Kamus

Majalah Tempo, 13 Des 2010. Putu Wijaya: Dramawan.

ADA dua buah kamus bahasa Indonesia yang monumental. Yang pertama karya Poerwadarminta. Karya ini kedudukannya sudah seperti primbon, lama sekali tidak ada tandingannya. Yang kedua Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh sebuah tim, produk Pusat Bahasa.

Apakah dengan bersenjata kedua kamus itu, seluruh teks, ekspresi, dan narasi dengan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan, menjadi jelas? Bagi orang Indonesia sendiri, jawabannya mudah. Karena bahasa tidak harus dimengerti tetapi dirasa. Tanpa kedua kamus itu pun, segalanya sudah jelas. Kata-kata sudah menyambung rasa tanpa mesti lebih dulu dipahami. Tetapi, bagi mereka yang “ibunya” tidak berbahasa Indonesia, kedua kamus itu pun masih belum cukup. Karena bahasa Indonesia seperti sebuah peta buta.

Ada seorang doktor, ketika menerjemahkan sebuah novel Indonesia ke bahasa Prancis, tak tanggung-tanggung terbang dari Paris untuk menjumpai penulisnya yang sedang syuting film di Puncak. Keperluannya hanya untuk menanyakan arti yang pasti dari sebuah kalimat-lebih tepat dikatakan sebuah kata dalam sebuah kalimat-yang membuat langkahnya berhenti. Pasalnya, ia tidak mau menebak-nebak, takut salah. Alangkah herannya ketika ia mendapat jawaban bahwa arti dari kalimat itu terserah. Begitu boleh, begini juga bisa. Semuanya sah-sah saja.

Seperti kata: acuh. Satu saat bisa berarti peduli. Tapi di saat yang lain tanpa diberi tanda baca, cetak miring atau garis bawah, artinya bisa kebalikannya: tak peduli. Arti sebuah kata lalu tidak sebagaimana yang tertera dalam kamus, tetapi tergantung saat, siapa, dan bagaimana kata itu disampaikan. Tiba-tiba sebuah kata menjadi gambar dalam huruf kanji yang bunyinya bisa berbeda-beda tergantung konteksnya.

“Kemudahan” dan “kesederhanaan” bahasa Indonesia yang tak mengenal jenis kelamin, perbedaan waktu dalam kata kerja, dan penanda tunggal-jamak tiba-tiba menjadi kerumitan. Bagi yang sudah terbiasa dengan kepastian, bahasa Indonesia menjadi sebuah teka-teki. Kamus bukan lagi buku suci, tetapi hanya sebuah referensi. Dalam kehidupan bahasa Indonesia, setiap orang sudah bertumbuh menjadi kamus.

Kata ganyang dalam bahasa Jawa yang berarti makan, santap, atau lalap, “dibantingsetirkan” oleh Bung Karno, di era konfrontasi dengan Malaysia, menjadi berarti hajar, kalahkan, atau taklukkan. Tetapi Bung Karno seorang pemimpin yang karismatik. Pengembangan, pembelokan, bahkan pembalikan arti dari sebuah kata dari seorang tokoh dengan mudah tersosialisasi dan kemudian menjadi kesepakatan bersama.

Saya adalah sebutan dari orang pertama. Saya lebih menunjukkan kerendahan hati, sopan, menghormati yang diajak bicara dibandingkan dengan “aku”. Anak, kepada orang tua dan guru atau bawahan pada atasan, membahasakan dirinya dengan saya. Tapi ketika Chairil Anwar menulis sajak berjudul “Aku” pada 1943, dua tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan, kebangkitan pada harga diri seseorang untuk bebas dan merdeka memberi angin pada kata aku. Kini di era televisi swasta, para selebritas tak memakai kata saya lagi, tetapi aku dan “gue”. Pengaruhnya luar biasa. Kini seorang anak dan para pembantu tanpa risi lagi membahasakan dirinya “aku” kepada siapa pun berbicara. Dalam keluarga, antara suami dan istri, bahkan juga anak, kata gue pun sudah mulai lumrah atau dimaafkan.

Orang besar dan media yang punya kekuasaan, lambat-laun, mau tak mau akan menjadi kamus.

Maklum, bahasa memang bukan ilmu pasti yang bisa dibekuk dengan kebakuan yang menjadi misi pembuatan kamus.

Tetapi, ketika semua orang meniru dan menjadikan dirinya kamus, akan terjadi kesewenang-wenangan. Kata-kata akan menjadi anarkistis. Bahasa dizalimi. Kriminalitas bahasa terjadi tapi tidak bisa lagi diadili karena terlalu banyaknya. Bahasa Indonesia akan menjadi sarang penyamun.

Undang-undang kebahasaan sudah lahir. Kesepakatan dalam bahasa yang dikhawatirkan akan dikuntit sanksi bagi pelanggarnya itu sudah mulai banyak ditentang. Pemakaian bahasa yang tidak lagi dibablaskan tapi diberi lajur-lajur, kisi-kisi yang lebih pasti itu akan menyapu bersih segala penyimpangan bahasa. Yang kini mengacak bahasa Indonesia dengan mengimpor berbagai kausa kata asing, misalnya, tidak akan bisa seenak udelnya lagi berenang gaya bebas Bahasa Indonesia akan memasuki tertib hukum.

