Undur-undur, Blorok, Tokek

Majalah Tempo, 25 Apr 2011. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

Sumber: Wikimedia CommonsISU perombakan kabinet tempo hari melahirkan ungkapan “baru” dari para pengamat. Awalnya, partai pendukung pemerintah mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengevaluasi partai politik anggota koalisi yang dinilai tak setia karena mengusulkan pembentukan panitia khusus angket mafia pajak kepada Dewan Perwakilan Rakyat, meski usul ini akhirnya kandas. Presiden menanggapinya bahwa partai politik yang tidak bisa lagi berkoalisi dengan pemerintah sebaiknya mundur dari kabinet. Beredar spekulasi: perombakan (reshuffle) tinggal tunggu waktu. Media pun mereka-reka siapa yang bakal terpental dari kursi kabinet dan siapa yang akan menggantikannya.

Setelah beberapa pekan berpusing kian-kemari, isu berakhir antiklimaks: reparasi kabinet urung. Presiden seperti mereduksi pernyataannya sendiri. Evaluasi terhadap partai politik anggota koalisi, katanya, tetap akan dilakukan dan perombakan kabinet juga dimungkinkan bila dipandang perlu berdasarkan kinerja menteri. Artinya, andai pun ada perombakan kabinet, belum jelas kapan dilaksanakan, dan dilakukan bukan lantaran soal angket. Maka, untuk sementara, partai politik yang dianggap “berkhianat” terhadap pemerintah karena mengusulkan angket tetap bergelayut di gerbong kabinet.

Tanggapan publik terhadap mentahnya isu reshuffle kabinet ternyata membawa-bawa jenis satwa tertentu sebagai metafora. Para aktivis demokrasi, juga majalah ini (Tempo, 14-20 Maret 2011), memilih kata “undur-undur” untuk melukiskan gosip yang berputar-putar. Undur-undur tergolong hewan kecil yang hidup di tanah berpasir, konon bergizi. Sesuai dengan sebutannya, cara berjalan makhluk mini itu mundur dan berputar-putar. Di stasiun kereta api Kroya, Jawa Tengah, banyak simbok pengasong menjual rempeyek undur-undur laut berukuran lebih besar ketimbang undur-undur tanahyang disajikan bersama pecel sayuran. Lezat dan segar.

Tetapi, undur-undur dalam cakapan politik populer tampaknya tidaklah selezat dan sesegar pecel undur-undur. Para pengamat seakan-akan kehabisan kata-kata sehingga memungut undur-undur untuk memerikan keraguan, ulur-uluran, dan ketidakmangkusan dalam praktik politik. Namun, berbeda dengan undur-undur yang sejatinya mengarah ke suatu tujuan meski dengan cara berjalan mundur, dalam soal perombakan kabinet para elite politik ibarat melempar pepesan kosong. Yang berharap jadi menteri menggantikan yang tergusur oleh perombakan kabinet tentu kecele.

Seorang teman yang menekuni sastra Jawa melukiskan situasi kecele itu seraya mengutip peribahasa (n)jagakak endhog si blorok atau menunggu telur si blorokayam betina berbulu mozaik hitam-putih. Peribahasa itu bermakna menunggu sesuatu yang belum jelas. Dalam praktek kehidupan, peribahasa itu memendam psikologi “harap-harap cemas” saat orang menunggu limpahan rezeki. Ayam blorok memang dikenal produktif bertelur sehingga banyak dipelihara orang di pedesaan Jawa. Namun, layaknya siklus biologis, proses produksi ada kalanya tak lancar sehingga tak jelas pula kapan telur akan nongol dari “outlet” si blorok.

Selain itu, bunyi tokek sempat terselip dalam perbincangan perihal yang sama. Berdiskusi di layar kaca, pemikir pluralis Komaruddin Hidayat berseloroh bahwa dia sedang menunggu bunyi tokek untuk memastikan jadi-tidaknya reshuffle kabinet. Metodenya adalah menghitung rentetan bunyi tokek yang dimaknai “jadi” dan “tak jadi” secara berselang-seling. Taruhlah bunyi tokek pertama diartikan “jadi” (reshuffle), bunyi kedua “tak jadi”, dan seterusnya. Jika bunyi terakhir tokek jatuh pada “jadi”, berarti kabinet bakal dibongkar; bila sebaliknya, ya, batal. Sayangnya, ketika itu tak ada seekor tokek pun yang bernyanyi di studio televisi tempat diskusi disiarkan.

Seloroh itu mengingatkan kita pada folklor Jawa tentang bunyi tokek sebagai “perhitungan” nasib manusia: apakah seseorang akan jadi sugih (kaya) atau gombal (miskin). Jika bunyi tokek pertama dimaknai sebagai harapan jadi sugih, sedangkan si tokek ternyata cuma bersuara dua kali, akhir nasib malah jadi gombal. Folklor bunyi tokek mencerminkan ironi, bahkan semacam fatalisme, ketika banyak orang bingung kepada siapa bisa menitipkan harapan untuk menggapai hidup yang layak.

Isu politik di negeri kita akhir-akhir ini memang kerap membingungkan sehingga terasa tak cukup diperikan dengan bahasa “biasa” yang sewajarnya. Di sinilah kita berhikmah: ada kesempatan untuk menggali dan merevitalisasi khazanah kearifan lama sebagai daya ungkap yang padat-imajinatif.

Sumber gambar: Wikimedia Commons.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s