Baham dan Ganyang

KOMPAS, 14 Jan 2010. Kasijanto Sastrodinomo: Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Sehari setelah skuad bola Malaysia ungguli laskar Indonesia dalam final putaran pertama perebutan kusala AFF 2010 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, saya menerima kiriman ”bahasa laga bola” gaya Melayu. Pengirimnya, Samsul Kamil Osman, seorang kawan asal Kelantan yang bekerja pada Kementerian Pendidikan di sana, bilang bahwa berbagai ungkapan itu merupakan ”mainan jurnalis koran popular” di negerinya. Dia kirimkan antara lain tajuk berita yang berbunyi ”Indonesia Tersungkur, Dibaham 3-0”, lalu ”Harimau Malaya Tekad Baham Garuda”, dan semacamnya.

Dua judul berita itu menggunakan kata baham sebagai verba. Menurut empunya bahasa, seperti terekam dalam Kamus Dewan Edisi Keempat (2005), kelompok arti pertama baham, membaham adalah ’makan dengan geloyoh’ alias lahap atawa rakus. Kalimat contohnya, ”Harimau itu membaham kambing yang menjadi mangsanya.” Arti kedua baham tak kalah seram: ’melakukan kekerasan sesuka hati ke atas seseorang seperti memukul, menyéksa, dan sebagainya’, dengan kalimat contoh, ”Dia membaham pencuri itu dengan sebatang kayu.” Terakhir, arti ketiga baham adalah ’memamah (makan) makanan dengan mulut tertutup’, disisipkan idiom membaham tanah yang bermakna ’memakan tanah’ dan ’mati, mampus’.

Kata itu juga masuk dalam entri Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat (2008) dengan penjelasan ’memakan (memamah) dengan mulut tertutup’—mirip arti ketiga pada Kamus Dewan tersebut. Meski terdaftar dalam KBBI, boleh jadi baham tak dikenal atau diucapkan oleh kebanyakan penutur bahasa Indonesia. Kosakata Indonesia yang sebobot dengan baham adalah ganyang yang diserap dari bahasa Jawa. Dalam KBBI, kata ganyang dijelaskan dalam tiga gugus arti: (1) memakan mentah-mentah, memakan begitu saja; (2) menghancurkan, mengikis habis; dan (3) mengalahkan lawan dalam pertandingan. Arti ketiga menyiratkan bahwa kata itu masuk ke arena sportif.

Sementara itu, Kamus Dewan tidak mencadangkan makna kiasan baham sebagai ”bahasa lomba”, melainkan semata-mata kata kerja yang mencerminkan tindakan keras atau kasar. Pebola Malaysia juga dicitrakan, atau mencitrakan diri, sebagai harimau seperti halnya kalimat contoh dalam Kamus Dewan tersebut. Hal itu makin jelas dalam kepala berita yang lain kiriman kawan saya itu, ”Harimau Malaya Mendarat”, yang melukiskan bahwa sang pembaham telah tiba dan siap mencabik-cabik mangsa.

Belum jelas apakah penggunaan baham itu juga membahasakan ”kesempatan” bagi Malaysia untuk membalas kata ganyang yang pernah diluncurkan Indonesia ke negeri semenanjung itu pada 1960-an. Kala itu seruan ”Ganyang Malaysia!” menjadi jargon politik konfrontasi pemerintahan Presiden Soekarno untuk menentang pembentukan negara Malaysia. Dalam pandangan Indonesia ketika itu federasi Tanah Melayu merupakan ”proyek nekolim” yang harus digagalkan. Namun, pengganyangan urung karena Malaysia dibela Inggris, sang ”nekolim” itu.

Ungkapan ganas dalam arena sukatan, seperti bola sepak, tentulah biasa untuk membangkitkan semangat bertanding. Kita hanya berharap, pembahaman ataupun pengganyangan tidak mewujud secara harfiah bagi kedua bangsa yang konon serumpun itu. Tabik, Encik.

Sumber foto: ayam-berkokok.blogspot.com.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s