Bahasa Perilaku (2)

Lampung Post, 13 Jul 2011.  Agus Sri Danardana, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Riau

PERHATIKAN kutipan berikut ini.

Mbok perusahaan itu buka cabang yang mengurus Asia Tenggara dari sini, Ko. Atau paling tidak di Singapura begitu. Jadi, bapak-ibumu bisa dekat dari kalian.”

“He, he, Ibu. Kalau perusahaan itu punya saya atau taruhlah Alan Bernstein, mungkin bisa diatur. Ini milik pemegang saham bule-bule ….”

“… dan Yahudi, kan? Eh, eh, Papi, Papi. Claire, oh Claire, maafkan Ibu, ya?”

“Aha, tidak apa, Bu. Tidak apa. Saya memang seorang Amerika-Jewish, kan?” (hlm. 109-110)

Pada kutipan itu terihat bahwa ketika berbicara dengan Eko dan Claire, Sulistianingsih (ibu Eko) mempergunakan bentuk persona kedua: kalian (untuk Claire dan Eko) serta mempergunakan bentuk honorifik: ibu (untuk dirinya sendiri). Sebaliknya, karena statusnya lebih rendah (sebagai anak dan menantu), Claire dan Eko hanya dimungkinkan untuk menggunakan bentuk saya (untuk diri sendiri) dan bentuk honorifik: (i)bu, bukan kamu atau engkau, (untuk ibu dan mertuanya).

Pronomina kekuasaan (pronouns of power) seperti itu, menurut Brown dan Gilman (dalam Budiman, 1994:37), berlawanan dengan pronomina solidaritas (pronouns of solidarity). Jika pronomina kekuasaan memperlihatkan adanya hubungan hierarkis: tinggi-rendah, pronomina solidaritas memperlihatkan adanya hubungan antarindividu yang sederajat dan tanpa perbedaan status. Sifat hubungan antistruktur (tidak membeda-bedakan status) itu merupakan tanda adanya komunitas, seperti tampak pada hubungan Eko, Claire, dan Alan Bernstien. Ketiganya cukup menggunakan bentuk persona pertama: aku atau saya (untuk dirinya) dan bentuk persona kedua: kamu, engkau, kalian, atau nama diri (jika saling mengacu), seperti tampak pada kutipan berikut.

Eko dan Claire melongo mendengar perkataan Alan Bernstein.

“Maksud, Alan?”

“He, he, he. Kalian berdua akan dikirim berbulan madu ke Tokyo, Taipei, Hong Kong, Singapura, Kuala Lumpur, dan Jakarta.”

Mereka berteriak bersama.

“Alan! Yang benar!” (hlm. 72)

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antistruktur (tidak membeda-bedakan status) seperti itu tampak dengan jelas diperagakan oleh para penyiar/pembawa acara di hampir semua media massa elektronik yang melakukan wawancara/dialog. Dalam acara-acara itu mereka selalu menggunakan bentuk persona pertama: aku atau saya (untuk dirinya) dan bentuk persona kedua: Anda saat menyapa orang yang diwawancarai.

Bentuk honorifik, seperti bapak dan ibu, tidak lagi mereka gunakan. Siapa pun yang mereka wawancarai (tidak terkecuali presiden, menteri, orang tua, dan anak-anak), disapanya dengan Anda.

Pertanyaannya sekarang adalah mungkinkah bergesernya sifat hubungan masyarakat, yang semula bersifat societas (terstruktur) menjadi komunitas (antistruktur), seperti itu terkait dengan isu memudarnya rasa nasionalisme, jatidiri, serta karakter sebagian besar bangsa Indonesia yang tersiar akhir-akhir ini? Wallahualam bissawab.

« Baca juga bagian pertama tulisan ini

Iklan

2 thoughts on “Bahasa Perilaku (2)

  1. Ping-balik: Bahasa Perilaku « Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s