Ng(eh)

KOMPAS, 26 Agu 2011. Kasijanto Sastrodinomo, Dosen pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

Bolak-balik saya baca Ngeh, kumpulan esai dramawan Putu Wijaya, tetapi tak ketemu sepotong kalimat pun yang menjelaskan arti judul buku itu. Penulis bunga rampai tak menyertakan alasan mengapa tajuk bukunya berbunyi begitu. Kata pengantar Jakob Sumardjo juga tak menyinggung maksud sesorah itu. Hanya ada semacam isyarat: buku itu layaknya kamus untuk memahami pemikiran kebudayaan versi sang dramawan. Maknanya, sebagai ”kamus”, Ngeh akan membawa pembacanya mengerti akan belantara soal kebudayaan.

Maka, di sini relevan menengok ngeh pada bahasa Betawi yang berarti ’mengerti’ atau ’memahami’, seperti kalimat ”Gua baru ngeh setelah die jelasin maksudnye”, atau ’Saya baru paham setelah dia menjelaskan maksudnya’ dalam ragam formal. Pada Kamus Bahasa Betawi-Indonesia suntingan Bundari, putra asli Betawi, lema kata itu tertulis engeh, sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa disurat engah. Kalau begitu, ngeh atau ngah merupakan pemendekan dua kata itu sehingga menonjolkan bentuk ng. Bahasa Betawi kaya dengan bentuk ini, semisal ngablak, ngacir, ngakak.

Lain halnya penjelasan tentang ng dalam ilmu bahasa. Menurut Harimurti Kridalaksana dalam Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, ng adalah simulfiks, bukan prefiks (awalan), meski keduanya adalah jenis imbuhan. Simulfiks diwujudkan dengan penyengauan bunyi pertama suatu bentuk dasar, dan berfungsi membentuk verba (memverbalkan nomina), adjektiva atau kelas kata lain. Contoh: rujak (nomina) menjadi ngrujak (verba); kendur (adjektiva) menjadi ngendur.

Simulfiks ng hanya terjadi dalam cakapan lisan yang tak-baku dan, karena itu, cukup alasan untuk diasingkan dari ragam resmi. Ada kalanya ng dianggap merusak tatanan bahasa yang baik dan benar. Dalam menulis skripsi, misalnya, mahasiswa sangat dianjurkan menghindari—kalaupun tak bisa dilarang—penggunaan bentuk ng karena dianggap tak ilmiah. Kalimat ”Sejak abad ke-19, ngudud dan ngopi sambil ngobrol telah meluas di pedesaan Jawa” yang ditulis dalam skripsi sejarah sosial bisa menjadi masalah di meja ujian.

Namun, sulit rasanya menghindari ng sepenuhnya. Kelenturan adaptasinya dengan berbagai jenis kata dasar, termasuk kata asing dan singkatan, membuat ng sangat mangkus membentuk kalimat bahasa Indonesia. Semasa menjadi ketua LHI (Lembaga Humor Indonesia) pada 1980-an, Arwah Setiawan sering mengkritik, ”Tampilan lawak di televisi kita kurang ngel-ha-i.” Kalimat itu lebih efektif ketimbang ragam resmi yang terasa panjang: ”Tampilan lawak di televisi kita kurang memenuhi patokan versi LHI.” Patokan yang dia maksud adalah bahwa lawakan itu mestilah serius dan cerdas, bukan cengèngèsan belaka.

Iseng-iseng saya pernah bertanya kepada petugas musala di kampus mengapa namanya Ngumar, bukan Umar yang jamak dikenal. Jawabannya menarik, ”Lebih njawani dan santai.” Baginya, Umar terlalu anggun karena menyangkut nama sahabat Nabi. Jadi, mengikuti jalan pikiran lelaki asal Kebumen itu, ng adalah tafsir budaya akulturatif dari suatu ”narasi besar” yang universal.

Iklan

One thought on “Ng(eh)

  1. Ayo NGrayain lebaran dengan guru NGaji, trus NGobrol dan NGomong Ngalor Ngidul sambil NGopi. Aku sih NGgak pernah NGudut atau NGrokok, paling seneng NGumpul dengan temen2 aja. NGapain bingung? Paling kalo dah bosen NGakak-NGakak dan NGegangguin temen yang lagi NGantuk, NGacir aja ke Mall, NGEbioskop, NGeborong barang diskon, ya .. ini sekedar NGomporin temen-temen yang pada NGEndon di rumah. Atau mungkin sedang NGebabat singa mati yang lagi NGeroyokin temen-temen.Tapi semoga postingan ini NGgak NGaruh buat mereka yang sedang NGebut NGejar singa yang NGeraung-raung .. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s