Kamisosolen

Majalah Tempo, 17 Jan 2011. Kasijanto Sastrodinomo: Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

SEGMEN obrolan dalam acara berita pagi di sebuah stasiun televisi swasta belum lama berselang membahas soal wali kota yang melantik anak buahnya di penjara. Sang wali kota sedang ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi karena dugaan korupsi anggaran pemerintahan di daerahnya. Saat membuka acara, pemandu acara mengatakan bahwa kejadian itu merupakan preseden yang bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap”pemerintahan SBY dan juga Boediono”. Tak ada keberatan terhadap substansi kata pengantar itu. Namun, penggunaan kata juga bisa menimbulkan pengertian bahwa ada dua pemerintahan, yaitu pemerintahan SBY dan pemerintahan Boediono. Bukankah cukup disebut”pemerintahan SBY” saja.

Beberapa hari sebelumnya, reporter stasiun televisi swasta yang lain melaporkan persiapan laga bola Liga Primer Indonesia di Solo. Berlatar belakang lanskap Stadion Manahan, Mbak Reporter dengan antusias menyebutkan bahwa di tempat itu “akan berlangsung pertandingan kesebelasan Solo FC dan juga Persema Malang”. Lagi, di sini bisa timbul pengertian: ada dua kesebelasan, Solo FC dan Persema, yang akan menghadapi lawan main masing-masing. Pertanyaannya, siapakah lawan Solo FC, dan siapakah lawan Persema dalam tanding itu-padahal kita tahu dua kesebelasan itulah yang sebenarnya akan bertarung. Mestinya laporan itu berbunyi,”akan berlangsung pertandingan kesebelasan Solo FC melawan [atau versus] Persema”.

Akhir Agustus lalu, stasiun televisi”dialog” menampilkan diskusi tentang rusuh massa yang menghadirkan dua narasumber tamu. Pembaca berita, sekaligus pemandu diskusi, mengenalkan tamunya begini:”Telah hadir di studio, Dr. Tamrin Amal Tomagola, sosiolog dari Universitas Indonesia, dan juga Chairuman Harahap dari Komisi III DPR.” Sepintas tak ada yang aneh pada kalimat itu dan cukup jelas sebagai kelaziman awal diskusi. Namun sisipan kata juga untuk mengenalkan pembicara kedua tersebut bisa bermasalah.

Menurut Harimurti Kridalaksana, juga termasuk adverbia yang dapat mendampingi adjektiva, numeralia, atau proposisi dalam konstruksi sintaksis (lihat Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia, 2007). Jadi, apakah dalam diskusi tersebut pembicara kedua hanya sebagai”pendamping” yang pertama? Biasanya dalam panel seperti itu kedudukan para pembicara bersifat setara, jadi hanya perlu kata hubung dan untuk membentuk struktur kalimat yang berfungsi mempersatukannya.

Ternyata penerapan juga yang tidak tepat guna itu terus berulang dan berjangkit merata di kalangan jurnalis televisi, baik penyiar di studio maupun reporter di lapangan. Pernah, dalam suatu talkshow yang melibatkan empat narasumber, moderator”sempat-sempatnya” menyebut tiga kali kata juga untuk mengenalkan pembicara kedua sampai keempat. Kesalahan telak terjadi dalam dialog tentang satu tahun kinerja Kabinet Indonesia Bersatu II, tengah Oktober lalu, saat pemandu acara menyebut”Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan juga Perlindungan Anak”-yang tentu saja tidak tepat.

Barangkali, para jurnalis layar kaca itu mencari “kata pelancar” dalam ujaran lisan mereka dan hal itu ditemukan pada kata juga. Atau, boleh jadi terjadi gejala kamisosolen yang khas dalam kelisanan.

Dikenal dalam khazanah bahasa Jawa, kamisosolen adalah keseleo lidah penutur terhadap kata tertentu (biasanya, meski tak selalu, yang sulit dieja-ucapkan); atau mencomot kata yang sebenarnya tak diperlukan tetapi terucap begitu saja seakan tanpa rem.

Faktor psikologis penutur sering jadi pemicu kamisosolen, seperti gugup, antusias berlebih, atau terburu-buru. Dalam memberitakan peristiwa tertentu, reporter televisi kadang terkesan tak dapat mengendalikan emosinya sehingga kurang cermat memilih kata yang akan diucapkan di depan kamera.

Selain penggunaan kata juga, gejala kamisosolen terlihat dalam pengucapan dua kata bersinonim secara borongan sehingga lewah-biasanya pasangan agar-supaya, disebabkan-karena, kalau-seandainya, dan lalu-kemudian. Si Jelita pemandu acara kabar malam di sebuah stasiun televisi berita sering mengucapkan lalu kemudian kepada narasumbernya, semisal “Jika kasus Bank Century tidak tuntas, lalu kemudian apa yang akan dilakukan DPR?” Adakalanya juga berkombinasi antara lain muncul tanpa guna. Seorang reporter melaporkan, empat tersangka perkara suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia telah diadili, “antara lain DMM, HY, ES, dan juga UD”. Jika suatu numeralia sudah dirinci semua, antara lain jadi mubazir.

Mungkin ini soal kecil dan”sangat teknis”. Tapi, karena sering berulang, rasanya jadi mengganggu penonton televisi. Besar kemungkinan, para pemandu berita dan pelapor di lapangan tidak menyadari kekeliruan kecil itu sehingga patut dimaafkan-dengan harapan mereka lebih meningkatkan konsentrasi saat tampil di depan kamera.

Sumber gambar: logo-lambang-emblem.blogspot.com.

Iklan

2 thoughts on “Kamisosolen

  1. Ping-balik: Tweets that mention Kamisosolen « Rubrik Bahasa -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s