Kebetulan

KOMPAS, 29 Jul 2011. Samsudin Berlian, Pengamat Makna Kata, Sarjana Teologi

Sering kita dengar orang berkaok-kaok berani mati ”demi kebenaran!”, tapi boleh dikata tak pernah terdengar ada yang bertekad berjuang ”demi kebetulan!” Kebenaran dianggap layak didukung dan dipertahankan; sedangkan kebetulan adalah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, karena itu tidak bisa dibela, ditentang, atau disangkal, hanya bisa diterima dan ditanggung.

Bukanlah kebetulan bahwa suatu kejadian yang tak terduga disebut kebetulan. Kebetulan mencerminkan falsafah pemaknaan kehidupan yang selaras dengan kehendak Alam Semesta, dengan kehendak Yang di Atas, dan dengan kehendak penguasa. Apa yang sudah ditentukan Sang Ilahi itulah yang betul, yang benar. Penolakan terhadap apa yang ada, yang sudah terjadi, adalah sikap tak ikhlas yang negatif; sama dengan pemberontakan terhadap keputusan Yang Mahakuasa.

Apabila Dewata berkehendak, maka kehendak-Nya pastilah tak sama dengan kehendak manusia, di luar jangkauan pemikiran manusia, tak bisa diperkirakan manusia, tak terduga, luar biasa, tak bisa dipahami; tapi justru itulah yang betul. Semua usaha pemikiran dan tindakan manusia bukan hanya tak berdaya, gagal, dan kalah, tapi juga salah. Manusia perlu menyesuaikan dirinya, pemikirannya, tindakannya, dengan kehendak Sang Hyang Widhi, dan itulah kebetulan.

Dalam bentuk yang lebih spesifik, kebetulan memecah menjadi dua kata yang saling berlawanan: untung dan sial. ”Untung saya selamat”, ”Sial dia mati”, bukanlah akibat tindakan atau kelalaian diri sendiri atau pun orang lain, melainkan kehendak Allah. Itu sebabnya, sebagian orang bersusah-payah menghabiskan waktu panjang pergi ke dukun mengikuti pantang dan memenuhi syarat ini itu supaya lulus ujian sarjana, alih-alih belajar dan mendalami teknik mengasah otak. Dan, tentu saja, kita tak kekurangan cerita tentang para paranormal yang panen raya setiap menjelang pemilihan umum.

Pandangan dunia serba kebetulan juga membuat banyak warga Nusantara sangat ulet tawakal sabar pasrah berserah menghadapi dan menanggung segala kesulitan dan kepahitan hidup. Kesengsaraan dan kemiskinan bukan apa-apa melainkan ”kebetulan sedang susah”.

Orang beragama yang menuduh orang yang percaya kebetulan sebagai tak bertuhan–berdasarkan argumen bahwa segala sesuatu ditentukan Tuhan, jadi tidak ada kebetulan–telah keliru memahami alasan orang untuk percaya terhadap kebetulan. Justru orang yang menerima kebetulan sebagai bagian dari penentu kehidupannya sangat yakin terhadap campur tangan Tuhan. Hanya orang yang percaya bahwa dia punya kemandirian itulah yang bisa dan mau melepaskan diri dari falsafah ”kebetulan”.

Kebetulan adalah kebenaran yang terjadi tanpa rancangan manusia.

Lebih dari itu, kebetulan adalah kebenaran yang ditentukan oleh Yang Mahakuasa sendiri! Kebetulan adalah kenyataan yang sudah seharusnya terjadi! Tidak ada yang lebih benar daripada kebetulan sebab, berbeda dengan kebenaran manusiawi yang masih bisa keliru, kebetulan adalah kebenaran dewata yang tak terbantahkan. Selama ribuan tahun para filsuf di seluruh dunia bertanya-tanya, ”Apakah kebenaran?” Tanpa ragu para begawan, pujangga, dan munsyi Nusantara menjawab ”kebenaran adalah kebetulan!”

Iklan

2 thoughts on “Kebetulan

  1. Sedikit suntingan beberapa kata yang tidak sesuai EYD:
    1. Alam Semesta, sebetulnya alam semesta
    2. Dewata, sebetulnya dewata
    3. “syarat ini itu”, sebetulnya “syarat ini-itu”

  2. Pemaknaan baru terhadap kata “kebetulan”

    Membaca tulisan Pak Samsudin Berlian membuat saya seperti sedang belajar bahasa Indonesia lagi :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s