Budaya Tanding

KOMPAS, 24 Des 2010. Kasijanto Sastrodinomo: Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Orang yang paling dicari Pemerintah Amerika Serikat belakangan ini tentulah Julian Assange, pentolan situs WikiLeaks yang membocorkan dokumen rahasia negeri perkasa itu ke ruang publik. Reaksi rezim Abang Sam dan berbagai pihak yang bertemali—pemerintah negara lain dan korporasi raksasa dunia?—gampang ditebak: tangkap si pembocor. Sebaliknya, Joshua Benton dari Nieman Journalism Lab mengecam pemerintah negara yang rahasianya terbongkar itu jangan lagi berpikir ”ini musuh yang harus kita kalahkan. Mereka harus mencari cara lain untuk menghadapi ini”.

Artinya, mengikuti kritik Benton, pemerintahan negara-negara di dunia sekarang tak lagi bisa bersikap represif, melainkan harus kreatif berhadapan dengan konsekuensi modernitas yang tak terbendung. Geger WikiLeaks mengisyaratkan munculnya suatu budaya tanding yang tak bisa dibungkam begitu saja. Tindakan pembocoran itu bisa dilihat sebagai gerakan budaya dalam arti membekuk mentalitas sideman yang tertutup dan membeku, dan sebaliknya mencairkan keterbukaan secara radikal. Misinya memerangi korupsi aparat pemerintah dan korporasi jahat.

Istilah budaya tanding, terjemahan counter-culture, berawal dari Amerika Serikat pada 1960-an. Demikian populer istilah itu sehingga Oxford English Dictionary menambahkannya sebagai idiom Inggris sejak akhir kurun itu atau awal 1970-an. Kamus tersebut merumuskan counter-culture, atau counterculture dalam ejaan Anglo-Amerika, sebagai ’mode of life deliberately deviating from established social practices’. Jadi, budaya tanding mengacu pada gaya hidup yang menyimpang dari praktik sosial yang telah mapan.

Secara sosiologis budaya tanding mencerminkan konflik antargenerasi di Amerika ketika anak-anak muda menolak nilai, norma, dan perilaku budaya dominan kaum tua yang mereka pandang hegemonik dan memberlakukan kebenaran tunggal. Gerakan itu melibatkan mahasiswa Kiri Baru dan kaum bohemian yang gandrung membaca Hesse, Freud, dan Marx, menikmati musik jazz, lagu folk, dan menenggak narkoba dan mengulum seks bebas, tetapi juga menggalang protes politik. Mereka mengembangkan sikap egalitarian dan menolak etos rakus kapitalisme seperti terungkap dalam America’s Uncivil Wars karya Mark Hamilton Lytle terbitan 2006.

Api budaya tanding menyala jauh sebelum generasi enam puluhan itu. Sejak awal sejarahnya, ajaran Kristen di Barat dipandang sebagai bentuk budaya tanding terhadap Yahudi Yerusalem dan kemudian Roma Pagan. Sosiolog Amerika, Milton Yinger, dan sejarawan Inggris, Christopher Hills, menemukan larik teks dalam Kisah Para Rasul yang mencerminkan semangat itu: Orang-orang yang telah/menjungkirbalikkan dunia/juga telah tiba di sini.

Dihayati secara mendalam, ungkapan budaya tanding mestinya bisa menumbuhkan sifat kompetisi yang sehat dan kreatif.

Pihak yang merasa tersentil oleh suatu terbitan buku, misalnya, tidak lantas main borong, lapor, larang, atau membakar buku itu, tetapi membalasnya dengan menulis buku pula. Ricuh pilkada mestinya juga bisa dihindari dengan cara adu program kerja yang bermutu dari calon pemimpin yang berlaga.

Sumber gambar: Wikimedia Commons.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s