Peribahasa

KOMPAS, 1 Jul 2011. Kurnia JR, Cerpenis

Kalau di hutan tak ada singa, beruk rabun bisa menjadi raja. Peribahasa adalah cetusan ringkas yang mengandung pandangan bijak tentang hal-hal yang kita alami, hadapi, harapkan, hindari, pelajari, maknai agar mencapai keluhuran budi dan keselamatan dalam hidup.

Bahasa Melayu sebagai cikal-bakal bahasa Indonesia kaya dengan peribahasa. Setiap aspek dalam kehidupan sehari-hari, dari lingkup kecil rumah tangga sampai cakupan ketatanegaraan, ditelaah dan melahirkan ungkapan berupa peribahasa, pantun, pepatah, dan ujaran-ujaran yang padat makna.

Dari sudut ini kita patut maklum bahwa leluhur kita mewariskan harta pusaka yang tak ternilai sebagai pegangan hidup. Sayangnya, kenyataan yang ada sekarang justru mengundang kesimpulan bahwa kita adalah anak-cucu yang tidak tahu terima kasih.

Peribahasa mengatakan bahwa ”Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup becermin bangkai” yang bermakna lebih baik mati daripada menanggung malu. Siapakah yang menganut pandangan ini sekarang? Meskipun wajah sudah tercoreng akibat perbuatan korup, rasa malu tidak lagi terbit di hati. Hilang pula rasa dan sikap tanggung jawab.

”Siapa menabur angin akan menuai badai”. Peribahasa ini pun tampaknya kehilangan sihirnya di tangan para pejabat dan politikus. Badai bisa dibelokkan dengan uang atau gertakan untuk membongkar kebusukan lawan-lawan yang mengancam. Akibatnya, saya yang menabur angin, kalianlah yang menuai badai.

Peribahasa yang kontekstual dan aktual sekarang adalah ”ada ubi ada talas, ada budi ada balas”. Peribahasa ini terejawantahkan dengan tindakan suap atau sogok, biasanya kepada penegak hukum, pejabat eksekutif, dan para ”wakil rakyat” yang lemah iman. Seorang pengusaha merangkap politikus kerap kali murah hati kepada kepala lembaga perizinan dan hamba wet. Rupiah, baht, atau dolar diselipkan saat bersalaman.

Ada kecenderungan bahwa budi yang dimaksud tidak lagi berasosiasi dengan hal-hal yang baik dan positif sebab orang baik sekarang tidaklah beruntung. Orang jahat banyak akalnya sehingga orang baik tersandung-sandung.

Kita tahu peribahasa ini: ”Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Namun, boleh jadi kita meragukan kebenarannya sebab bangsa ini cenderung amnesia. Orang yang belum lama tertangkap basah berlaku serong mudah dipercaya kembali sebagai pemuka. Kita pun berkilah bahwa kesalahannya dulu hanya kelemahan manusiawi.

Ada seorang politikus sedang dikejar KPK, tapi berhasil kabur ke Singapura. Sungguh tega dia membiarkan teman-teman separtainya dipandang sama buruknya oleh rakyat senegara. ”Ikan sekambu rusak oleh ikan seekor”.

Jika ikan kecil saja sanggup membuat runyam partai dan semua lembaga penegak hukum, kita pun patut bertanya, apakah di negeri ini sudah tidak ada lagi singa untuk menjadi raja?

Sebuah bidal kuno berbunyi, ”Jadilah kumbang, hidup sekali di taman bunga; jangan jadi lalat, hidup sekali di bukit sampah.” Apa jawab kita bersama-sama? ”Emang gue pikirin!” Di sinilah bahasa menunjukkan bangsa.

Iklan

6 thoughts on “Peribahasa

  1. Indah sekali artikel ini. Rasul bersabda, “Alhaya-u minal iman (Rasa malu adalah bagian dari iman).” Semoga para koruptor sadar bahwa ketika rasa malu hilang, mereka telah mempermalukan diri dan bangsa ini.

  2. mohon penjelasannya, pada alinea ke enam , baris ke empat :

    kepala lembaga perizinan dan hamba wet. Rupiah, baht, atau dolar diselipkan saat bersalaman.

    apa itu -hamba wet- ?

    terima kasih sebelumnya, ini artikel yang sangat bagus

    • pe·ri·ba·ha·sa n 1 kelompok kata atau kalimat yg tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu (dl peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan); 2 ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku

      (http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s