Alternatif

Pikiran Rakyat, 5 Feb 2011. Ajip Rosidi: Penulis, sastrawan.

Kata ”alternatif” kita serap dari bahasa Belanda alternatief. Dalam bahasa Indonesia, sebenarnya kita punya kata ”pilihan”, tetapi dianggap kurang gengsi. Akan tetapi, belakangan ini istilah alternatif kalah gengsi oleh kata yang berasal dari bahasa Inggris opsi (dari option). Namun, kata alternatif masih digunakan untuk hal-hal tertentu misalnya pengobatan alternatif yang artinya bukan pengobatan secara medis kedokteran. Bisa pengobatan secara herbal, bisa pengobatan oleh dukun. Istilah pengobatan alternatif tidak terdengar diganti menjadi pengobatan opsi.

Pengobatan dengan herbal sebenarnya masih bisa dimasukkan ke dalam pengobatan secara medis juga, hanya menggunakan obat yang langsung berasal dari alam (terutama daun-daunan dan buah-buahan, pendeknya dari tumbuh-tumbuhan). Bahkan, sekarang beberapa rumah sakit membuka bagian pengobatan dengan herbal. Beberapa universitas terkemuka mempunyai program penelitian tentang obat-obat herbal. Jadi ada kemungkinan tidak lama lagi pengobatan dengan herbal tidak akan disebut sebagai pengobatan alternatif lagi.

Sama halnya dengan pengobatan dengan tusuk jarum atau akupunktur. Cara pengobatan yang berasal dari Cina itu mungkin sebentar lagi akan dianggap sebagai pengobatan secara medis juga. Banyak rumah sakit yang sekarang menyediakan pelayanan pengobatan dengan tusuk jarum. Dokter juga banyak yang mempelajari pengobatan dengan tusuk jarum.

Pengobatan oleh dukun mempunyai asosiasi terkebelakang dan berbau takhayul sehingga sering dukun diganti sebutannya dengan orang pinter. Memang pengobatan oleh dukun diasosiasikan dengan mantera yang diucapkan dan diakhiri dengan percikan ludah sang dukun entah terhadap si sakit entah terhadap air dalam gelas yang harus diminum atau dipakai mandi oleh si sakit. Akan tetapi, sebenarnya pengobatan oleh dukun atau orang pinter itu banyak macamnya. Tidak semuanya dengan mantera dan percikan ludah. Ada yang mencubit-cubit kulit si sakit, ada yang memukul-mukul dengan telapak tangan, ada yang mengusap bagian yang sakit dengan kapas dan kemudian terlihat bahwa kapas itu penuh darah, ada yang meniup ubun-ubun si sakit setelah membaca mantera, ada yang meminta keluarganya agar menyediakan sajen tertentu atau syarat lainnya, di samping ada juga yang menyuruh si sakit agar memakan makanan tertentu dan lain-lain. Pendeknya cara dukun atau orang pinter mengobati orang sakit banyak macamnya.

Sebagai orang modern dan berpendidikan kita biasanya menganggap pengobatan tradisional oleh dukun atau orang pinter itu tidak masuk akal dan sedapat mungkin dihindari. Akan tetapi kalau pengobatan secara medis sudah ditempuh, tetapi tidak ada hasilnya, biasanya pengobatan alternatif kepada dukun atau orang pinter juga dicoba.

Mungkin dari sanalah istilah alternatif berasal. Orang datang kepada dukun atau orang pinter, sebagai pilihan setelah pengobatan secara medis oleh dokter gagal. Konon ada yang malah jadi sembuh setelah berobat secara alternatif. Akan tetapi, tentu yang tidak dapat disembuhkan juga ada. Tak ada statistik yang menggambarkan berapa persen yang sembuh dan berapa persen yang tidak sembuh karena tak pernah ada usaha yang meneliti hal tersebut. Akan tetapi, bukankah berobat sama dokter juga tidak semuanya sembuh? Pada akhirnya yang menyembuhkan segala penyakit adalah Allah SWT, entah secara medis entah secara alternatif.

**

AKAN tetapi, kata alternatif digunakan juga untuk menyebut penerbit-penerbit di Yogyakarta yang muncul sekitar masa Reformasi (sekitar 1998). Meskipun tidak semua orang menyetujui penggunaan nama penerbit alternatif itu, beberapa penerbit Yogyakarta itu pernah membentuk APA (Asosiasi Penerbit Alternatif) — walaupun tampaknya tidak pernah melakukan kegiatan organisatoris apa pun juga. Artinya ada penerbit yang menyebut dirinya atau menggolongkan dirinya termasuk kepada penerbit alternatif.

Orang juga mencoba merumuskan penerbit yang bagaimana yang dimaksudkan sebagai penerbit alternatif. Apa bedanya dengan penerbit biasa atau penerbit saja yang disebut juga dengan istilah penerbit mainstream? Ada yang memberi batasan bahwa penerbit alternatif itu ”karena buku yang mereka terbitkan dibalut idealisme untuk mengukuhkan wacana tandingan dalam ranah sosial, politik dan kebudayaan yang dilarang oleh Orde Baru” (Adhe, Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja, 1998—2007, h.67). Namun ternyata dalam perkembangannya penerbit-penerbit itu banyak yang harus bertekuk lutut kepada hukum ekonomi karena bagaimana pun dunia penerbitan adalah kegiatan bisnis. Yang bisa bertahan jumlahnya hanya sedikit dan tidak lagi disebut sebagai penerbit alternatif.

Yang penting kita bahas di sini, ialah penggunaan kata alternatif yang berarti pilihan. Pilihan dalam hal apa? Niscaya dalam penerbitan buku, karena para penerbit alternatif itu seakan memilih jalan lain daripada yang ditempuh oleh para penerbit mainstream. Namun demikian penerbit alternatif tidak bisa ditukar dengan sebutan penerbit pilihan atau penerbit opsi.

Iklan

One thought on “Alternatif

  1. Satu istilah yang menarik saya dari artikel di atas, penerbit mainstream. Karena penulis tidak menjelaskannya, ada baiknya saya mencoba “mencerahkan” para penikmat blog ini. Sependek pengetahuan saya, “mainstream” adalah lawan dari “self-publishing”; jadi mudahnya, penerbit mainstream adalah penerbit-penerbit umum yang memiliki anggaran produksi serta pangsa pasar besar dan terikat dengan aturan-aturan cetak tertentu. Adapun penerbit lawannya tadi, tidak ada ikatan tentang cetak-mencetak karya yang diterbitkan karena keterbatasan anggaran produksi, juga pangsa pasarnya relatif terbatas–sama halnya dengan para seniman lagu yang menciptakan karya indie-label, atau dalam bahasa populernya “untuk kalangan tertentu karena rekaman yang terbatas”, jika tidak mau diekstremkan dengan pameo “siapa cepat, dia dapat”.
    Semoga penjelasan singkat tersebut dapat membantu Anda, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Pak Ajib Rosidi, penyusun artikel luar biasa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s