‘KPK’

Majalah Tempo, 3 Okt 2011. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

LARANGAN pemerintah Australia mengirim sapi ke Indonesia beberapa waktu lalu dengan alasan proses pemotongan sapi di negeri kita tak “berperikehewanan” menggugah kenangan saya bersama mendiang Romo Dick Hartoko, rohaniwan dan pemimpin umum majalah kebudayaan Basis di Yogyakarta. Apa hubungannya? Syahdan, pada awal 1980, dalam suatu rehat di sebuah rumah makan saung di Ciawi, Bogor, kami–Romo Dick, Wahyu Wibowo (sekarang Dekan Fakultas Sastra Universitas Nasional, Jakarta), dan saya sendiri–memesan ikan gurami bumbu rica-rica. Ditambah “detail” masakan lain, terbayanglah suatu makan siang yang istimewa.

Namun, ketika hidangan tersaji hampir satu jam kemudian, Romo Dick tampak kehilangan selera makan, bahkan kemudian menolak menyantap gurami rica-rica itu. Ada apa gerangan? “Saya tidak tega melihat proses memasak ikan itu,” ujarnya lirih. Dia lukiskan derita gurami sejak diciduk dari empang: digetok kepalanya, dikerok sisiknya, dibedel dan dikorek isi perutnya, disayat-sayat tubuhnya, diempaskan ke bak cucian, diceburkan ke genangan minyak goreng mendidih di wajan, dan akhirnya dibalur adonan bumbu yang memerihkan kulit tubuh. “Terjadi kekerasan pada kuliner kita,” imbuhnya. (Karena kekerasan dalam rumah tangga disingkat KDRT, izinkan saya memendekkan kekerasan pada kuliner versi Romo Dick itu menjadi “KPK”.)

Bila ditarik ke beberapa nama masakan Indonesia, nuansa “KPK” memang terasa. Kata Jawa kremes pada “ayam kremes” timbul dari bunyi renyah tepung goreng yang membalut daging ayam. Tapi kata itu membayangkan suatu tindakan meremukkan sesuatu dengan kesal meski juga merupakan ekspresi gemas rasa sayang seperti ngucel-ucel pipi bayi nan montok. Di beberapa sudut Kota Jakarta dan sekitarnya, muncul warung soto gebrak yang riuh. Sebutan itu diunduh dari bunyi berisik saat penjual soto meletakkan pantat botol kecap dengan cara membantingnya ke meja. Jadi “kremes” dan “gebrak” adalah gejala onomatopoeia yang terbangun oleh tiruan bunyi.

Lalu bagaimana menjelaskan julukan makanan bakso nuklir, sup torpedo, orak-arik; atau kudapan seperti enting-enting gepuk, tahu gejrot, roti sobek, wédang jahé keprek, dan lain-lain. Di Yogyakarta, ada warung makan yang menjajakan osèng-osèng mercon dan sambel keplax (dalam bahasa Jawa, keplak berarti ‘tempeleng’). Kedua masakan ini luar biasa pedas sampai-sampai menimbulkan semacam “ledakan” panas di mulut dan tamparan keras di kuping saat dilahap. Tak salah, julukan masakan yang meletup-letup itu cuma siasat untuk mengundang konsumen.

Barangkali “KPK” merupakan gejala kontemporer seiring dengan menjamurnya sentra jajanan, resto gaul anak-anak muda, dan warung lesehan di trotoar tepi jalan. Sementara itu, buku Aku Cinta Makanan Indonesia (1997), yang berisi seribu resep masakan tradisional Nusantara, cuma memuat satu nama nyamikan yang mengimajinasikan kekerasan, yaitu granat muncrat asal Banyumas, kerabat jèmblem di Jawa Timur atau misro kudapan Sunda. Rona “KPK” mungkin cuma pantulan pikiran praktis untuk menamai resep baru dengan mengacu pada metode atau proses pengolahan (bakar, cincang, gepuk, dan sebagainya), atau pada efek kejutan (muncrat) yang timbul saat masakan disantap.

Lain lagi dengan pengalaman seorang teman yang pernah belajar di negeri orang. Di toko daging segar milik imigran Arab-Maroko–lazim disebut islamitische slagerij–di Leiden, Belanda, teman itu tertegun menatap alat kelamin sapi jantan yang teronggok di lapak. Lezatnya “sup torpedo” di kampung halaman serasa melecut-lecut di ujung lidah. Maka dia memutuskan membeli onderdil sapi itu sebagai bahan sup. Cuma bagaimana mengatakannya? “Mag ik een kilo kogel (Bolehkah saya membeli satu kilogram peluru),” ujarnya kepada petugas toko.

Merasa aneh dengan permintaan pembelinya, dan memang tidak menjual peluru, si Maroko menjawab terheran-heran, “Nee, ik ben terorist niet (Tidak, saya bukan teroris).”

Ik bedoel de kogel van de koe (Maksud saya, pelor sapi),” teman itu terbata-bata.

Oh, zakar bedoelt U (Oh, kelamin [sapi] maksud Anda),” sahut petugas toko lega.

Merasa akrab dengan kosakata Arab itu, teman saya menganggukkan kepalanya tajam-tajam, “Dat is waar, zakar van de koe bedoel ik (Benar, zakar sapi itu maksud saya).” Heran, pikirnya, jauh-jauh ke Eropa ternyata kata “itu-itu” juga yang dipakai untuk menghindari anggapan saru.

Jelas, insiden tersebut hanyalah gagap komunikasi di antara penutur bahasa yang berbeda. Tapi mengapa kata berbau mesiu yang tercetus? (Untung tidak terendus aktivis partai hijau di sana.) Jangan-jangan, tanpa sadar, telah berjangkit semacam “anomi” seperti disebut Jean Baudrillard dalam La société de consommation (Masyarakat Konsumsi): suatu kebingungan akibat “keadaan yang berkelimpahan”–yang bisa memunculkan tegangan antara damai dan kekerasan, simbolis dan nyata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s