Masih tentang Sewa

KOMPAS, 7 Jan 2011. Rainy MP Hutabarat: Cerpenis.

Hipotesis Mulyo Sunyoto bertajuk ”Matinya Penumpang” di rubrik ini awal Desember 2010 menyatakan bahwa pemunculan sebutan sewa di lingkungan pengangkut umum di Jakarta adalah untuk membedakan ”membayar” dan ”tidak membayar”. Mulyo menelusuri akar kata penumpang dalam bahasa Indonesia: tumpang ’turut, ikut serta, membonceng tanpa kewajiban membayar’. Karena alasan inilah kenek pengangkut umum di Jakarta menyebut sewa dan bukan penumpang.

Hipotesis Mulyo dibantah oleh F Rahardi yang menelusuri penggunaan kata sewa dari sudut sosiohistoris. Menurut F Rahardi, kata sewa bersumber dari kosakata Batak Toba, mulai marak dipakai pada 1970-an tatkala etnisitas Batak ramai memasuki Jakarta.

Kata sewa yang digunakan kenek di Jakarta tak berkait-paut dengan pembedaan ”membayar” dan ”tak membayar”. Kata tumpang dengan makna ’naik tanpa kewajiban membayar’ justru muncul belakangan dan berasal dari frasa penumpang gelap.

Saya termasuk pengguna pengangkut umum darat di Jakarta: angkot, mikrolet, Metromini, Mayasari Bakti, (dulu) Patas AC, dan kini Transjakarta. Kenyataannya, ”perilaku” awak pengangkut umum darat di Jakarta tak bisa disamaratakan. Angkot dan mikrolet umumnya tak menggunakan kenek. Penumpang naik dengan memberi kode tangan terulur. Patas AC pada awalnya menggunakan kotak mesin otomatis yang diletakkan di samping supir, tepat di atas tangga. Penumpang wajib memasukkan sejumlah ongkos yang ditetapkan ke dalam kotak mesin, barulah ia bebas melenggang ke kursi. Untuk Transjakarta, penumpang dilayani secara terpusat oleh petugas di halte. Tiap penumpang cukup membeli karcis sekali jalan untuk tiba di tempat tujuan yang menjadi rute Transjakarta. Kesimpulannya, angkot, mikrolet, apalagi Patas AC dan Transjakarta, tak memerlukan teriakan sewa dari kenek.

Kini di Jakarta hanya Metromini, Kopaja, dan Mayasari yang menggunakan kenek. Kata sewa jarang dipakai di lingkungan awak Mayasari. Tatkala penumpang berjejal, kenek hanya mengetukkan koin dengan keras ke kaca atau dinding bus. Menurut saya, kata sewa digunakan lebih karena alasan praktis. Ia menunjuk kepada semua penumpang yang diasumsikan membayar ongkos. Pengucapan (diksi) kata sewa lebih ”bunyi” ketimbang penumpang. ”Sewaaa, tahaaan!”, ”Tahaaan! Sewaaa!” ”Geeiiirr! Sewaa!” Mengapa kenek tidak meneriakkan kata berhenti atau stop? Mengapa kata tahan dan geiiir? Padahal, kata tahan jelas bukan padanan stop atau berhenti.

Sewa bukan dari kosakata Batak sebagaimana pendapat F Rahardi. Kata sewa memang digunakan oleh kenek etnisitas Batak Toba, tapi tak berasal dari kata Batak Toba. Masyarakat Batak Toba bahkan kurang kenal transaksi sewa-menyewa. Padanan sewa dalam bahasa Batak Toba adalah ongkos dan tuhor (Batak Karo: tukur). Tuhor memperlihatkan pengaruh bahasa Melayu: tukar. Menurut saya, kata sewa tergolong ragam ”bahasa Medan” sebagaimana kata nembak (tak membayar), balen (imbalan), pencorot (paling akhir), dan seterusnya. Selain alasan praktis, penggunaan kata sewa lebih merupakan bentuk kreativitas dalam berbahasa lisan, seperti halnya bahasa prokem dan alay. Apalagi kata sewa dan penumpang—meski tekanannya berbeda—sama-sama diartikan ’menggunakan dengan membayar’.

Bahasa adalah konvensi sosial yang hidup dan berkembang. Makna asal atau awal bisa bergeser atau bertambah seturut kreativitas pengguna.

Iklan

One thought on “Masih tentang Sewa

  1. Saya suka dengan dua kalimat terakhir pada paragraf pamungkas di atas, bahkan tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa keduanya hampir bisa menjawab setiap analisis diksi atau penggunaan/pemilihan kata dalam ranah atau konteks sosial-budaya masyarakat kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s