Maklun

KOMPAS, 22 Jul 2011. Lie Charlie, Sarjana Tata Bahasa Indonesia

Melalui rubrik ”Redaksi Yth” Kompas edisi 7 Juli lalu, Anton M Moeliono, ahli bahasa yang bereputasi dan disegani, memberi pencerahan mengenai padanan kata outsource dan outsourcing. Terpilihlah kata sumberluar sebagai kata benda yang paling sesuai untuk memadani outsource, dibandingkan dengan alih daya yang tidak menyiratkan ”dari luar atau ke luar” atau aliheja ofsor. Sumberluar dijelaskan dapat diturunkan menjadi menyumberluarkan, disumberluarkan, dan penyumberluaran.

Pada kesempatan itu dijabarkan bahwa outsourcing berarti ’praktik menyubkontrak pekerjaan (manufaktur) kepada pihak di luar perusahaan’. Kata outsourcing memang pantas dicarikan jodohnya dalam bahasa Indonesia karena memang ada kebutuhan dalam komunikasi dunia usaha dewasa ini untuk mengungkapkan praktik tersebut yang semakin kerap terjadi.

Di Bandung dengan sejarah pertumbuhan industri tekstil (kain) dan garmen (pakaian jadi) panjang, selama ini orang menggunakan kata maklun sebagai pemadan outsourcing. Dalam kamus WJS Poerwadarminta, maklun dimaknai sebagai ’upah membuat (pakaian) dan sebagainya’. Ada catatan bp di sana yang mengisyaratkan bahwa maklun merupakan bahasa pergaulan. Memang terjadi sedikit pergeseran makna kata maklun, namun rohnya sama.

Sudah sejak dulu pabrik tekstil dan garmen di Bandung melakukan maklun sebab bisa lebih hemat dan biasanya satu pabrik tak memiliki kapabilitas mengerjakan seluruh rangkaian pekerjaan. Industri tekstil dan produk tekstil dapat dibagi menjadi beberapa bagian utama: memintal kapas atau serat lain menjadi benang, menenun atau merajut benang menjadi kain, mencelup benang atau kain, mencetak motif di atas kain, serta menjahit kain menjadi pakaian.

Pak Akong yang punya pabrik garmen sering sekali menerima pesanan yang kainnya harus berwarna atau bermotif tertentu. Untuk memperoleh kain tersebut, ia mesti melakukan maklun kepada pabrik kain yang memiliki fasilitas celup atau cetak. Ia tinggal pesan warna dan motifnya. Setelah kain selesai diproses, barulah Pak Akong dapat mengerjakan pesanan orang dengan menjahit kainnya menjadi pakaian.

Pak Akong tak mungkin mendirikan pabrik kain dan pabrik celup serta pabrik cetak sendiri sebab makan modal dan makan hati. Sebaliknya, ia juga tak jarang menerima maklun dari pihak luar yang hendak membuat pakaian model tertentu dan menyerahkan kain kepadanya. Kadang-kadang ada pesanan pakaian yang bagian tertentunya mesti dibordir, maka Pak Akong–setelah kain dipotong menurut pola–harus memaklunkannya kepada pabrik bordir.

Dengan maklun, semua pekerjaan dapat diselesaikan industri tekstil dan produk tekstil di Bandung dengan biaya relatif bersaing. Asal tahu saja, seragam polisi Republik Jerman pun dibuat oleh sebuah pabrik di Rancaekek, Kabupaten Bandung!

Industri lain juga mengenal outsourcing, maklun. Pak Asep yang pandai besi hanya menempa kepala kapak. Gagang kapak yang terbikin dari kayu dimaklunkannya kepada pihak luar. Kata Pak Asep, ”Bagi-bagi rezeki.” Hanya pihak bermodal sangat besar mampu menguasai suatu industri dari hulu sampai hilir dan itu disebut serakah. Kiranya kini kita punya sumberluar atau maklun sebagai jodoh outsource dan outsourcing.

Iklan

5 thoughts on “Maklun

  1. “Maklun” berasal dari bahasa Belanda maak, maken = membuat, dan loon = ongkos atau upah. Jadi, makloon bermakna “ongkos membuat”. Misalnya kalau kita datang ke penjahit membawa selembar bahan kain untuk dijahitkan menjadi kemeja, kita akan tanya kepada penjahitnya, “Berapa maklunnya?”, maksudnya “berapa ongkos jahitnya?”. Contoh lain, di toko emas, sebuah cincin dihargai Rp1.050.000,- dengan rincian harga bahan Rp1.000.000,- , dan maklunnya (ongkos membuatnya) Rp50.000,-
    Memadankan “memaklunkan” dengan “outsourcing” bisa cukup efektif bila hanya sekadar untuk menjelaskan contoh secara awam. Tetapi hal ini menjadi terlalu tersederhanakan (over simplified) apabila diterapkan sebagai istilah teknis (technical terms) di bidang profesi, misalnya dalam buku teks atau bahan ajar manajemen bisnis. Dlm contoh di atas, orang datang ke tukang jahit dengan membawa bahan kain untuk “dimaklunkan” menjadi sebuah kemeja, sedangkan dalam kasus yang dicontohkan Lie Charlie, pengusaha garmen (Pak Akong) datang ke pabrik kain untuk “dibuatkan” kain dengan jenis dan motif tertentu. Dalam transaksi dengan penjahit, ada kain yang “dimaklunkan” menjadi kemeja, sedangkan Pak Akong datang ke pabrik tekstil tanpa membawa sesuatu untuk dimaklunkan. (Mungkin dia hanya bawa uang, dapatkah uang dimaklunkan menjadi kain?)
    Dalam bidang manajemen bisnis, kalau transaksi seperti pabrik garmen dan pabrik tekstil itu dicontohkan sebagai peristiwa “outsourcing”, dikhawatirkan akan menimbulkan kesan kurang tepat, sebab prosedur semacam itu bisa juga hanya merupakan transaksi antara manufacturer dan supplier biasa/
    Kasus yang lebih tepat dicontohkan ialah transaksi antara perusahaan besar dengan perusahaan pemasok tenaga. Misalnya PLN atau PDAM “meng-outsourcing-kan” pekerjaan mencatat meter listrik ke rumah pelanggan. Atau hotel yang “menyewa” tenaga satpam dari koperasi purnawirawan polisi.
    Nah, … apakah transaksi outsourcing semacam ini akan dinamakan “pemaklunan”, tentu tidak tepat.

    Salam,
    Setyadi

  2. Kalau dari asal usulnya yang konon bahasa belanda, mungkin benar kalau makloon dimaknai ongkos saja. Tapi dalam perkembangnnya tidak sekedar membayar ongkos saja yang dimaknai makloon. Pabrikan rotan di di Cirebon juga menyebut makloon untuk memaknai orang yang mengambil sebagaian pekerjaan pabrik seperti membuat rangka, membuat anyaman. Jadi pabrik justru hanya finishing saja.
    Kalau ini diperbandingkan bisa lebih gede lagi. PT DI juga sering mendapat orderan untuk mengerjakan sebagian pekerjaan BOEING maupuan AIRBUS. Jadi kalau diperumpamakan seperti pabrik rotan tadi, maka sebenernya BOEING dan AIRBUS melakukan makloon kepada PT DI. Bisa jadi kalau begini Makloon mungkin sudah berevolusi makna seiring dengan pemahaman generasi saat ini. Mungkin ini yang perlu kesepakatan alias konsensus. bukankah bahasa itu juga hanya konsessus…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s