Copot

KOMPAS, 11 Nov 2011. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Saat menghadiri upacara pelantikan kabinet hasil pembancuhan—padanan reshuffle tawaran Salomo Simanungkalit—di Istana Negara baru-baru ini, Patrialis Akbar, Menteri Hukum dan HAM yang termasuk diganti, ditanyai oleh seorang reporter televisi. ”Apa yang menyebabkan Bapak dicopot sebagai menteri?” demikian kira-kira pertanyaannya. Sang mantan menteri, meski terkesan tidak marah atau tersinggung, tampak kurang nyaman dengan kata turunan dicopot itu. Ia lebih sreg dengan ungkapan pilihannya sendiri: ”mengakhiri tugas.”

Tampaknya ada persoalan etiket dan estetika terkait kepantasan memilih kosakata yang elok untuk mengistilahkan pejabat yang diberhentikan di tengah jalan. Kata copot secara umum berarti ’terlepas’, ’tanggal’, ’keluar’ (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa) terasa ikut menghukum pejabat yang diberhentikan sebelum masa tugasnya berakhir. Padahal, pejabat itu belum tentu bersalah. Patrialis Akbar mengutip keterangan menteri/sekretaris negara yang memberitahukan perihal pemberhentiannya dinilai bebas dari cacat selama bertugas.

Istilah resmi tentang penggantian pejabat (atau pegawai) dalam birokrasi adalah berhenti beserta turunannya. Saat terdesak oleh gerakan Reformasi 1998, Presiden Soeharto menyatakan diri ”berhenti” dari jabatan presiden. Bagi pegawai yang dihentikan langkahnya, tinggallah dilihat predikatnya: ”dengan hormat” atau ”tidak dengan hormat.” Dinyatakan ”diberhentikan dengan hormat” bila pegawai itu memang telah usai masa tugasnya atau karena permintaan sendiri tanpa alpa. Sebaliknya, ”diberhentikan tidak dengan hormat” adalah bahasa halus ”dipecat” karena kerani yang bersangkutan dinilai bersalah.

Namun, suatu wacana tentu tak mungkin bergantung terus-menerus pada ragam resmi sehingga muncul versi ungkapan yang lain. Naga-naganya, kata kunci populer untuk mewadahi definisi pemberhentian jabatan itu berwatak keras. Selain pencopotan, yang tergolong ringan tekanannya, KBBI juga mengentri mendepak dan menendang, yang lebih telak memukul, untuk maksud serupa. Kalangan media biasa menambahkan gusur, digusur sebagai sinonim pemecatan. Yang halus adalah lengser dan makzul yang lazim digunakan di dunia keprabon.

Pilihan atas kata-kata tersebut jadi semacam ”verbalisasi” terhadap praktik politik yang kerap mempertontonkan kekerasan dalam berebut kuasa.

Jadi, sadar ataupun tidak, ketika memilih kata-kata copot, depak, tendang, dan gusur, benak publik membayangkan adegan sikut-menyikut dan sejenisnya dalam proses penggantian pejabat di tengah jalan. Atau, pilihan atas koleksi kata itu merupakan cermin direktori moral yang halai-balai dari sebagian elite. Lain halnya terhadap pemberhentian pejabat atau pegawai yang terjadi secara alamiah, ungkapannya pun terasa santun: ”memasuki masa pensiun” atau ”purnatugas” dan ”purnabakti” yang terkesan eksotik.

Apa boleh buat, bahasa khalayak ada kala bisa menambah derita batin bagi mereka yang terkena masalah. Namun, tak bisa serta-merta melarang ekspresi yang mungkin terasa kejam itu.

Bukankah reproduksi suatu kata sangat bergantung pada rangsangan situasi yang melahirkannya?

 

Iklan

3 thoughts on “Copot

  1. Merasa belum pantas mengomentari tulisan ini, lebih baik saya menguraikan dua kata yang–kemungkinan besar–belum dipahami penikmat awam rubrik bahasa, sekaligus sebagai pengingat bagi pemerhati dan praktisi perbukuan di Indonesia:

    1. keprabon dalam frasa “dunia keprabon” (paragraf keempat) = Kata ini berarti “Tanah Raja (Prabu)” di Jawa, yang identik dengan pemukiman tua dan Kraton Mangkunegaran.
    2. halai-balai dalam kalimat “Atau, pilihan atas koleksi kata itu merupakan cermin direktori moral yang halai-balai dari sebagian elite” = Kata yang berkelas adjektiva ini punya dua arti: (1) kusut (kacau) tidak keruan; dan (2) terlantar atau tidak terpelihara.

    Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s