Singkatan dan Kemubaziran

Lampung Post, 16 Nov 2011. Chairil Anwar, Alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Unila

Berbicara mengenai bahasa efektif, tentu pemakai bahasa harus semaksimal mungkin meminimalkan penggunaan kata-kata yang tidak perlu untuk menghindari kemubaziran. Kemubaziran terjadi karena banyak hal, di antaranya pengulangan kata-kata yang semakna (berdasarkan konteks) seperti kalimat berikut.

“Rencananya, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dalam waktu dekat akan segera memberikan perangkat pembuatan e-KTP kepada seluruh kecamatan yang ada di Kota Bandar Lampung.”

Padahal, kalimat itu dapat lebih disingkat:

“Rencananya, Disdukcapil segera memberi perangkat pembuatan e-KTP kepada seluruh kecamatan di Bandar Lampung.”

Dalam contoh itu, bentuk “dalam waktu dekat”, “akan”, dan “segera” dapat saling menggantikan, jadi cukup digunakan salah-satunya saja.

Namun, kemubaziran juga terjadi pada bentuk-bentuk yang melibatkan akronim dan singkatan. Fenomena ini kerap ditemui dalam penggunaan bahasa sehari-hari, bahkan dalam penulisan berita.

Beberapa contoh yang menggambarkan gejala tersebut di antaranya dalam bentuk-bentuk berikut.

(1) Bank BNI Cabang Unila diserbu mahasiswa yang ingin mendaftar ulang.

(2) Kepala Sekolah SMPN 1 Bandar Lampung memberi arahan kepada siswa untuk menghindari narkoba sejak dini.

(3) Pembagian beras raskin di Kelurahan Penengahan dinilai tepat sasaran.

(4) Beberapa mahasiswa Fakultas FKIP Unila berunjuk rasa di Bundaran Tugu Adipura.

Bentuk kalimat seperti itu sering terucap atau tertulis tanpa disadari ada kemubaziran di dalamnya. Untuk membuktikan kemubaziran tersebut, kita bisa mengganti akronim dan singkatan yang digunakan dalam setiap kalimat itu dengan kepanjangannya. Dengan demikian, kalimat-kalimat itu menjadi:

(1) Bank (Bank Nasional Indonesia) Cabang Unila diserbu mahasiswa yang ingin mendaftar ulang.

(2) Kepala Sekolah (Sekolah Menengah Pertama Negeri) 1 Bandar Lampung memberi arahan kepada siswa untuk menghindari narkoba sejak dini.

(3) Pembagian beras (beras untuk rakyat miskin) di Kelurahan Penengahan dinilai tepat sasaran.

(4) Beberapa mahasiswa Fakultas (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unila berunjuk rasa di Bundaran Tugu Adpura.

Setelah menyubstitusi akronim dan singkatan dengan kepanjangannya, terlihat kemubaziran kata yang terjadi di dalamnya. Ternyata, terdapat dua kata yang sama dan semakna yang saling berurutan dalam setiap kalimat itu: kalimat (1) pada kata “bank”, kalimat (2) “sekolah”, kalimat (3) “beras”, dan kalimat (4) pada kata “fakultas”.

Untuk menghindari kemubaziran, kita harus menghilangkan salah satu dari dua bentuk yang sama itu. Dengan demikian, kalimat efektifnya sebagai berikut.

(1) BNI Cabang Unila diserbu mahasiswa yang ingin mendaftar ulang.

(2) Kepala SMPN 1 Bandar Lampung memberi arahan kepada siswa untuk menghindari narkoba sejak dini.

(3) Pembagian raskin di Kelurahan Penengahan dinilai tepat sasaran.

(4) Beberapa mahasiswa FKIP Unila berunjuk rasa di Bundaran Tugu Adipura.

Fenomena ini merupakan contoh kecil dalam penggunaan bahasa yang kurang efektif. Untuk menghindari hal serupa, dibutuhkan kejelian dalam berbahasa.

Iklan

2 thoughts on “Singkatan dan Kemubaziran

  1. Ping-balik: Hemat Perlu Cermat « Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s