Bahasa yang Sungsang

KOMPAS, 8 Jul 2011. Salomo Simanungkalit

Daerah Khusus Ibukota Jakarta diurus dengan bahasa yang sungsang. Sungsang berarti terbalik: yang di atas menjadi di bawah, yang di depan menjadi di belakang, kepala di bawah kaki di atas. Sungsang kalak itu jungkir balik.

Bahasa yang sungsang, ya, bahasa yang jungkir balik. ”Katakan tidak pada korupsi,” kata beberapa tokoh partai dalam iklan TV sepanjang kampanye Pemilu 2009. Namun, yang terus diberitakan sejak akhir 2009 adalah korupsi dan korupsi. Itulah bahasa yang sungsang: tidak bermakna ya. ”Katakan tidak pada korupsi” berarti ”Katakan ya pada korupsi.”

Apa urusan dengan DKI? Tak ada memang. Mari menyusuri tepi Kali Ciliwung dari Jalan RM Margono Djojohadikoesoemo ke Jalan Galunggung hingga Jalan Sultan Agung. Yang tak berumah di Jakarta, lupakan rincian ini. Di sepanjang tepi kali itu terpancang beberapa papan maklumat dengan seruan: ”Stop…!!! Buang sampah ke kali.” Maklumat itu dikeluarkan Suku Dinas Kebersihan Kota Administratif Jakarta Selatan mengacu kepada Perda DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 1988 tentang Kebersihan Lingkungan dalam Wilayah DKI Jakarta.

Menurut pedoman EYD, tanda ”!” dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat. Dalam maklumat versi Kota Administratif Jakarta Selatan itu, tanda ”!” diletakkan sesudah kata stop, kemudian menyusul perintah lain: ”Buang sampah ke kali.” Artinya, setiap orang yang mendekat kepada papan maklumat itu disuruh stop lalu diperintahkan membuang sampah ke kali.

Alangkah bahaya perintah itu! Jika orang yang mendekat maklumat itu tak membawa reja-reja, haruskah ia mencari-cari entah dari mana untuk dicampakkan ke Ciliwung sebelum melanjutkan perjalanan? Mari memeriksa Perda DKI Nomor 5 Tahun 1988. Pada Pasal 4 tercantum bahwa setiap penduduk atau pemilik dan penghuni bangunan dilarang ”membuang dan menumpuk sampah di jalan, jalur hijau, taman, sungai, saluran, dan tempat umum kecuali di tempat-tempat yang telah ditetapkan oleh Gubernur Kepala Daerah”. Jadi, sebetulnya maksud pengelola Kota Administratif Jakarta Selatan itu adalah ”Stop buang sampah ke kali!”

Bahasa yang sungsang tak berhenti sampai di situ. Terusan yang digali di bagian barat dan timur wilayah DKI untuk menghindari banjir dengan biaya triliunan rupiah itu malah dinamai dengan Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Banjir adalah peristiwa seketika. Ia harus diatasi, bukan malah dipelihara. Namun, di ibu kota Republik Indonesia banjir diabadikan sebagai nama. Slamet dilestarikan sebagai nama seorang anak supaya ia selamat dalam hidupnya. Jaya dilanggengkan demi nama toko agar pembeli tak putus-putus belanja di situ hingga pemilik toko kaya lalu berjaya. Maka, pengawetan ”Banjir Kanal Barat” dan ”Banjir Kanal Timur” sebagai nama wadah berarti pengelola DKI selaku pemberi nama berkeinginan kedua kanal saecula saeculorum meluap dan menciptakan banjir abadi di Jakarta.

Kemarin masih tertempel stiker ”STOP!!! Korupsi sekarang juga. GN-PK Pusat” di beberapa bus Jakarta. Penumpang diinstruksikan stop sebagai orang baik-baik lalu berbalik jadi seorang koruptor sekarang juga.

Iklan

2 thoughts on “Bahasa yang Sungsang

  1. iya ya keren! aku sih sebenarnya ga nyadar artinya kayak gitu.. tapi aku paham kok maksud pemerintah atau yang buat pengumuman.

  2. Hm… kesalahan bahasa tulis yang tidak dianggap salah menurut bahasa lisan. Sudah pasti pembuat kesalahan itu kurang mengindahkan “kebenaran” versi EYD, juga kurang peka terhadap budaya. Semoga saja, si pembuat ini tidak akrab juga dengan “budaya” korupsi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s