Warna

Pikiran Rakyat, 29 Jan 2011. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal bermacam-macam warna seperti putih, hitam, merah, biru, kuning, cokelat, hijau, dan lain-lain. Warna dibedakan berdasarkan pandangan mata kita, yang menerima pantulan cahaya terhadap benda yang kita lihat. Akan tetapi, tidak semua mata dapat membeda-bedakannya. Ada orang yang sejak lahir tidak bisa membedakan warna, sehingga dia disebut sebagai orang yang buta warna.

Warna tertentu dalam masyarakat tertentu mempunyai arti tertentu, yang mungkin tidak sama dengan arti yang terdapat dalam masyarakat lain. Kita bangsa Indonesia misalnya, mengartikan warna merah sebagai lambang keberanian, sedangkan warna putih sebagai lambang kesucian atau kebenaran. Bendera Merah Putih yang menjadi bendera nasional kita melambangkan bahwa kita sebagai bangsa berani, karena membela kesucian dan kebenaran.

Kalau kita di Jakarta melihat ada bendera kertas berwarna kuning dipasang di depan rumah atau di tempat masuk satu gang atau jalan, maka kita tahu bahwa di situ ada orang yang meninggal. Akan tetapi, di Jawa Tengah bendera yang dipasang sebagai tanda ada orang yang meninggal berwarna putih. Sementara orang-orang barat mempunyai kebiasaan mengenakan pakaian berwarna hitam, kalau melawat ke rumah orang yang kematian. Keluarga yang berduka cita terutama. Paling tidak, mereka menyematkan secarik kain berwarna hitam pada lengan bajunya. Kebiasaan itu sekarang diikuti juga oleh bangsa kita, walaupun ada suara yang menyatakan keberatan, karena katanya kebiasaan bangsa kita tidak menggunakan warna hitam untuk tanda berduka cita, melainkan warna putih.

Di jalan raya ada tanda lalu lintas yang menggunakan warna lampu. Warna hijau (walaupun di lapangan kadang-kadang sebenarnya warnanya biru) artinya kendaraan boleh jalan. Warna kuning artinya harus hati-hati, karena lampu akan segera menjadi merah. Kalau sudah warna merah kendaraan harus berhenti. Penggunaan warna hijau sebagai tanda boleh berjalan, digunakan juga sebagai isyarat sudah mendapat izin. Misalnya ada pejabat yang berkata kepada bawahannya, ”Kita bisa mulai bekerja, karena sudah ada lampu hijau dari Pak Menteri.” Artinya Menteri sudah memberikan izin untuk menyelenggarakan kegiatan itu.

Dalam peperangan atau perkelahian kalau ada pihak yang mengibarkan bendera putih, artinya dia menyerah. Peperangan atau perkelahian tidak dilanjutkan. Pihak yang membawa bendera putih bertekuk lutut.

Partai Golkar memilih warna kuning sebagai lambang partainya, sedangkan partai PDIP memilih warna merah, sementara partai-partai Islam memilih warna hijau, sehingga dalam masyarakat ada anggapan bahwa partai-partai itu memonopoli warna-warna tersebut. Kecuali untuk benderanya, mereka mempergunakan warna-warna tersebut untuk pakaian yang dikenakannya, untuk mengecat tembok markas dan pagarnya, untuk kendaraan yang digunakannya, dan lain sebagainya. Pihak lain seakan-akan tidak dibenarkan mempergunakan warna-warna itu. Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau dihubungkan dengan partai-partai itu, sedapat mungkin menghindarkan diri memakai pakaian yang berwarna seperti salah satu warna itu. Terutama dalam masa-masa kampanye.

**

Dalam bahasa Indonesia kita mempunyai nama-nama warna, tetapi belakangan muncul nama-nama warna yang dipungut dari bahasa Belanda atau Inggris seperti cokelat, violet, dan pink. Sebenarnya, kita telah punya nama ungu untuk violet dan merah muda untuk pink. Sementara untuk warna cokelat dahulu kita gunakan istilah warna tanah atau sawo matang yang sekarang jarang atau sama sekali tidak digunakan.

