Kata, Damai, dan Kekerasan

Majalah Tempo, 2 Mei 2011. Ahmad Sahidah: Pengajar Program Pascasarjana Institut Agama Islam Nurul Jadid, Paiton, Jawa Timur

Otak pelaku pengirim bom buku telah tertangkap. Sebelumnya, pihak aparat berhasil membuat gambar sketsa sang kurir, yang berwajah tirus, berpipi kurus, dan bermata sayu. Kelompok itu menyebut diri “Firaqul Maut wal Ightiyalat”. Mengapa ada kecenderungan pelaku dan nama organisasi yang menggelorakan kekerasan menggunakan bahasa Arab?

Apakah di benak para pelaku kekerasan itu sendiri nama berbahasa Indonesia atau Jawa tidak mencerminkan “Islam” sehingga alias berbahasa Arab wajib digunakan untuk menabalkan diri sebagai muslim sejati? Demikian pula, istilah-istilah teknis yang berkaitan dengan organisasi teroris menggunakan bahasa Arab, seperti ketua dengan amir, dan struktur organisasi seluruhnya menggunakan kata Arab, misalnya mantiqi untuk menggantikan kata divisi teritorial. Uniknya, di beberapa wilayah di Indonesia, nama-nama warung telekomunikasi juga berbahasa Arab, seperti Al-Hidayah dan An-Nur, sebelum akhirnya banyak yang tutup karena kalah bersaing dengan telepon seluler.

Sejak peristiwa 11 September, di beberapa negara Barat, nama-nama berbau Arab mendorong petugas imigrasi menahan pemiliknya di pintu masuk kedatangan. Sang pemilik mungkin akan ditanyai sekian jam dan nasib sial ini bisa menimpa siapa saja. Bahkan seorang bintang film terkenal Bollywood, Shah Rukh Khan, tak luput dari pemeriksaan petugas di bandar udara Kanada, yang kemudian memicu unjuk rasa di tanah kelahirannya, India. Kekhawatiran terhadap orang bernama Arab dengan sendirinya menciptakan stigma bahwa menjadi penganut Islam dengan nama Arab patut dicurigai karena mereka boleh jadi adalah orang yang mengumbar dendam kesumat.

Bagaimanapun, bahasa Arab secara semantik juga mengandaikan makna emosi atau afeksi. Bahasa Arab sebagai bahasa surga tentu mempunyai pengaruh yang kuat bagi banyak orang untuk menggunakannya dalam pelbagai nama lembaga, selain nama diri. Bahkan doa-doa tetap dilafalkan dengan bahasa Arab, meskipun bahasa lain tidak dilarang. Sayangnya, emosi di sini telah hanya diarahkan untuk meledakkan kemarahan. Sedangkan pesan utama dari Al-Quran yang diturunkan dalam bahasa Arab adalah perantara untuk memartabatkan kehidupan manusia.

Lebih jauh, ideologi bahasa merembes pada unsur-unsur lain terhadap identitas kelompok atau pribadi, estetik, moral, bahkan epistemologi.

Seseorang yang bernama Jawa, seperti Soeharto, menambahkan nama Muhammad untuk mengesahkan telah melakukan rukun Islam yang kelima, haji. Di kampung, seorang haji, ini juga gelar berbahasa Arab, mengenakan jubah ke masjid sebagai penanda estetik, untuk membedakannya dengan tradisi kampungnya yang menggunakan sarung. Tidak aneh jika seseorang yang telah digelari haji, secara moral, menanggung beban jauh lebih berat dalam hubungan sosial kemasyarakatan.

Nama Arab yang melawan kekerasan tentu merupakan sintesis terhadap anggapan yang berkembang di Barat, dan mungkin diam-diam fobia yang sama menghinggapi orang kota di sini sambil keranjingan memberi anaknya nama Barat, atau nama Islam yang berbau keinggris-inggrisan. Malah kegenitan memberikan nama berbau Inggris juga telah merambah ke kampung-kampung. Jelas, di bawah sadar mereka terdapat rasa rendah diri dengan tradisi tempat mereka hidup.

Pada waktu yang sama, banyak teman Jawa yang memiliki nama berakhiran “o”, seperti Supriyanto, sekarang beramai-ramai memberikan nama “Islam” untuk anak-anaknya, semisal Aisyah dan Khadijah. Mereka memahami Islam kaffah (menyeluruh) dengan meniru tradisi Nabi apa adanya. Namun, dengan sendirinya, pesan substantif tidak dihilangkan bahwa pemberian nama itu lebih berkaitan dengan kesinambungan sejarah dengan tanah leluhur Islam dan tepatnya arti dari nama dan pesan moral yang diusungnya. Identitas yang melekat harus lebih mengedepankan yang terakhir ini. Aisyah di Jawa akan membawakan dirinya sebagai orang Jawa, bukan orang Arab di Timur Tengah.

Hakikatnya, kata Arab dalam Islam itu, yang mengacu pada pandangan dunia (Weltanschauung) Al-Quran, mengandaikan makna dasar dan relasional. Yang pertama diperoleh dari kamus, yang kedua berkaitan dengan medan semantik dan pandangan dunia Islam bahwa seluruh fokus tertinggi dari kata-kata itu adalah Tuhan. Kata “insan” secara etimologi berarti manusia, tapi secara epistemologi atau relasional kata kunci ini berkait dengan kata lain, seperti makhluk, Allah, dan alam. Atas dasar pendekatan ini, kata “insan” itu berarti sebagai manusia yang setara dengan sesama dan merupakan wakil Tuhan di bumi. Demikian juga nama-nama Arab yang diterakan pada manusia mengandaikan pengertian yang utuh tentang makna semantik dari sebuah nama Arab. Jadi, bahasa Arab yang diidentikkan dengan Islam itu mendukung perdamaian, sejalan dengan akar kata Islam itu sendiri, s-l-m, yang berarti damai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s