Bus Tak Masuk ‘Bus Lane’

Lampung Post, 30 Nov 2011. F. Moses, Pengembangan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta.

Saya rasa, menyoal istilah asing tak akan pernah khatam di negeri ini. Pemekaran seperti ranking atau pemeringkatan, take off (lepas landas), random (acak), layout (letak), supermarket (pasar swalayan), briefing (taklimat), snack (kudapan), dan seterusnya. Tentunya masih banyak lagi. Apalagi serapan seperti effect menjadi efek, cartoon (kartun), vacuum (vakum), phase (fase), rhetoric (retorika).

Saya rasa kata-kata itu lebih arif digunakan ketimbang memaksakan kata-kata asing tersebut dalam bahasa keseharian. Ironisnya, percampuran kedua bahasa (istilah: indoglish) terpampang di etalase megah fasilitas umum, seperti The Plaza…, … Laundry and Dry Cleaning, … Tailor, … Haircut, dan istilah lainnya.

Syahdan, dari permasalahan tersebut, ada cerita kecil tentang rekan saya bernama Sun’an di Jakarta, tepatnya di sebuah perusahaan seluler terbesar di bilangan Jakarta Pusat.

Betapa pusing tujuh keliling dirasanya: kata-kata asing berserakan dalam jarak pandangnya, ia pun limbung. Bukan lantaran tak mengerti kata-kata tersebut, melainkan sebuah pertanyaan atas identitas diri di negeri tercinta ini.

Ia seperti memasuki negeri asing bak bukan negerinya sendiri. Kira-kira beginilah ceritanya.

Tatkala lepas terik siang, masuklah ia ke perusahaan tersebut: semula kepanasan, tapi seketika luluh lantaran pendingin ruangan mampu meredakannya dari gerah.

Namun apa daya, disuruh menunggu justru membuatnya makin kecewa lantaran rentetan kata-kata asing terpampang dari pojok pandangannya, bak anak panah terlepas dari busur menghunjam hati kecilnya. “Rasanya kayak di luar negeri saja, kayak bukan tinggal di Indonesia,” katanya membatin.

Kata-kata asing seperti memaksanya mengakrabi menjadi panorama yang memilukan. Mau ikut mengucapkan pun menjadi kelu. Sekali lagi, bukan karena tak mengerti arti seperti meeting room atau ruang pertemuan, cashier (kasir), exit (keluar), gallery (galeri), reception (penerimaan), reserved (pemesanan), fire extinguisher (pemadam api), customer care (layanan pelanggan), counter (juru hitung), melainkan membuat dirinya gamang. Yang tak lain sekadar bikin panorama sensual berbahasa belaka.

Lantas ia bertanya kepada satu dari karyawan tersebut, dijawabnya pula dengan alasan tak mengerti maksud dan tujuannya. Padahal sepele: karena sesungguhnya pasar seluler ini ditujukan ke masyarakat yang mana? Barangkali itu baru contoh sekuku.

Dari pengalaman teman saya tersebut, (mungkin) juga acap dialami beberapa masyarakat dalam sadar atau sebaliknya.

Tak bermaksud menapis euforia nasionalis, marilah kita meresapi kembali Hari Sumpah Pemuda beberapa hari lalu. Sebab, betapa memalukan atas nama global tapi bertingkah bahasa keinggris-inggrisan.

Satu lagi, suatu ketika dari arah Merak menju Jakarta saat melintas di Kota Tangerang, bus yang saya tumpangi malah menghindar dari ruas bus lane. Ah, andai saja bertuliskan “khusus bus”, tentu tak menyasar ke jalur umum yang kebetulan sedang macet. Saya tak tahu, lantaran si sopir tak mengindahkan aturan atau karena sesuatu yang enggan dipahaminya. Itu baru bus lane, belum lainnya. Saya percaya Anda lebih melihat kelainan-kelainan tersebut.

Iklan

One thought on “Bus Tak Masuk ‘Bus Lane’

  1. Kalau kita membeli mobil baru, ada dua pertimbangan jika melihat tujuannya: (1) sarana pencitraan diri atau “lifestyle” dan (2) sarana transportasi keluarga atau “functional”. Sepertinya agak mirip dengan fenomena Indoglish pada masyarakat kita, meski tidak juga dapat kita katakan sama seratus persen alias setubuh. Yang suka gaya-gayaan akan memilih istilah Inggris, sedangkan yang melihat pada fungsi akan memilih istilah lokal: Indonesia.

    Ini pun bukan masalah Sumpah Pemuda, tapi lebih kepada pembiasaan diri untuk tidak melanggar janji setia. Kita orang Indonesia, jadi bertingkah lakulah layaknya orang Indonesia; sudah tentu, juga berbahasa Indonesia.

    Semoga, Bus Way yang hampir rampung proyeknya akan diganti menjadi “Bus Lintas Jakarta”, misalnya. Tidak perlu malu atau merasa risih melisankan kata-kata Indonesia, toh aksara orang-orang Perancis lebih menyulitkan namun tetap dijunjung selangit oleh para penuturnya.

    Ayo, kita lebih semangat lagi dalam memberdayakan kebiasaan tidak membebek orang Inggris; mudah-mudahan, minimal, orang di sekitar kita ikut semangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s