Geografi dan Geopolitik

Majalah Tempo, 3 Jan 2011. Kasijanto Sastrodinomo: Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

DALAM sebuah diskusi di ruang kelas, seorang mahasiswa bertanya: tepatkah kita mengistilahkan timur tengah bagi kawasan atau kelompok negara (berbahasa) Arab. Pertanyaan bagus karena orientasi geografis kita terhadap wilayah itu rancu. Dilihat dari tempat kita berpijak di Indonesia, kawasan negara tersebut terletak di belahan barat. Mungkin, tanpa sadar, selama ini kita hanya mengikuti dan menerjemahkan begitu saja istilah middle east rekaan orang Barat bagi wilayah itu. Jadi, timur tengah, dari sudut pandang kita, merupakan istilah salah kaprah.

Di Fakultas Sastra (sekarang Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia, studi tentang masyarakat dan budaya Arab berada dalam Jurusan Asia Barat. Secara tak langsung nama jurusan itu meluruskan kesalahkaprahan istilah timur tengah yang telanjur populer. Negara-negara Arab yang tercakup dalam Asia Barat memang hanya yang berada di lahan Benua Asia, mulai Semenanjung Arab sampai Persia atau Iran. Sementara itu, kelompok negara Arab yang terletak pada irisan utara Benua Afrika-Maroko, Aljazair, dan Tunisia-disebut negeri Maghribi, bertetangga dengan Libya dan Mesir. Jika cara pandang Barat bertolak dari Benua Asia, istilah geografi untuk keseluruhan wilayah budaya Arab adalah Southwest Asia, yang terasa lebih netral.

Namun timur tengah memang bukan sekadar istilah wilayah geografi, melainkan lebih sebagai konsep geopolitik yang dikonstruksi Barat dan sekutunya. Timur Tengah, kita tahu, adalah “wilayah panas” yang tak kunjung padam. Di Timur Tengah, tulis George Lenczowski dalam The Middle East in World Affairs (1962), proses politik berlangsung dalam kondisi masyarakat yang tidak berdemokrasi terbuka, dan kehidupan politik di sana acap kali “bersifat komplotan” antara sejumlah negara Barat dan kekuatan politik lokal. Artinya, timur tengah juga bisa dikatakan sebagai istilah yang lahir dari hasil perkomplotan itu.

Istilah Southeast Asia atau Asia Tenggara ditemukan tentara Sekutu pada akhir Perang Dunia II, ketika mereka mencari pangkalan untuk mengamankan situasi kawasan seusai perang. Searah dengan penglihatan Barat, kita pun ikut menyebut Asia Tenggara karena kebetulan posisi wilayah geografis Indonesia termasuk di dalamnya. Serupa tapi tak sama dengan Timur Tengah, Asia Tenggara menjadi konsep geopolitik yang tak kalah rumit. Di balik tamsil indah, “zamrud khatulistiwa” (setidaknya bagi Indonesia), Asia Tenggara sejatinya suatu “ikatan” yang rapuh sebagaimana konsep shatter belt dalam ilmu bumi terhadap kawasan itu (lihat H.J. de Blij dan Peter O. Muller, Geography: Region and Concepts, 1992).

Proses pembentukan geopolitik global telah lama bermula dan matang pada abad ke-19 saat kuasa kolonial menetapkan politik partition alias bagi-bagi kavling daerah jajahan di antara mereka. Wilayah dunia dipecah-pecah menjadi koloni demi kepentingan kapitalisme industri Barat. Afrika mengalami partisi paling menyayat karena hampir seluruh wajah benua itu dirajang oleh kekuasaan kolonial, seperti tampak dalam istilah (versi Inggris) French West Africa, French Equatorial Africa, French Congo, Belgian Congo, British East Africa, British Somaliland, Anglo-Egyptian Sudan, German East Africa, Portuguese Guinea, Spanish Morocco, dan lain-lain, yang dimiliki “tuan koloni” yang berbeda-beda (lihat D. K. Fieldhouse, The Colonial Empires, 1985).

Bagi Inggris, Far East bukan cuma wilayah timur di kejauhan tetapi juga ladang bahan baku industri dan pasar raya. Pikiran serupa terbaca pada sebutan Oost-Indië dalam politik jajahan Belanda di Hindia Belanda; sementara West-Indië dikenakan bagi koloni mereka di Suriname dan Karibia. Di mata Prancis, la Maghreb adalah metafora romantik tentang negeri elok tempat memandang matahari lingsir di ufuk barat sekaligus jalur perdagangan yang strategis.

Jangan lupa, Nipon, “saudara tua” kawasan Asia, menciptakan ungkapan hoko-jin nan-butsu yang berarti “di sebelah utara adalah manusia, selatan adalah benda dan tenaga”. Jargon itu menggambarkan superioritas Jepang (“utara”) yang memiliki sumber daya manusia unggul, sementara Indonesia atau wilayah ekspansi lain di Asia (“selatan”) menyediakan sumber daya alam dan tenaga kerja. Tak mengherankan jika pada 1930-an, sebelum menginvasi Indonesia, Jepang ikut membiayai surat kabar Sinar Selatan pimpinan wartawati kondang S.K. Trimurti, yang terbit di Semarang. Nama koran itu mungkin cermin harapan sang Saudara Tua.

Muatan politik dalam geografi terus berlanjut selepas dekolonisasi. Yang populer tentu saja Timur dan Barat yang dibingkai dalam ideologi besar: sosialisme vis-à-vis kapitalisme. Demikian pula Utara dan Selatan pada beberapa bagian wilayah dunia merupakan “turunan” dari Timur dan Barat. Kini, Utara-Selatan merepresentasikan negara berkembang dan maju yang saling bergandengan-bagi yang tak percaya akan melihatnya sebagai bentuk kolonialisme gaya baru.

Sumber ilustrasi: HongPong.com.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s