Salah Paham dan Kekerasan

Majalah Tempo, 18 Apr 2011. Robertus Robet: Aktivis Solidaritas Masyarakat Indonesia untuk Keadilan

BAHASA ditentukan oleh situasi dan lingkungan sosial tempat ia dipergunakan. Dengan demikian, makna bahasa diproduksi secara sosial dan mengabdi pada elemen eksternal di luar bahasa. Dalam situasi yang ekstrem, sering kali penanda bahkan terpeleset atau terlempar jauh dari makna inheren yang telanjur dianggap sudah semestinya. Terpelesetnya penanda dari makna konvensionalnya sering secara sewenang-wenang dan keliru diberi nama “salah paham”. Dari pengalaman, kita juga tahu bahwa di dalam salah paham justru kita bisa menemukan suatu kebenaran yang berharga, yakni kebenaran akan kuasa dan dominasi. Anekdot dari sebuah daerah di kawasan timur Indonesia yang masih dilanda konflik berikut ini adalah sebuah contoh.

Demi, seorang murid SD di sebuah desa, suatu hari pulang sekolah sambil menangis. Bapaknya, yang keheranan, bertanya kepada dia, “Demi, mengapa kamu menangis?””Itu Bapa Guru ada kasih pukul saya,” jawab Demi. Si bapak dengan gusar pergi ke sekolah dan bertanya kepada guru, “Mengapa Bapa Guru kasih pukul anak saya?” Guru pun menjawab, “Saya marah karena waktu saya tanyakan siapakah penanda tangan teks proklamasi kemerdekaan, semua murid diam tak menjawab. Saya tanya sekali lagi, semua murid masih diam tak ada yang menjawab. Akhirnya saya bertanya kepada Demi. Tapi Demi malah bilang, ‘Yang tanda tangan bukan saya, Bapa!’ Itu mengapa saya kasih pukul dia!”

Setelah mendengar penjelasan sang guru, akhirnya sang bapak pun paham dan bergegas pulang. Tak lama kemudian, dia kembali ke sekolah bersama Demi, yang tampak makin berurai air mata. Sambil menjewer telinga Demi, si bapak menghadap sang guru dan berkata, “Bapa Guru, ini Demi. Saya sudah pukul dia. Sekarang dia sudah mengaku kalau dia yang tanda tangani itu teks proklamasi.”

Dari cerita Demi, kita menemukan dua jenjang kesalahpahaman. Kesalahpahaman pertama adalah kesalahpahaman Demi dalam memahami pertanyaan gurunya. Demi adalah anak yang tumbuh dalam lingkungan keras, tempat kata “merdeka” bisa bikin masalah. Karena itu, bagi Demi, pertanyaan yang berbunyi “siapa penanda tangan teks proklamasi kemerdekaan” jadi bukan sekadar pertanyaan, tapi harus disiasati secara hati-hati! Dalam pengalaman kontekstualnya, kata “merdeka” di daerahnya sering bukanlah kemerdekaan yang dirayakan oleh entitas besar bernama Indonesia, melainkan kemerdekaan dalam hiruk-pikuk sengketa, kekerasan, dan teror yang spesifik di tanah tempat dia tumbuh. Akibatnya, pertanyaan si guru bukan lagi urusan kata-kata, melainkan menjadi sepucuk laras senapan yang siap diarahkan ke jidatnya. Pertanyaan itu tidak lagi memicu kesadaran diskursif mengenai “sejarah nasional Indonesia” sebagaimana dikehendaki sang guru dan seluruh narasi besar nasionalisme di belakangnya, tapi malah membawa dia kepada konteks lokalitas. Dalam konteks itu, kata “merdeka” berarti bahaya! Maka, untuk menyelamatkan dirinya dari bahaya, dia spontan menjawab, “Bukan saya, Bapa!”

Kesalahpahaman kedua terdapat dalam reaksi sang bapak yang memandang posisi guru-murid sebagai relasi yang terisolasi. Bagi si bapak, Demi adalah murid dan anak yang harus patuh kepada guru dan kepada orang tuanya. Sang bapak “lupa” pada konteks manakala berhadapan dengan situasi domestiknya sebagai bapak. Di sini kesalahan si bapak jauh lebih besar ketimbang kesalahpahaman Demi. Kesalahpahaman Demi adalah kesalahpahaman yang bersifat parsial. Sebab, meskipun keliru memahami pertanyaan gurunya, Demi benar dalam memahami situasi kontekstualnya. Sementara itu, salah paham pada si bapak adalah salah paham yang total. Pada si bapak tidak ada kemampuan menemukan konteks sama sekali. Ini yang mendorong si bapak mengambil langkah fatal, yakni memaksa dan memukul Demi agar mengakui hal yang tidak dilakukannya.

Dari pengalaman dan nasib Demi, kita menemukan sebuah transformasi kekerasan dari “dunia” ke dalam kata. Kekerasan yang semula bersifat eksternal dari bahasa kemudian meresap dan beroperasi ke dalam bahasa. Di sini, kesalahpahaman dalam mengartikan makna bahasa tidak dihasilkan dari ketidaktahuan semantik. Kegagalan memahami makna tidak terjadi karena kesalahan dalam menerapkan aturan gramatikal atau keliru memahami tuturan, tapi karena determinasi konteks. Rasa takut dan pengalaman kekerasan mengubur semua potensi pemaknaan, melindas semua kebenaran historis dan faktual.

Di mana ada kekerasan, di situ tak akan ditemukan bahasa!

Sumber ilustrasi: KontraS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s