Kiri (Juga Kanan)

Majalah Tempo, 30 Mei 2011. Kasijanto Sastrodinomo: Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

TEMPO menerbitkan buku seri “orang kiri” Indonesia. Empat tokoh Partai Komunis Indonesia-Muso, Aidit, Njoto, dan Sjam-telah dituliskan riwayatnya. Dari segi historiografi, publikasi seri itu cukup penting, setidaknya untuk menghindari “bahaya pemberhalaan” sejarah–mengutip Peter Burke dalam The French Historical Revolution (1990)–terhadap tokoh politik tertentu, tapi, sebaliknya, mengabaikan figur yang lain. Kita tahu, selepas tragedi 30 September 1965, orang-orang kiri, yang tak lain anggota PKI, dianggap lawannya sebagai momok politik yang harus dibasmi dan, karena itu, sejarahnya pun dikubur dengan dendam.

Dari segi bahasa, masih sering muncul pertanyaan bagaimana asal-usul istilah kiri terbentuk. Pengantar umum dalam seri penerbitan tersebut tidak menjelaskan sangkan paran (bahasa Jawa: asal-usul, RB) istilah itu. Jika sekadar kosakata, kiri, seperti halnya kanan, merupakan nomina yang berfungsi sebagai penunjuk tempat, seperti “samping kiri/kanan”–dari arah kita melihat; juga sebagai ajektiva, semisal “mata kiri/kanan”. Lalu kiri/kanan berfungsi sebagai kata keterangan, “belok kiri/kanan”. Jadi tugas kata kiri/kanan cukup komplet. Namun kita memandang keduanya secara diskriminatif: kiri berarti negatif, sedangkan kanan bermakna positif. Terhadap bagian tubuh sendiri, misalnya, kita melarang tangan kiri untuk bersalaman atau menerima sesuatu dari orang lain kecuali dalam keadaan terpaksa. Sedangkan “tangan kanan” adalah ungkapan tentang seseorang yang sangat diandalkan.

Maka arti kata kiri/kanan mengandung nilai tertentu. Dalam “protokoler” wayang kulit, saat tidak dimainkan, tokoh-tokoh raksasa selalu dijejerkan di layar bagian kiri dari posisi duduk ki dalang, sedangkan para kesatria berada di deretan kanan. Secara tipikal, para raksasa digambarkan berwatak brangasan, kasar, sedangkan kesatria berperilaku santun. Artinya, mereka yang berjajar di sebelah kiri bercap buruk rupa, sedangkan yang di barisan kanan adalah kaum berbudi dan suci karena tokoh dewa-dewa termasuk di dalamnya.

Berkah Revolusi Prancis abad ke-18, kata kiri/kanan masuk ke leksikon politik. Kala itu, kekuatan politik di parlemen Prancis yang terbentuk setelah gejolak revolusi terbelah menjadi tiga: (1) kaum konservatif yang ingin mempertahankan monarki tapi dibatasi konstitusi, (2) kawanan radikal yang ingin membentuk republik, dan (3) kelompok moderat yang berpijak di antara keduanya. Dalam tata krama sidang, grup konservatif duduk mengelompok di bagian kanan ruang sidang, sedangkan kaum oposisi di sebelah kiri, dan moderat di tengah. Sejak saat itulah muncul istilah rightist dan leftist atau “sayap kiri” dan “sayap kanan”.

Dengan demikian, istilah kiri pada masa awal setelah Revolusi Prancis sejatinya lebih menekankan pada kelompok atau kekuatan oposisi, bukan komunismenya. Artinya, “orang kiri” dalam politik di parlemen Prancis itu belum tentu kaum komunis-apalagi partai komunis belum terbentuk ketika itu. Jika istilah kiri mengacu pada “oposisi”, siapa pun yang menempatkan diri di seberang pemerintah-apa pun warna politiknya-mestinya bisa disebut “kiri” tanpa cap komunis. Bukankah Lu Xun, sastrawan terkenal Cina, tergolong orang kiri tapi bukan komunis (menurut penilaian I. Wibowo dalam Kalam, 17/2001).

Di Indonesia, istilah kiri/kanan juga bergema luas di jagat politik. Dalam monografinya, Indonesian Communism: A History (1963), Arnold Brackman memakai ungkapan the left modified untuk menjelaskan tingkah laku politik PKI yang bersifat radikal dan berorientasi internasional, dilawankan dengan rightist symptoms, yang merupakan kecenderungan politik nasional yang cinta Tanah Air. Skripsi aktivis Soe Hok Gie menggunakan judul “Simpang Kiri dari Sebuah Jalan” (1969), kemudian diterbitkan menjadi Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (1997), berkisah tentang pemberontakan (boleh juga dibaca pengkhianatan) PKI di Madiun pada 1948.

Kata kiri telah berkembang menjadi istilah ideologis, dan menakutkan untuk sementara pihak.

Barangkali hanya orang tua yang sangat menyayangi anaknya yang justru secara sadar menyarankan kepada si anak untuk selalu ambil jalan kiri. Seperti pesannya tatkala si anak pergi ke sekolah, “Hati-hati, jalanlah di sebelah kiri.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s