Tujuh

KOMPAS, 31 Des 2010. Samsudin Berlian: Pemerhati Makna Kata.

Bagi banyak orang, tujuh itu keramat, penting sekali dalam utak-atik angka keberuntungan. Dalam bahasa Indonesia pun kita mengenal ungkapan-ungkapan seperti tujuh keliling, tujuh bulanan, penujuh hari, sampai tujuh turunan, langit ketujuh, dan bintang tujuh.

Tujuh sudah dianggap istimewa sejak awal peradaban manusia yang lahir di Mesopotamia, negeri di antara dua sungai: Efrat dan Tigris. Ketika imam-imam Sumeria, Akad, Babilonia, serta penerus-penerus mereka di negeri para Firaun sampai ke Laut Tengah di negeri Helen (Gerika) dan menengadah ke langit, mereka melihat bintang-bintang yang selalu beredar tapi tidak pernah pindah tempat satu sama lain seperti titik-titik cahaya di kanvas Ilahi yang bergulir dari Timur ke Barat, tidak pernah berubah, abadi.

Kecuali tujuh! Ketujuh benda langit yang suka berkeliaran itu, yang berpindah-pindah posisi dibandingkan dengan bintang-bintang lain, dari yang paling lincah sampai yang paling lamban—dan karena itu dianggap dari yang paling dekat atau rendah sampai yang paling jauh atau tinggi—adalah Bulan, Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Yupiter, dan Saturnus. Oleh orang Gerika, yang tujuh ini disebut planetes, pengembara. Zaman sekarang Matahari dan Bulan tidak lagi dianggap planet dan kita menambahkan Uranus, Neptunus (yang tidak terlihat oleh para ahli perbintangan zaman kuno), serta Bumi sendiri sebagai anggota planet-planet di tatasurya kita.

Ketujuh pengembara itu dianggap beredar di lapisan-lapisan tersendiri di atas bumi. Itulah sebabnya langit pun dianggap berlapis tujuh. Sebagai penghormatan terhadap para planet ini, diciptakanlah sistem penghitungan waktu selama seminggu. Minggu merupakan satuan waktu pertama bikinan manusia, yang masih berlaku dalam kalender internasional sampai hari ini, yang tidak berlandaskan pada peristiwa alam. Ia berbeda dari hari, bulan, dan tahun yang masing-masing berdasarkan rotasi Bumi, revolusi Bulan terhadap Bumi, dan revolusi Bumi terhadap Matahari.

Hari-hari dalam seminggu dinamai menurut planet-planet itu. Itulah sebabnya dalam bahasa Inggris kita masih mengenal hari Matahari (Sunday), hari Bulan (Monday), dan hari Saturnus (Saturday). Dalam bahasa-bahasa Eropa lain, misalnya Italia yang dicontohkan di sini, masih ada hari Mars (martedì), hari Merkurius (mercoledì), hari Yupiter (giovedì), dan hari Venus (venerdì).

Planet-planet di lapisan langit masing-masing bersama dengan rasi-rasi bintang dianggap dewa-dewi yang menentukan kejadian-kejadian dan nasib manusia di muka Bumi—kepercayaan astrologi yang setelah 5.000 tahun masih laris manis sampai sekarang. Karena yang ilahi itu sempurna, angka tujuh pun menjadi angka kesempurnaan. Angka bagus, angka baik yang dinanti-nanti dan dikejar-kejar oleh penganut mistik dan klenik.

Bila dikurangi, angka yang sempurna itu pun menjadi tidak sempurna. Itulah sebabnya enam menjadi angka yang melambangkan ketidaksempurnaan. Dan apabila disebutkan tiga kali, jadilah ia angka paling tidak sempurna, paling sial, paling menakutkan, bahkan angka si jahat sendiri: 666.

Sumber ilustrasi: columbia.edu

Iklan

3 thoughts on “Tujuh

  1. lho… ujungnya kok jadi yang begitu ya…
    setahu saya angka sial umumnya angka 13. nah…, di Sunda mah yang sial itu 12, sehingga ada sebutan cilaka 12. Lain lagi di perumahan saya. selain tidak akan ditemukan rumah bernomor 13, pasti tidak akan ditemukan rumah bernomor 4 karena katanya itu dalam bahasa Cina berarti ‘mati’. halah…. aya-aya wae. jaman segini canggihnya masih percaya hal begituan…

    • Betul juga, tidak ada angka 13 di perumahan yang belum lama saya kunjungi. Lokasinya di Bogor, daerah Ciomas, dari 12 ke 12A dan langsung ke 14. Begitu iseng-iseng saya tanyakan, pengembangnya hanya tersenyum. Sayang, karena baru tahu nomor 4 itu menandakan kematian, saya tidak memperhatikan angka ini. Mungkin pula ini ada kaitannya dengan Feng-shui, ya sama-sama kepercayaan animisme, orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yang Maha Esa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s