Tuhan dalam Bahasa Indonesia

Majalah Tempo, 27 Jun 2010. Rohman Budijanto, Wartawan

Di saat kosmologi maju pesat, umat beriman masih belum juga menyesuaikan konsep di mana keberadaan Tuhan. Dalam kelaziman ungkapan sehari-hari, kuat terkesan Tuhan masih ditempatkan di atas, sehingga kata ganti Tuhan adalah “Yang di Atas”. Padahal, dalam konsep dan observasi kosmologi, tak ada atas dan bawah. Semua posisi relatif, tergantung pandangan pengamat.

Konsep ini tak jauh beringsut dari pengalaman zaman animisme. Dalam mempersepsikan permintaan kepada Tuhan, orang menggunakan kata “memohon”. Jelas ini sangat dekat dengan akar kata “pohon” (meskipun dari sana kemudian muncul pengembangan kata dasar “mohon”). Dalam kepercayaan animis, pohon menempati peran sentral, sebagai pusat keyakinan.

Selain sebagai tempat roh dan/atau yang diyakini punya kuasa, pohon menjadi tempat yang paling dekat ke langit. Puncak gunung pun kalah dekat dengan langit bila di puncak gunung itu ada pohon. Pohon dianggap menjadi tangga ke tempat transenden.

Tak aneh kalau meminta sesuatu, kaum animis akan memohon, mendatangi pohon. Dari sinilah diperkirakan munculnya istilah “memanjatkan” doa. Kata “memanjat” jelas sangat dekat dengan pohon, karena berarti naik pohon. Dengan memanjatkan doa, diharapkan doa bisa naik ke pohon menuju penguasa langit.

Konsep itu berasal dari zaman ketika atas, langit, menjadi sesuatu yang belum terpahami, misterius. Dalam khazanah banyak kebudayaan, langit menjadi tempat bersemayam dewa-dewa. Di sana para dewa berperilaku seperti manusia, termasuk kawin-mawin, dan dari sana berebut menguasai nasib manusia. Maka doa pun dipanjatkan atau dimohonkan kepada mereka, agar mereka mau berkompromi.

Kini, ketika orang sudah bisa saling mendoakan lewat short message service, istilah “memanjatkan”, “memohon”, dan “Yang di Atas” tetap tak disesuaikan. Padahal orang sadar bahwa memanjat itu tak secepat, misalnya, terbang atau meluncur. Kalaupun Tuhan tetap diyakini berada di atas, kenapa sekarang tak dipakai istilah menerbangkan atau meluncurkan doa?

Ketika agama-agama besar mulai berpengaruh, konsep dari zaman animisme ini tetap terpakai. Islam memang menyebut 99 nama Tuhan (asmaul husna), varian ”resmi” sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan juga disebut bersemayam di arsy, tempat transenden yang makna persisnya hanya Tuhan yang tahu. Tapi juga disebutkan Tuhan berada sangat dekat, sedekat urat leher kita.

Warga muslim tak pernah memakai ungkapan pengganti Tuhan dengan kata “Yang di Arsy” atau “Yang Paling Dekat”. Tak ada ungkapan, misalnya, “Kita serahkan nasib kepada Yang di Arsy” atau “Sukses atau tidaknya bergantung pada Yang Paling Dekat”. Pengungkapan seperti itu sangat asing. Tapi, kalau “Yang di Arsy” atau “Yang Paling Dekat” itu diganti dengan “Yang di Atas”, akan jadi lazim.

Orang Jawa kaya varian dalam menyebut kata ganti Tuhan. Selain istilah umum seperti “Ingkang Maha Kuwaos” (Yang Maha Kuasa), ada istilah “Sing Gawe Urip” (Yang Menciptakan Kehidupan), “Ingkang Murbeng Dumadi” (Yang Menyebabkan Segala yang Ada), “Ingkang Akarya Jagad” (Yang Menciptakan Semesta), juga “Ingkang Mboten Dhahar lan Sare” (Yang Tidak Makan dan Tidur).

Yang unik, Tuhan juga disebut “Pangeran”. Agak sulit mencari penyebab, kenapa Tuhan disebut “Pangeran”, sebuah gelar kebangsawanan. Kebetulan (atau tidak kebetulan) istilah ini mirip dengan salah satu sebutan Tuhan dalam bahasa Inggris, yakni “Lord”, yang juga menjadi gelar kebangsawanan.

Kesenangan membuat varian nama Tuhan ini tak membeku. Yang mutakhir, bahasa Jawa kontemporer mempopulerkan varian menarik untuk menyebut Tuhan, yakni “Sing Ngecet Lombok” (Yang Memberi Warna Lombok). Tuhan di sini jelas digambarkan “lebih dekat”, yakni dikaitkan dengan lombok, yang jadi makanan sehari-hari.

Aneka varian ini menunjukkan sikap lebih terbuka dan kreatif dalam memberikan warna-warni ekspresi keyakinan kepada Tuhan. Indah nian.

Sumber gambar: armandfti.blogspot.com

Iklan

9 thoughts on “Tuhan dalam Bahasa Indonesia

  1. “Yang Di Atas”. Bisa jadi kata ganti Tuhan ini yang menyebabkan kita seringkali merasa jauh dari-Nya.

  2. Dalam sebuah hadis sahih tersebut jawaban dari seorang sahaya perempuan saat menanggapi pertanyaan Baginda Nabi, “Di mana Allah (Tuhan)?” yakni penegasannya, “(Allah) di langit.” Langit adalah bagian alam semesta yang berada di atas makhluk hidup, manusia salah satunya, maka sewajarnya apabila Allah dilazimkan dengan frasa “Yang di atas”.
    Terlepas dari segenap teori astronomi, bagi orang beriman satu hadis ini saja sudah cukup sebagai dalil keberadaan Tuhan. Dengan kata lain, penetapan adanya tuhan di salah satu arah tidak serta-merta membuat sang Khalik terhina karena dikaitkan dengan salah satu makhluk/ciptaan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s