Jibaku

Majalah Tempo, 19 Sep 2011. Veven Sp. Wardhana

Jibaku, jelas, bukan bahasa Indonesia. Dalam buku Tesaurus Bahasa Indonesia susunan Eko Endarmoko, saya tak menemukan lema tersebut. Namun, belakangan hari, jibaku menjadi akrab dalam kalam Indonesia. Awalnya, kata tersebut saya temukan dalam status jejaring sosial  Facebook, yang ditulis Ste Ayesha, penulis novel teenlit alias teenager literature bertajuk Always Love All Ways: “berjibaku di Pejaten Village….” Jejaring sosial di jagat maya memang serba penuh kemungkinan. Karena itu, saya tak buru-buru membayangkan penulisnya hendak menubruk dan menabrakkan dirinya ke sebuah bangunan pusat pertokoan di Jakarta Selatan itu–laiknya pasukan kamikaze Jepang yang siap tewas bersama-sama pesawat yang dikemudikan atau ditumpangi itu. Benarlah, dari foto-foto dalam jejaring sosial tersebut ternyatakan bahwa jabaran jibaku bisa bermakna rela berdesakan dan bersesakan di pertokoan itu hanya untuk mendapati sesuap menu yang di lain lokasi pun ada, setelah sebelumnya berkutat dalam kemacetan lalu lintas senja Jakarta di jalan menuju lokasi pertokoan.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia versi online, saya temukan makna ­jibaku sebagaimana selama ini yang kita pahami, yakni: “menyerang musuh dengan jalan menubrukkan dirinya (yang sudah dipersenjatai dengan bom atau alat peledak lainnya) pada musuh”.

Ketika di kemudian hari saya temukan jibaku sebagai judul lagu pop remaja yang diaransemen kelompok Seventeen, saya makin yakin, jibaku ala Indonesia adalah jibaku “milik” anak-anak generasi dunia maya, terutama jejaring Facebook dan Twitter, selain pula generasi MTV, music for television. Lagu Jibaku berkisah tentang seseorang yang tidak rela ketika kekasihnya hendak direbut lain orang; tapi jika lain orang itu berkeras hati hendak memiliki kekasih itu, seseorang itu berharap agar lain orang itu tidak menyakiti dan menyia-nyiakan kekasihnya. Sudah.

Jarak antara makna jibaku “asli”-Jepang dan versi Indonesia jadinya makin jauh. Untuk membuktikan keterjauhan itu–tapi sekaligus justru mendekatkannya dengan dunia anak muda generasi jejaring sosial dan MTV–lagi-lagi saya mencari dan menelusuri Internet, dan saya dapatkan sebuah blog (saya tak menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia) milik antobilang™, yang menulis dalam judul jibakujiwa: “Sudahlah, kembali berjibaku dalam rutinitas dengan kehidupan yang penuh sandiwara ini.”

Blog tersebut tak memperjelas makna jibaku, yang gelagatnya memang tak merujuk pada jibaku ala Jepang. Landasan ideologis jibaku yang galibnya demi harga diri atau kebanggaan martabat sebuah bangsa, atau sebuah lembaga, atau kelompok tertentu (militer, misalnya), ketika sampai pada contoh-contoh tulisan di dunia maya dan musik populer Indonesia itu tereduksi sebagai sekadar persoalan personal: berdesakan di pertokoan, bersabar diri dalam kemacetan lalu lintas, pembelaan atas kekasih, juga diri sendiri yang memasuki rutinitas keseharian.

Kesimpulan ini terasa setengah simplistis ketika kemudian saya temukan penggunaan kata jibaku dalam tulisan-tulisan lain, yang dipublikasikan dalam media yang relatif tak senada-dan-seirama dengan komunitas jejaring maya ala Twitter dan sebangsanya itu. Bahkan penulisnya pun bukan tergolong penulis teenlit. Salah satunya ada dalam dunia maya media arus utama Kompas, yakni kompasiana.com (4 Agustus 2011, 06.19): “Pejabat Sibuk Korupsi, TNI dan Polri Jibaku Jaga Integrasi”.

Selebihnya, yang sama-sama agak berbeda makna ada di beberapa media, di antaranya: “Masih Jibaku Melawan Virus”  (trobos.com, 1 Maret 2010), kolom M. Dindien Ridhotulloh, “Jibaku Turunkan Angka Kemiskinan” (m.inilah.com, tanpa keterangan lain), juga tulisan kolom pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti, “Langkah Jibaku Susno Duadji” (http://www.susnoduadji.com, 25 Maret 2010). Hampir semua tulisan menggunakan kata jibaku hanya dalam judul, kecuali tulisan Ikrar Nusa Bhakti yang dalam teksnya memperjelas makna jibaku setara dengan “berani mati”. Dibandingkan dengan jibaku ala Jepang, “berani mati” dalam tulisan Ikrar Nusa Bhakti lebih mendekati, yakni mengorbankan diri mengungkap laku korupsi para aparat lembaga kepolisian tempatnya bekerja, termasuk dirinya sendiri, agar jajaran pejabat di lembaganya juga ikut menjadi “korban”.

Dalam bahasa Inggris, makna jibaku sama dengan destruct. Dalam bahasa Indonesia, jibaku bersama arti dengan menghancurkan, sementara dalam bahasa Malaysia: merosakkan. Dalam status Facebook, dalam judul lagu populer Indonesia, dalam blog, atau dalam rata-rata pola ungkap generasi MTV, tak ada kena-mengena jibaku ala mereka dengan “perusakan diri sendiri sebagai sebuah pengorbanan” untuk menghancurkan pihak lain.

Begitu halnya dengan “jibaku pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan”. Tak ada yang dikorbankan pemerintah, terutama diri mereka sendiri. Sama dengan kalimat “jibaku TNI dan Polri” di perbatasan negeri, karena maksud tulisan tersebut sekadar hendak mengatakan bahwa tentara nasional dan polisi yang berjaga di perbatasan bergaji kecil dan tetap dituntut menjadi nasionalis, sementara penduduk setempat terkadang lebih memilih menyeberang negeri untuk mengais rezeki.

Sebagai pamungkas, saya kutipkan penggunaan (bahasa Jepang) jibaku no bãjon Indoneshia alias “jibaku versi Indonesia” di surat kabar besar arus utama Kompas versi cetak, 16 Agustus 2011, halaman 38, dalam artikelKorban Konflik Aceh: Siapa yang Menanggung Keamanan Kami?: “Minggu (24/7) pagi di Mantang Meunjee. Di ujung desa itu, persis bersebelahan dengan pagar kawat kokoh kilang ExxonMobil, jibaku hidup terjadi. Para petani bergulat lumpur menanam padi di sawah….”

Iklan

2 thoughts on “Jibaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s