Pak Ton

Lampung Post, 31 Jul 2011. Djadjat Sudrajat

TAHUN 1980-an bendera Orde Baru tengah berkibar tinggi-tinggi. Mereka yang vokal dicekal, termasuk seniman. W.S. Rendra, penyair yang bergelora itu, salah satunya. Tetapi, di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, sang Burung Merak itu tampil aman. Menghipnosis ratusan penonton dengan sajak-sajak pamfletnya. Mungkin saja ada beberapa intel berkeliaran.

Seorang yang berpenampilan paling perlente, berkemeja putih, berjas hitam, dan berdasi merah marun, ada di tengah-tengah penonton. Dr. Anton Moedardo  Moeliono, penonton perlente itu, adalah “komandan” (baca: kepala) Pusat Bahasa. Dialah yang paling bertanggung jawab atas keberadaan sang penyair itu. Nyali pejabat seperti ini bolehlah!

Itulah pertama kali saya melihat Pak Ton secara jelas. Meskipun ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, saya sebagai mahasiswa di fakultas itu  belum pernah bertemu Pak Ton. Bahkan hingga tamat saya tidak pernah diajar Pak Ton. Dari para senior, saya mendengar ia dosen yang ilmunya dalam, berdisiplin tinggi, dan pelit dalam soal nilai.

Saya justru dekat dengan penerima Bintang Jasa Utama RI (2006) itu setelah tamat kuliah. Menjelang Bulan Bahasa Oktober 1991, sebagai wartawan  Media Indonesia, saya mendapat tugas  mewawancarai Pak Ton. Hasil wawancara dimuat satu halaman di edisi Minggu. Pak Ton amat puas dengan wawancara itu. Menurut dia, baru kali ini ia diwawancarai panjang lebar soal kebahasaan oleh sebuah koran nasional. Padahal, sebagai pakar bahasa, nama Pak Ton sudah amat populer. Selain sebagai pengajar yang berkelas, ia juga menulis banyak buku dan artikel ilmiah. Wajahnya pun sangat familiar bagi sebagian penonton TVRI, karena sepekan sekali setiap pukul 18.30 ia membawakan acara Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia. Pak Ton jugalah yang punya gagasan program ini.

Kelahiran Bandung, 21 Februari 1929, itu  mengkliping hasil wawancara itu, memfotokopi, dan membagi-bagikan kepada banyak orang. Dalam pengantar wawancara itu saya menyebut, Pak Ton, “Sebagai ahli bahasa yang penampilannya bak juragan real estate”. Hasan Alwi, pengganti Pak Ton, di Pusat Bahasa, juga pernah mengutip soal “juragan real estate” itu pada sebuah acara.

Sejak pemuatan wawancara, penerima Doctor of  Letters Honoris Causa dari Universitas Melbourne,  itu sering menelepon saya. Kadang sekadar bertanya kabar. Yang paling sering memang berdiskusi soal kebahasaan. Ia, misalnya, memberikan masukan ketika banyak koran menulis layar gelas sebagai padanan televisi. “Sebaiknya, jangan layar gelas. Tulis saja layar kaca. Layar kaca jauh lebih pas daripada layar gelas,” kata dia suatu saat. Kata mantan, rekayasa, canggih, pantau–hanya menyebut beberapa—yang kini menjadi amat terbiasa diucapkan lidah kita, juga berkat Pak Ton.

***

SUATU hari Pak Ton menjemput saya di kantor dan mengajak makan gado-gado, makanan kesukaannya, di Lapangan Golf Rawamangun, Jakarta Timur. Saya terkejut ketika Pak Ton menawarkan menu makanan dengan ber-“lu-gue”. “Ayo, Djat, lu mau makan apa? Kalau gue sukannya gado-gado. Gado-gado di sini rasanya mantap. Lu pilih aja mana yang suka?” Semua orang tahu, Pak Ton penganjur penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Setiap bicara pilihan katanya amat terjaga. Ia suka  ber-“Anda” kepada lawan bicaranya. “Anda” menjadi populer juga berkat upaya Pak Ton. Ia pula tokoh di balik diberlakukannya secara resmi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada 1972 dan  lahirnya Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988).

Soal sosialisasi kata “Anda” Pak Ton punya cerita. Menjelang Kongres Bahasa Indonesia IV pada 1988, ia mengirim surat kepada Menteri Sekretaris Negera Moerdiono untuk menjadi salah satu pembicara. Suatu hari Moerdiono menelepon menanyakan materi apa yang harus ia bawakan. “Ya, Anda kan yang bertanggung jawab terhadap pidato-pidato Presiden Soeharto, buat saja tulisan ‘Bahasa Indonesia dalam Pidato Presiden’,” jawab  Pak Ton enteng. Rupanya, Moerdino tersinggung dengan sapaan “Anda”. “Oh, ini yang namanya Anton Moeliono, yang kalau berbicara suka ’ber-Anda-Anda’ itu,” kata Moerdiono ketika bertemu Pak Ton di kongres.

Sambil makan gado-gado itulah penyuka tokoh pewayangan Arjuna itu bercerita masa kecilnya di Bandung yang serbakekurangan. Untuk membantu ekonomi keluarga, ketika SMP ia berjualan kue dan sulaman buatan sang ibunya. Anak ketiga dari lima bersaudara itu, tak pernah patah semangat. Cita-citanya menjadi dokter. Tapi, ia menjadi ahli bahasa paling terkemuka di Indonesia. Di tengah kesibukannya, ia tak pernah menolak setiap saya  minta Pak Ton menulis artikel untuk  Media Indonesia.

Sudah pasti, tulisan-tulisan terbaru Pak Ton tak akan kita baca lagi. Maut telah menjemputnya  Senin malam silam. Ia wafat pada usia 82 tahun di RS Medistra, Jakarta. Sejak 24 Juni, ia memang dirawat di rumah sakit ini. Dua pekan silam, Eko Endarmoko–penulis Tesaurus Bahasa Indonesia—memberi tahu saya Pak Ton masuk rumah sakit. Saya berniat membesuknya, tetapi karena buru-buru harus ke Lampung, niat itu tak terlaksana.

Saya hadir di rumah duka, Jalan Kertanegara 51, Jakarta Selatan, sehari sebelum almarhum dikremasi. Saya salami Cecilia Soeparni Josowidagdo, istri almarhum, yang berdiri tabah  didekat jasad sang suami. Saya pandangi wajah almarhum, yang terbaring dalam peti mati. Ia seperti tersenyum. Saya berdoa semoga Tuhan memberikan tempat terbaik bagi seorang “penjaga gawang Bahasa Indonesia” yang tiada tandingannya itu.

Jujur saja, setelah Pak Ton tak lagi mengomandani Pusat Bahasa, lembaga itu seperti kehilangan marwah. Ia seperti pusat yang meluruh. Pak Ton, selamat jalan. Semoga “Anda” bahagia di surga yang “Anda” impikan.

Iklan

One thought on “Pak Ton

  1. It’s any shame you do not possess a give button! I’d certainly donate to the outstanding web site! I suppose for now i’ll are satisfied with bo-rmoakking and adding your Rss feed to our Google bill. I enjoy brand fresh updates all of which will talk relating to this blog with my Facebook group. Talk shortly!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s