Dulu, Lalu Merumput

Majalah Tempo, 31 Jan 2011. Putu Setia: Wartawan.

Ed Zoelverdi, mantan wartawan Tempo yang dikenal sebagai Mat Kodak senior, suatu hari menulis di akun Facebook nya: “KUIS PILIHAN. Segepok duit halal di meja, di sampingnya ada wanita ayu. Jika Anda diberi kesempatan memilih, mana yang duluan dipilih: duit dulu atau wanita ayu dulu. Silakan pilih sekarang….”

Ada yang memilih “duit dulu” dengan alasan kalau punya duit segepok tentu mudah mencari wanita ayu. Bung Ed tak memberi kesempatan teman temannya berkomentar lebih banyak. Ia langsung membuka rahasia. Yang dimaksudkan “duit dulu” adalah duit di masa dulu, yang kini tak berlaku. Demikian pula “wanita ayu dulu” sekarang sudah jadi nenek yang keriput.

Sahabat saya, seorang penjelajah spiritual asal India yang sudah beberapa tahun menetap di Bali, berbilang kali mengeluh tentang sulitnya belajar bahasa Indonesia. Ia mengatakan kata kata di dalam bahasa Indonesia terlalu banyak punya arti.

Namun saya tak menanyakan apakah bahasa yang dipakai di India lebih mudah. Saya tak berminat karena bahasa lokal di benua itu sangat banyak. Yang saya tahu-meski tak banyak-dalam bahasa Sanskerta yang lahir di benua itu memang setiap kata hanya punya satu arti. Pengucapannya mirip mirip, tapi kalau dalam bentuk tulisan-apalagi jika memakai huruf Dewanagari-tak ada satu kata pun yang berarti ganda. Sayangnya, bahasa Sanskerta saat ini tidak lagi menjadi bahasa pergaulan. Bahasa itu sudah dianggap “bahasa suci” karena adanya di Kitab Weda (Veda). Umat Hindu di Indonesia menyebutnya “bahasa dewa” karena semua puja mantram pendeta Hindu menggunakan Sanskerta.

Kata “dulu“, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002), dirujuk ke kata “dahulu“. Kata ini punya empat arti. Teman Bung Ed di Facebook yang memilih “duit dulu” tentu saja menggunakan logika umum yang biasa terjadi dalam percakapan sehari hari: “dulu” yang berarti “lebih awal”. Duitlah yang lebih awal (dulu atau duluan) diambil. Sedangkan pelempar kuis-entah kebetulan entah tidak-konsekuen dengan arti “dulu/dahulu” yang dalam kamus ditempatkan di nomor satu: “(waktu) yang telah lalu; (masa) lampau”.

Kata yang mirip “dulu” masih banyak kalau kita rajin mencarinya. Sebut misalnya kata “lalu“. Kalau kita buka kamus, kata ini punya banyak arti (ada delapan), belum lagi kata bentukan yang bersumber dari kata “lalu”. Namun, dalam perbincangan keseharian, secara umum kata ini dipahami (atau disepakati?) lebih menjelaskan kejadian sebelumnya. Misalnya pekan lalu, dua bulan lalu. Tapi bagaimana dengan kalimat ini: “Setelah makan, ia lalu ke kamar mandi”? Bukanlah “lalu” tidak berkaitan dengan kejadian sebelumnya? Justru “lalu” berarti kejadian yang menyusul? Nah, “lalu” sebagai partikel (dalam hal ini kata sambung) memang sudah dinobatkan dalam kamus yang berarti “kemudian; lantas”.

Pengguna bahasa Indonesia sejak kecil tak banyak punya masalah. Tapi ini masalah besar bagi teman saya yang berasal dari India itu, sehingga ia rajin membaca kamus bahasa Indonesia.

Ia tak paham bagaimana “politik perkamusan” di negeri ini, apakah setiap kata yang hidup di masyarakat akan ditampung dalam kamus dan karena itu menjadi sah sebagai “kata yang resmi”.

Saya juga tak paham karena saya hanya pemakai bahasa Indonesia, bukan ahlinya.

Teman India saya bertanya: apakah kata kata yang bernada menghina tapi hidup di tengah masyarakat harus dimasukkan ke kamus yang resmi diterbitkan lembaga pemerintah? Ia menyebut satu kata: “merumput“, yang di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga sudah diartikan “bermain aktif (tentang pemain sepak bola)”. Kata “merumput” ini hampir tiap hari diucapkan penyiar televisi dan ditulis di koran. (Baca “Karena Kita Bukan Sapi“, Toriq Hadad, Tempo, 24 30 Januari 2011.)

“Manusia lebih mulia daripada binatang, jangan dinistakan,” kata teman saya. “Biarkan kata itu dipakai, tapi jangan diresmikan karena tak semua orang suka.”

Saya tak mendebatnya, takut diskusi lari ke masalah spiritual. Tapi saya pun risi kalau mendengar “Bambang Pamungkas sementara dikandangkan oleh pelatihnya”. Bambang tentu lebih mulia daripada kambing. Saya juga tak tahu, apakah setiap kata yang hidup di tengah masyarakat-dengan alasan biarkan bahasa itu berkembang dinamis-harus “dikamuskan”. Kalau begitu, nanti kata lebay akan masuk, juga kata gayus yang berarti sukses. (“Kerja dulu biar cepat gayus, baru kawin.”) Jangan jangan kata “dulu” dan “lalu” serta “merumput” masih bertambah artinya di dalam kamus mendatang hanya karena dipakai dalam bahasa percakapan. Padahal bahasa percakapan bisa karena pengaruh bahasa daerah, sindiran sesaat, ataupun aksi aksian.

Iklan

One thought on “Dulu, Lalu Merumput

  1. “Manusia lebih mulia daripada binatang, jangan dinistakan,” kata teman saya. “Biarkan kata itu dipakai, tapi jangan diresmikan karena tak semua orang suka.”

    Jadi ingat saat masih kuliah di Fakultas Sastra (FS, sebelum berubah menjadi Fakultas Ilmu Budaya atau FIB) Universitas Indonesia dulu; tanpa disengaja saya mendengar dua percakapan mahasiswi yang sedang menempuh jalur pendidikan S2 di depan Dekanat FIB. Satu mahasiswi orang Indonesia, dan satu lagi orang asing. Di sela-sela percakapan mereka, terdengar: “Sekarang, saya sudah pelihara pembantu.” Dapat ditebak, kalimat ini datang dari lidah nonpribumi.

    Tampaknya, jika menilik pernyataan teman penulis di atas, pernyataan mahasiswi asing tersebut perlu dikoreksi. Karena, konteks “pelihara” lebih lazim digunakan untuk hewan piaraan; bukan manusia, dan tentu saja kita lebih mulia. Cukup menarik, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s