Ramping = Penggembosan

Majalah Tempo, 21 Mar 2011. Putu Wijaya: Wartawan dan sastrawan.

Dalam peringatan 40 tahun Tempo di hotel Four Seasons, 9 Maret lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pidato singkat. Antara lain beliau mengatakan bahwa banyak orang telah memberikan saran atau kritik lewat telepon atau pesan pendek SMS tapi masih dalam bingkai pikiran bahwa kekuasaan presiden/pemerintah masih seperti yang lama. Padahal, “kekuasaan presiden/pemerintah sekarang sudah ramping,” kata Presiden Yudhoyono

Kata ramping menurut Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko) berarti langsing, kurus, ceking, singset. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa memberikan arti: kecil panjang, atau langsing. Tak ada perbedaan. Keduanya sepakat bahwa ramping adalah tidak besar atau gendut.

Tapi yang dimaksudkan dalam pidato Presiden Yudhoyono dengan kata ramping itu adalah “terbatas”. Artinya: kekuasaan presiden kini tidak lagi sebesar seperti dalam praktek di masa-masa presiden sebelumnya. Semua tindakan dan kebijakan presiden mesti mendapat lampu hijau dari rambu-rambu yang sudah ditetapkan oleh yang berwenang memberikan batasan. Walhasil, kekuasaan presiden harus meluncur hanya di jalur yang sudah ditentukan.

Makna terbatas dalam pidato Presiden Yudhoyono tidak dipasang oleh kedua kamus untuk memaparkan arti ramping. Kalau kamus itu mencantumkan kata ramping sebagai sinonim dari kata terbatas, mungkin akan ada pembaca yang protes. Para pelajar, yang sudah mulai lebih mampu berbahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia, akan semakin bingung mengisi ujian pilihan berganda dalam ujian nasional. Jumlah yang gagal dalam ujian bahasa Indonesia akan bertambah, karena kata ramping dan terbatas itu sama sekali tidak nyambung.

Terbatas dalam kamus berarti sudah dibatasi. Batas berarti sekat. Sudah diberi sekat. Dalam pidato Presiden Yudhoyono, kata ramping memang dimaksudkan sebagai sekat-sekat yang tidak memungkinkan presiden bisa seenaknya bertindak atau membuat kebijakan. Di negara hukum, semuanya diatur dengan prosedur. Berbeda dengan para koboi dalam mengendarai mobil di jalan. Kalau jalur padat mereka memutuskan menyelinap lewat jalan tikus. Dalam kehidupan negara yang sedang berusaha memestakan demokrasi dan hukum, jalan tikus itu haram.

Jadi, kata ramping bisa berarti terbatas dalam bahasa lisan karena konteksnya. Artinya tidak lagi hanya seperti yang dibisikkan oleh kamus. Kalimat-kalimat sebelum dan sesudahnya mengisi kata ramping dengan muatan lain. Selagi jomblo, ramping adalah singset, tetapi dalam sebuah tim, arti ramping memerlukan tafsir.

Keadaan itu serupa dengan yang terjadi pada kata galak. Menurut kamus, galak itu berarti buas/ganas/garang. Tetapi dalam kalimat “menggalakkan kembali kunjungan turis sesudah peristiwa bom Bali”, kata galak sudah berarti memacu.

Maka semakin jelas pula bahwa kata-kata itu tumbuh, berkembang, berubah dan bisa berbalik artinya ketika semakin tua.

Kemampuannya untuk dipergunakan untuk berbagai maksud itu telah membuat kata-kata menjadi berbahaya. Begawan Dorna dalam pewayangan kehilangan keseimbangannya ketika mendengar Aswatama meninggal. Bagaimana mungkin dia tidak percaya? Berita itu datang dari mulut Yudhistira, yang tak pernah berbohong. Yudhistira juga memang tidak berbohong, gajah yang bernama Aswatama memang mati.

Menguasai kata-kata menjadi penting. Potensinya yang besar untuk menjebak dan mengecoh membuat kata menjadi tempat sembunyi yang aman sekaligus senjata yang ampuh. Kemampuannya untuk berubah makna menjadikan kata plastis dan fleksibel, sehingga sebagai alat diplomasi ia canggih.

Bukan hanya para pemimpin dan para penafsir yang mesti menguasai evolusi kata, agar tidak terjadi salah kaprah. Masyarakat juga perlu belajar bahwa ketika kata menjadi bagian dari sebuah ungkapan, bisa terjadi lompatan makna yang mengagetkan. Dan itu sebenarnya sudah dilakukan sendiri juga oleh awam, ketika orang menjawab ya padahal maksudnya tidak. Ya karena dia sudah mendengar lawan bicaranya, tetapi belum tentu setuju atau patuh.

“Migrasi” makna kata ramping ke pengertian yang bermakna “pembatasan” sudah cukup lama terjadi. Dalam forum terhormat itu menjadi ungkapan yang “sopan” untuk menunjukkan adanya “penggembosan”.

Sumber gambar: Vivanews

Iklan

One thought on “Ramping = Penggembosan

  1. Ini arti kata “penggembosan” menurut daring KBBI (http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php):

    peng·gem·bos·an n ki proses, cara, perbuatan mengeluarkan (menarik) anggota atau orang (spt pendukung partai) secara mendadak dan besar-besaran

    Jika diperhatikan, tampaknya kata tersebut pun sudah mengalami lompatan makna meskipun implisit. Mungkin, menurut perkiraan saya, Pak SBY sengaja menggunakan kata “ramping” untuk mengingatkan kita kepada masa-masa Orde Baru yang terkenal “gemuk” dari sisi lembaga eksekutif, sebagai analogi ringan guna mendekatkan pengertian yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s