Vokal “eu”

Pikiran Rakyat, 8 Jan 2011. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Dalam bahasa Indonesia vokal hanya ada enam, yaitu “a”, “i”, “u”, “e”, “e” dan “o”. Akan tetapi, dalam bahasa Sunda dan Aceh, masih ada satu vokal lagi, yaitu “eu”. Dalam bahasa Bali juga terdapat vokal “eu”, tetapi hanya pada suku kata akhir yang terbuka dengan vokal “a”, seperti pada kata “pedanda” diucapkan “pedandeu”, “pura” diucapkan “pureu”, dan lain-lain. Akan tetapi, dalam bahasa tulisan vokal “eu” itu tidak terdapat dalam bahasa Bali

Karena dalam kebanyakan bahasa lain tidak terdapat vokal “eu”, timbul masalah bagi mereka ketika membaca dalam peta nama-nama tempat di Tatar Sunda atau Aceh yang menggunakan vokal “eu” seperti “Pameungpeuk”, “Cilauteureun”, “Cicaheum”, “Meulaboh”, “Seulimeum”, dan “Peureulak”.

Pelukis Wim Nirahua yang berasal dari Indonesia Timur pernah bercerita kepada saya bahwa ketika di sekolah, dia bersama-sama kawan-kawannya, begitu juga gurunya, mengucapkan “Pameungpeuk” sebagai “Pame-ungpe-uk”, “Cilauteureun” sebagai “Cilaut-e-ure-un”.

Memang karena dalam bahasa Indonesia tidak dikenal vokal “eu”, nama-nama kota dalam peta yang ditulis dengan vokal eu” menimbulkan masalah dalam mengucapkannya bagi mereka yang dalam bahasa ibunya tidak mengenal vokal “eu”. Apalagi kalau guru yang mengajarnya pun tidak mengetahui bahwa dua huruf ganda “eu” itu harus dibaca dengan suara yang mungkin tidak dikenalnya juga.

Dalam bahasa Sunda memang banyak kata yang mempergunakan vokal “eu” seperti “meureun”, “beureum”, dan “geunteul”. Bagi anak-anak Sunda sekarang cara menulis vokal “eu” itu menjadi masalah besar. Kebanyakan mereka tidak bisa membedakan cara menulis vokal “eu” dengan vokal “e” (lemah) sehingga “meureun” mereka tulis “mereun”, “beureum” mereka tulis “berem”, “geunteul” mereka tulis “gentel”. Hotel di Jalan Pasteur Bandung di atas pintu depannya menyambut tamu dengan kalimat “Wilujeung Sumping”, seharusnya “Wilujeng Sumping”. Kesalahan tulis begitu yang mengelirukan cara menuliskan vokal “eu” dan “e” sekarang termasuk umum baik dalam surat pribadi, pengumuman-pengumuman resmi bahkan juga dalam majalah-majalah.

Dalam menyerap kata-kata dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia, dengan sendirinya kata-kata yang mempergunakan vokal yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia akan tersisihkan.

Akan tetapi, yang mengherankan, ada kata-kata bahasa Sunda yang mempergunakan vokal “eu” menjadi populer digunakan dalam bahasa Indonesia, anehnya bukan oleh orang-orang Sunda, melainkan wartawan-wartawan dan penulis “orang seberang”, yaitu kata “baheula”, “peuyeum”, belakangan juga kata “keukeuh” yang kadang-kadang ditulis “kekeuh”. Saya tidak tahu bagaimana si penulis mengucapkan kata-kata itu, apakah bisa menirukan vokal “eu” dalam bahasa Sunda seperti orang Sunda mengucapkannya ataukah tidak.

**

Dalam sejarah penulisan bahasa Sunda dengan huruf Latin (yang pada mulanya dilakukan oleh orang-orang Belanda, Prancis, Inggris, dan orang asing lainnya yang tertarik dengan bahasa Sunda, untuk menuliskan vokal “eu” pernah digunakan huruf “e” (sama dengan cara menulis vokal “e” lemah), pernah pula digunakan huruf “ö”, di samping “eu”. Akhirnya ejaan D.K. Ardiwinata (1912) menetapkan bahwa vokal “eu” ditulis dengan “eu”. Cara penulisan itulah yang sejak 1912 digunakan dalam bahasa Sunda.

Akan tetapi, dalam lokakarya ejaan Basa Sunda yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1972 oleh LBK (Lembaga Bahasa dan Kesusasteraan) yang kemudian menjadi Pusat Bahasa bekerja sama dengan LBSS (Lembaga Basa jeung Sastra Sunda) diputuskan bahwa dalam EYD bahasa Sunda vokal “eu” ditulis dengan huruf “ö”. Namun, keputusan itu dibatalkan dalam lokakarya ejaan bahasa-bahasa daerah di Yogyakarta beberapa waktu sesudahnya, juga diselenggarakan oleh LBK yang hendak menetapkan ejaan yang hendak dipergunakan dalam penulisan bahasa-bahasa daerah Bali, Jawa, dan Sunda. Seperti yang saya tulis dalam autobiografi saya “Hidup tanpa Ijazah” (Pustaka Jaya, Jakarta, 2008, h. 492-294), yang mengherankan dalam pertemuan di Yogyakarta itu orang-orang yang punya pokal dan menyetujui penggantian penulisan vokal “eu” dengan “ö” dalam bahasa Sunda tidak ada yang diundang untuk hadir. Malah yang mewakili penerbit adalah orang yang berkepentingan mempertahankan pemakaian “eu” sebab banyak bukunya yang sudah dicetak dengan mempergunakan ejaan lama. Maka, Ayatrohaedi yang empunya pokal untuk mengganti penulisan vokal “eu” dengan “ö” sejak itu tidak mau lagi menulis dalam bahasa Sunda untuk dimuat dalam majalah-majalah bahasa Sunda yang kembali atau tetap mempergunakan “eu”. Suatu hal yang sangat disayangkan karena dengan demikian Ayat tidak lagi menyumbangkan pikiran-pikirannya secara tertulis dalam bahasa Sunda, padahal perhatiannya sangat besar terhadap sejarah dan arkeologi Tatar Sunda.

Iklan

3 thoughts on “Vokal “eu”

  1. Bingung mau komentar apa, berhubung tidak paham bahasa Sunda. Yang pasti, artikel ini menambah wawasan saya. Terima kasih, Mang Ajib :)

  2. Penulisan vokal eu memang sangat mengkhawatirkan. Tidak hanya di kalangan anak muda. Orang dewasa juga banyak menulis huruf e untuk bunyi eu. Padahal apa susahnya? Eu pada pareum dan e pada simpen jelas sekali beda bunyi, berarti harus beda penulisan juga.
    Benar sekarang malah di balik. Lebak jadi leubak. Punten jadi punteun. Tapi meureun jadi meren.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s