“Summit”

Pikiran Rakyat, 13 Jun 2011. Imam Jahrudin Priyanto

KECINTAAN terhadap bahasa Indonesia harus terus ditingkatkan. Apalagi di tengah merebaknya penggunaan bahasa asing belakangan ini. Pada tingkat kecintaan yang lebih tinggi, bisa saja ada yang mempertanyakan mengapa harus menggunakan bentuk serapan padahal kata yang dimaksud ada dalam khazanah (unsur asli) bahasa Indonesia.

Saya merasa bangga ketika ada wartawan muda yang mempertanyakan mengapa banyak wartawan lebih senang menggunakan kata destinasi, selebrasi, opsi, ekspektasi, ataupun disparitas. Padahal bahasa Indonesia memiliki kata tujuan, perayaan, pilihan, harapan, ataupun kesenjangan.

Bahasa Indonesia memang terdiri atas empat unsur, yakni (1) unsur asli atau induk yang bersumber dari bahasa Melayu (Riau), misalnya rumah, jalan; (2) serapan dari konsep asing dengan menggunakan kata bahasa Indonesia (bisa dikatakan bahasa terjemahan), misalnya sky scrapper menjadi pencakar langit; (3) kata asing yang diserap dengan penyesuaian (bisa dikatakan kata serapan) karena kata atau konsep tersebut tidak ada dalam bahasa Melayu, misalnya president menjadi presiden, general menjadi jenderal; dan (4) bentuk yang tetap dianggap asing tetapi sudah menjadi warga tetap bahasa Indonesia, misalnya assalamualaikum, alhamdulillah, tut wuri handayani, Pancasila, ataupun Bhinneka Tunggal Ika.

Lewat penjelasan visual berupa lingkaran, Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia Prof. Anton M. Moeliono menempatkan unsur asli dalam lapisan terdalam (inti), dan kemudian diikuti unsur terjemahan, unsur serapan, dan kata asing yang dianggap warga tetap bahasa Indonesia (sesuai dengan nomor yang saya cantumkan).

Sebenarnya bahasa Melayu kaya akan kosakata, tetapi sayangnya banyak sekali kosakata bahasa Melayu itu yang tidak diajarkan di sekolah. Boleh jadi, kondisi inilah yang menimbulkan kecenderungan digunakannya kata serapan dalam bahasa Indonesia. Padahal, sejatinya, kata-kata asli bahasa Indonesia yang bersumber dari bahasa Melayu harus lebih diutamakan, misalnya kata perancang lebih utama ketimbang pendesain apalagi desainer.

Dalam kaitan ini, Prof. Anton Moeliono menyempatkan waktu minimal satu jam sehari untuk mendalami kamus. Dia pulalah yang menghidupkan kembali kata pantau (monitor), pindai (scan), ataupun canggih (sophisticated). Keuntungannya, kita tak harus menambah kata baru dalam kamus karena kata-kata itu memang sudah ada di dalamnya. Kini, kata- kata tersebut dihidupkan kembali atau bahkan diberi arti baru, seperti kata canggih yang arti lainnya adalah banyak cakap, bawel, cerewet. Namun, kini ada juga istilah teknologi canggih yang sama artinya dengan sophisticated technology.

Sekali lagi, dalam konteks pengutamaan bahasa Indonesia, sebaiknya kata-kata bahasa Indonesia diprioritaskan. Kuningan Summit yang belum lama berlalu, misalnya, ada baiknya diubah menjadi Pertemuan Kuningan atau Pertemuan Puncak Kuningan. Dalam bahasa Inggris, arti harfiah summit adalah puncak. Arti kiasannya, tertinggi.

Beberapa tahun lalu, di Jakarta juga pernah digelar National Summit. Penggunaan bahasa Inggris itu dipermasalahkan oleh para ahli bahasa karena ternyata pesertanya hanya pejabat tinggi Indonesia (tidak ada pejabat tinggi dari luar negeri). Karena alasan ini dan demi menjunjung tinggi bahasa Indonesia, media-media cetak berpengaruh tetap menggunakan istilah Temu Nasional atau Pertemuan Nasional, dan mengabaikan istilah National Summit tersebut.

Iklan

2 thoughts on ““Summit”

  1. Paragraf yang patut digarisbawahi dari tulisan ini:

    Bahasa Indonesia memang terdiri atas empat unsur, yakni (1) unsur asli atau induk yang bersumber dari bahasa Melayu (Riau), misalnya rumah, jalan; (2) serapan dari konsep asing dengan menggunakan kata bahasa Indonesia (bisa dikatakan bahasa terjemahan), misalnya sky scrapper menjadi pencakar langit; (3) kata asing yang diserap dengan penyesuaian (bisa dikatakan kata serapan) karena kata atau konsep tersebut tidak ada dalam bahasa Melayu, misalnya president menjadi presiden, general menjadi jenderal; dan (4) bentuk yang tetap dianggap asing tetapi sudah menjadi warga tetap bahasa Indonesia, misalnya assalamualaikum, alhamdulillah, tut wuri handayani, Pancasila, ataupun Bhinneka Tunggal Ika.

    Juga kalimat penjelas penyertanya yang menyebutkan penjelasan visual berupa lingkaran oleh Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia Prof. Anton M. Moeliono; beliau menempatkan unsur asli dalam lapisan terdalam (inti), dan kemudian diikuti unsur terjemahan, unsur serapan, dan terakhir kata asing yang dianggap warga tetap bahasa Indonesia.

    Akan selalu saya ingat, dan yang lebih penting lagi dipahami “di luar kepala”; semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s