Karena Kita Bukan Sapi

Majalah Tempo, 24 Jan 2011. Toriq Hadad: Wartawan Tempo.

Meski “sepi” prestasi, sepak bola Indonesia tak pernah sepi cabuh. Yang terbaru: Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bertelingkah melawan Liga Primer Indonesia (LPI). Dari keributan yang belum tampak ujungnya itu, tiba-tiba kata “merumput” lebih sering dipakai media massa dan diucapkan presenter televisi.

Sebuah berita media online berjudul: “Pemain Bola Berdarah Indonesia Merumput di Luar Negeri”. Kita tahu kata “merumput” di sini punya arti bermain atau bergabung dengan (klub atau negara). Berita yang lain: “Firman Utina Merumput, Irfan Bachdim Disimpan?” Di sini arti kata “merumput” sedikit bergeser: diturunkan (dalam pertandingan), dimainkan, dipasang.

Ada ketidaksetaraan dalam peran subyek berita pada dua judul berita tadi. Dalam contoh pertama, subyek berita-yakni pemain bola berdarah Indonesia-secara aktif menentukan pilihan, menetapkan kemauan dan kehendak sendiri. Sedangkan Firman Utina tidak bebas menentukan pilihan antara turun ke lapangan dan duduk di bangku cadangan. Pelatih tim nasional Indonesia Alfred Riedl-lah yang memutuskan Firman turun bertanding atau duduk di bangku pemain serep.

Ini baru satu masalah penggunaan kata bentukan “merumput” itu. Tapi adakah perbedaan ini masalah tata bahasa atau selera belaka? Kalau menyangkut selera, ungkapan Latin mengatakan de gustibus non disputandum est. Tak ada perbedaan pendapat soal selera. Pendapat tentang selera tak pernah obyektif salah atau benar, ketidaksamaan pendapat tentang selera tak bisa diselesaikan.

Contoh pemakaian kata “merumput” berikut ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan soal selera semata. “Peternak Merumput di Rawa Pening karena Kemarau”, demikian judul sebuah berita di Internet. Pasti kata “merumput” di sini tak ada urusannya dengan bermain sepak bola. Tentu juga jauh dari urusan transfer pemain sepak bola dari suatu tempat ke Rawa Pening FC ataupun Persatuan Sepak Bola Rawa Pening-seandainya benar-benar ada klub sepak bola itu di sana.

Menambah awalan “me-” pada kata benda menghasilkan kata kerja dengan subyek yang berkepentingan dengan benda tersebut. Subyek pada kata kerja “melantai”, misalnya, berkepentingan dengan lantai. Tak mungkin melantai atawa berdansa dilakukan di atas bidang yang bukan dinamakan lantai atau dasar. Itu sebabnya, pasangan penyelam yang berdansa di dalam air, umpamanya, tidak cocok disebut sedang melantai-kecuali dilakukan di dasar kolam renang yang berlantai

Mari kita lihat contoh lain. Kata benda cangkul, gergaji, dan ampelas, bila mendapat awalan “me-” menghasilkan kata kerja mencangkul, menggergaji, dan mengampelas. Sub-yek pada kata kerja itu pasti berkepentingan atau bekerja dengan benda yang membentuk kata kerja itu. Petani bekerja dengan cangkul, tukang kayu dengan gergaji dan ampelas.

Bila kita konsisten dengan kaidah ini, subyek pada kata “merumput” semestinya berkepentingan dengan rumput. Peternak di Rawa Pening tadi tak berkepentingan atau bekerja dengan rumput, melainkan dengan sabit atau arit untuk memotong rumput-pekerjaan yang biasa disebut menyabit atau mengarit rumput, bukan merumput.

Subyek yang tepat memakai kata kerja “merumput” adalah sapi, kerbau, kambing. “Sapi Banpres Merumput di Taman Istana”. Di sini sapi jelas berkepentingan sekaligus “bekerja” dengan rumput–yakni memamah rumput.

Jelas, pemain sepak bola tidak berkepentingan dengan rumput–kecuali sang pemain punya sapi dan sedang menyabit rumput untuk makanan sapinya–tapi dengan bola. Pemain sepak bola bisa saja bermain tidak di atas rumput, melainkan di atas permukaan pasir, es (bila musim salju tiba), atau lantai. Tapi pemain sepak bola mutlak berkepentingan dengan bola. Tanpa ada bola, walaupun pemain berkostum lengkap dan berkejar-kejaran di lapangan rumput, kegiatannya tak bisa disebut bermain sepak bola. Pemain yang berkejaran tadi tentunya juga tak bisa disebut pemain sepak bola.

Lagi pula, bila “merumput” dipakai untuk menunjuk permainan sepak bola, penyebutan itu tidak selalu tepat. Turnamen tenis Wimbledon diselenggarakan di lapangan rumput, toh tak pernah ada berita “Serena Williams Gagal Merumput di Wimbledon”. Golf dimainkan di atas rumput, tapi media tidak pernah menulis “Tiger Woods Kembali Merumput di US Masters”.

Kompas.com pada 11 Juli 2009 menurunkan berita “Batistuta Kembali Merumput”. Semua yang membaca judul berita itu pastilah menebak bekas pemain tim nasional sepak bola Argentina itu kembali bermain sepak bola setelah lama pensiun. Ternyata keliru. Gabriel Batistuta, yang sekarang berusia 40 tahun, sedang getol bermain polo-yang pemainnya menunggang kuda, mengayun tongkat untuk memasukkan bola ke gawang.

Usaha memperkaya bahasa senantiasa perlu disokong. Tapi bahasa kita juga dipelajari orang asing, yang memerlukan kejelasan kaidah berbahasa.

Bila awalan “me-” yang diikuti kata benda melahirkan kata kerja yang bisa menunjuk sejumlah kegiatan, bergantung pada konteks dan subyeknya, betapa pusing orang mempelajarinya.

Maka relakan “merumput” dipakai oleh hamba Tuhan selain kita: sapi dan rekan-rekan sebangsanya. Kita jangan merebut “hak” mereka.

Sumber gambar: Wikimedia Commons.

Iklan

2 thoughts on “Karena Kita Bukan Sapi

  1. Ping-balik: Dulu, Lalu Merumput « Rubrik Bahasa

  2. Ping-balik: Dulu, Lalu Merumput | Lidahibu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s