Alhamdulillah itu tak terjadi. Undang-Undang Bahasa, yaitu Undang-Undang Nomor 24/2009, itu tentang bendera, bahasa, dan lambang negara serta lagu kebangsaan. Isinya mengatur bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, dan transaksi/dokumentasi niaga. Jadi bukan membatasi penggunaan berbahasa.

Namun pertanyaan masih tetap. Apakah kamus dapat menjadi kiblat bahasa Indonesia? Apakah tertib bahasa akan mampu mengembangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang hidup, tangkas, menarik, dan mampu menjadi bahasa ilmiah? Apakah kebakuan yang dijamin dalam kamus akan menghentikan kenakalan, kebablasan, dan keliaran yang begitu pesat larinya sejak Angkatan 45 (dalam sastra Indonesia) menjadi joki yang mengembangkan bahasa Melayu Pasar menjadi bahasa Indonesia hingga berbeda dengan bahasa Melayu yang kini dijumpai baik di Malaysia maupun Brunei?

Para sastrawan, yang malang-melintang dalam kancah bahasa, sangat berkepentingan menjawab. Mungkin mereka mau mengatakan bahwa kamus adalah benda mati yang tak akan mungkin jadi joki.

Bahasa Indonesia dapat dikawal tetapi gebrakannya yang semakin cepat dan deras akan membuat kamus hanya mampu mengapresiasi, bukan membatasi.

Sumber ilustrasi: The Jakarta Post.

Iklan

2 thoughts on “Kamus

  1. Dosen saya di UI mengumpamakan kamus sebagai “senjata perang”. Untuk mampu berkomunikasi antar dua bahasa yang berbeda meskipun serumpun, mau tidak mau ia dibutuhkan; sedangkan untuk pergaulan antar pengguna bahasa yang sama, ia lebih berperan seperti polisi: sebagai simbol ketertiban lalu-lintas berekspresi ataupun berinteraksi sosial, dan sebagai penunjuk jalan bagi mereka yang tersesat karena tidak mampu membaca rambu-rambu kesusatraan.

  2. Rata-rata kamus di dunia adalah kamus yang disusun dengan harapan untuk membantu siapa pun yang menggunakannya untuk menemukan kata-kata dalam korpus tulis seluas mungkin dalam rentah jaman sejauh mungkin ke belakang terkait dengan bahasa kamus itu. Jadi jangan heran bahwa dalam KBBI misalnya kita orang penutur bahasa Indonesia akan mendapati kata-kata lawasan yang sudah tidak pernah lagi terdengar di telinga kita dan tidak pernah nampak di tulisan siapa pun, dan kita akan membutuhkan kamus itu ketika membaca buku berbahasa melayu terbitan sekitar awal abad dua puluh.

    Saya lebih suka membayangkan bahwa KBBI adalah artefak arkeologis kultural kita sebagai bangsa penutur bahasa Indonesia. KBBI akan sangat berharga ketika anak cucu kita tiga ratus atau empat ratus tahun mendatang ingin mengetahui apa yang kita dan beberapa generasi sebelum kita pikirkan, tuliskan dan ucapkan terkait sebuah kata, dan bagaimana keadaan kata itu ketika sampai ke mereka.

    Kita sangat kaya dalam berbahasa Indonesia. Orang asing kesulitan untuk mempelajari bahasa Indonesia, karena mereka langsung mempelajari bahasa Indonesia. Padahal, kita tidak pernah langsung mempelajari bahasa Indonesia. Pada waktu kecil kita adalah penutur bahasa ibu kita masing-masing. Baru kemudian kita belajar menguasai bahasa Indonesia dengan tuntunan bahasa ibu kita masing-masing. Sehingga ketika sudah berbahasa Indonesia, maka bangsa Indonesia adalah penutur bahasa Indonesia yang amat kaya, sebab masing-masing bahasa Indonesia yang mereka tuturkan berwarna bahasa ibu mereka masing-masing.

    Orang asing yang ingin sekaya kita dalam berbahasa Indonesia haruslah dulu belajar bahasa daerah hingga sungguh menguasai, baru kemudian belajar bahasa Indonesia dengan tuntunan bahasa daerah itu. Dengan demikian, samalah keadaan linguistis dia dengan kita semua. Sehingga tidak perlu dia bergantung pada kamus untuk mengetahui arti sebuah kata atau perkataan. Cukuplah dia kembali ke bahasa daerah itu, dan bertanya kepada kita penutur bahasa Indonesia. Tidak perlulah membuka KBBI.

    Para penyair dan sastrawan besar Indonesia tidak seorang pun berlidah tunggal (monolingual). Mereka semua sekurangnya berlidah ganda (bilingual). Sehingga ketika dalam bahasa Indonesia sesuatu tidak menemukan sebutannya, maka ambil saja sebutannya dalam bahasa daerah. Selesai soal.

    Warna kedaerahan itu bukan hanya kata bahasa daerah yang dimasukkan, bahkan hingga morfologi dan sintaksis mereka pun kaya. Dengan mudah kita tahu bahwa seseorang berasal dari masyarakat penutur bahasa jawa, atau sunda atau batak, atau melayu, atau madura, meskipun dia berbahasa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s