Akan tetapi, seperti juga dengan kata-kata lain yang asli tersisihkan oleh yang baru, karena kecenderungan bangsa kita menganggap kata-kata dari bahasa asing lebih indah daripada yang asli seperti keterangan tersisihkan oleh informasi (dari information), penilaian tersisihkan oleh evaluasi, watak tersisihkan oleh karakter, pusat tersisihkan oleh sentra, gejala tersisihkan oleh fenomena, titik tersisihkan oleh poin, dan lain-lain.

Nama-nama warna yang terdapat dalam bahasa Indonesia adalah putih, merah, hitam, biru, kuning, hijau, ungu, jingga, kelabu, dan lain-lain. Karena ada berbagai macam dalam suatu warna, maka kita biasanya menghubungkannya dengan warna yang paling dekat yang terdapat dalam alam, sehingga ada merah darah, merah delima (artinya sama dengan merah biji buah delima), merah kesumba (yaitu merah seperti warna biji pohon kesumba), merah jambu (seperti warna isi buah jambu biji), merah hati (seperti warna hati, kehitam-hitaman), merah saga (seperti warna biji saga); biru laut, biru langit, biru malam, biru telur asin; hijau daun, hijau lumut, hijau gadung (seperti warna daun gadung), kuning gading, kuning langsat, dan lain-lain.

Pengandaian dengan yang ada di alam kian berkurang, sejalan dengan kian jauhnya bangsa kita dari alam. Orientasi umumnya bangsa kita sekarang adalah kehidupan kota, meskipun mereka kebanyakan masih tinggal di desa atau kampung, tetapi karena pengaruh televisi yang sudah masuk ke pelosok-pelosok paling jauh, mereka merasa lebih akrab dengan kehidupan kota yang sering digambarkan dalam sinetron televisi. Itulah sebabnya, kata pink masuk menjadi perbendaharaan bahasa Indonesia.

Sumber gambar: Wikimedia Commons.

Iklan

5 thoughts on “Warna

  1. Bagaimana dengan istilah “jambon” yang dulu banyak digunakan sebagai pengganti “pink”?

    Peristilahan warna dalam bahasa Indonesia agak terbatas, umumnya mengacu pada warna primer (merah, kuning, biru) dan warna sekunder (jingga, hijau, ungu).

    Untuk warna tersier, bahasa Indonesia menggunakan dua kata: burgundy (merah anggur), turquoise (hijau kebiruan).

    Kekelaman (saturation) adalah salah satu ciri warna yang menyatakan tingkat kekelaman (pucat vs kelam). Dalam teknik pewarnaan, kekelaman diperoleh dengan menambahkan abu-abu yang beragam gradasi kekelamannya.

    Saya tidak yakin apakah istilah muda (atau juga tua) yang dituliskan di belakang suatu warna tepat. Sebab kenyataannya, warna muda tidak selalu pucat atau sebaliknya.

    Contoh:
    hijau muda pucat vs hijau muda kelam
    biru tua pucat vs biru tua kelam

  2. Entah kenapa saya merasa ada pemecahan konsentrasi akibat pemenggalan bahasan yang sebenarnya kurang perlu, karena tidak secara signifikan menguatkan bahasan sebelumnya. Yang saya maksud adalah paragraf setelah tanda dua bintang (**).

    Satu lagi, saya ingin mengoreksi salah satu kalimat pada paragraf ketiga: “Sementara orang-orang barat mempunyai kebiasaan mengenakan pakaian berwarna hitam, kalau melawat ke rumah orang yang kematian.” Tampaknya ada frasa verba yang hilang di akhir kalimat itu, yaitu “kalau melawat ke rumah orang yang TERTIMPA MUSIBAH kematian”. Atau mungkin cukup kita sisipkan kata MENGALAMI, sehingga menjadi “kalau melawat ke rumah orang yang MENGALAMI kematian”? :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s