Ex(-)

KOMPAS, 5 Agu 2010. Kasijanto Sastrodinomo,  Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Vivi, mahasiswi bermata kelinci itu, tampak kesal. Kereta api ulang-alik yang saban kali dia tumpangi dari stasiun Tebet ke kampusnya di Depok sering molor karena alasan teknis. Akibatnya, dia pun sering telat masuk kelas. ”Padahal keretanya ex Jepang,” katanya. Dengan anak kalimat itu dia ingin membangun suatu argumen positif bahwa kereta tersebut dibuat dan didatangkan dari suatu kultur yang berdisiplin kuat sehingga patut ditiru. Komentar Alex, temannya, agak berbeda. Meski dia mengakui kereta itu terasa nyaman, ”Tetap saja kereta ex.”

Keduanya menjumput kata ex, atau eks dalam ejaan Indonesia, dalam konteks yang berbeda. Ex yang pertama merupakan preposisi ‘dari’; jadi ex Jepang berarti ‘(berasal) dari Jepang’. Ex kedua mestinya berfungsi prefiks yang membentuk nomina atau adjektif dalam arti ‘bekas’; jadi, kereta ex adalah ‘kereta bekas’. Namun, ungkapan ini bentuk cakapan informal yang tak lengkap dan terasa aneh. Sebagai awalan, ex- selalu melekat di depan nomina disertai tanda hubung, semisal ex-minister ‘bekas menteri’ dalam bahasa Inggris. Atau lebur sebagai verba, seperti exclude yang terbentuk dari ex- dan clud (Latin). Tentang kereta bekas (pakai) Jepang, sebut saja ‘eks-kereta Jepang’

Penggunaan ex dalam arti ‘bekas’ terhadap benda mati tepat adanya. Namun, mungkin bisa timbul rasa tak nyaman bila diterapkan kepada manusia karena kata bekas berasosiasi dengan ‘rongsokan’, ‘sisa’, dan semacamnya. Istilah Biologi excretion yang di entri Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa menjadi ekskresi mempunyai arti ‘pengeluaran atau pembuangan ampas hasil metabolisme yang tidak dibutuhkan oleh tubuh’. Sementara itu, ekskreta (dari excreta) adalah ‘produk buangan seperti air kencing, tinja, atau peluh yang dikeluarkan oleh tubuh’.

Maka, bisa dipahami bila ada yang merasa risi jika ex ini ditujukan kepada orang. Meski ex-Prime Minister biasa berlaku di Inggris, rasa bahasa kita tampaknya kurang sreg saat menyebut ”bekas presiden”. Kita memilih veteran alih-alih ‘bekas tentara’ yang merupakan terjemahan ex-serviceman. Lain halnya terhadap pesakitan atau penjahat, kita ikhlas mengucapkannya, seperti ”bekas narapidana” atau ”bekas teroris”.

Untunglah kita memiliki mantan yang dalam KBBI diartikan ‘bekas pemangku jabatan atau kedudukan’. Artinya, pemaknaan kata itu khusus untuk manusia. Saat memperkenalkan narasumber yang ”bekas direktur”, pemandu diskusi bisa menggantinya dengan mantan direktur; atau dalam kalimat ”pernah menjadi direktur”. Wanita yang berpisah dari suaminya, yang dalam bahasa Inggris disebut ex-wife, mungkin merasa nyaman disebut mantan istri ketimbang bekas istri karena, bagaimanapun, dia pernah jadi ”pemangku”—seturut rumusan KBBI—di sisi suami.

Warga penghuni Jalan Kalimantan di Perumnas Depok sering jengkel. Pasalnya, badan jalan itu hancur mumur setiap musim hujan, sampai-sampai nama jalan itu dipelesetkan jadi ”mantan kali”. Pemukim di jalan itu antara lain Sapardi Djoko Damono (penyair), Ayatrohaedi (bahasawan, almarhum), dan Hasan Djafar (arkeolog). Patut diduga merekalah yang menyebarkan pelesetan itu.

 

Iklan

One thought on “Ex(-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s