

Akan tetapi, memberi keterangan tambahan tentang kata-kata atau istilah bahasa Inggris sering kita jumpai juga dalam karangan pendek yang tidak ilmiah yang dimuat dalam majalah atau surat kabar. Kita memberikan keterangan setelah menggunakan istilah atau kata-kata bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris karena kita menganggap keterangan dalam bahasa Inggris itu akan menyebabkan pembaca mengerti maksud tulisan itu.

Artinya, secara tidak sadar (atau sadar?) kita menganggap pembaca kita lebih tahu bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia yang kita gunakan sehingga kata-kata atau kalimat bahasa Indonesia harus diberi keterangan dalam bahasa Inggris.

Atau kita sendiri sebagai penulis merasa lebih fasih berbahasa Inggris, oleh karena itu kata-kata atau kalimat bahasa Indonesia kita terangkan dengan kata-kata atau kalimat dalam bahasa Inggris.

Semua itu hanya menunjukkan bahwa kita menganggap bahasa Indonesia belum cukup mampu untuk menyatakan pikiran dan perasaan kita. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa bahasa Indonesia sekarang dapat digunakan untuk menulis tentang ilmu apa pun, dan karya sastra dalam bahasa Indonesia telah diakui ketinggian mutunya sehingga banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Artinya, karangan-karangan yang penuh dengan keterangan tambahan dengan bahasa Inggris itu bukan menunjukkan ketakmampuan bahasa Indonesia untuk menyampaikan pikiran dan perasaan seseorang, melainkan menunjukkan bahwa orang yang menulis itulah yang tidak menguasai bahasa nasionalnya dengan baik atau suka pamer bahwa dia bisa berbahasa asing.

Yang akhir itu hanya menunjukkan bahwa dia mempunyai rasa rendah diri yang sangat besar dan tidak mempunyai rasa bangga terhadap bahasa negara dan bahasa nasionalnya.

Iklan

One thought on “Istilah dan Ungkapan Bahasa Inggris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s