Grat-(ifikasi)

Majalah Tempo, 12 Des 2011. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

MAKNA beberapa kata Latin yang berunsur grat- seperti memuat rasa syukur. Mungkin pula kata-kata itu bisa menyejahterakan jiwa. Ungkapan Gratia gratiam parit, misalnya, menurut B.J. Marwoto dan H. Witdarmono dalam Provebia Latina (2006), berarti “berkah itu melahirkan berkah pula”. Kata gratia (-ae) sendiri berarti “berkah”, “rahmat”, “kerelaan”, “jasa”. Ungkapan lain yang terkait dengan gratia adalah honoris gratia, yang berarti “demi kehormatan”. Lalu, In gratiam cum aliquo restituere adalah “mendamaikan orang”–suatu makna yang menyejukkan.

Diserap ke bahasa Inggris, grat- mewujud dalam beberapa bentuk kata, yaitu congratulate, grateful, gratify, gratitude, dan gratuity. Kita perinci sebagian saja. Ambil congratulate yang terbangun dari awalan con- yang berarti “bersama” dan grat-  “menyenangkan”. Jadi, congratulate berarti ikut senang dengan suatu keberhasilan yang dicapai seseorang. Dalam bahasa Indonesia, kata itu menjadi ucapan selamat kepada seseorang yang baru lulus sekolah, naik pangkat, menang lomba, dan yang serupa. Sementara itu, grateful “berterima kasih” dilayangkan seseorang yang merasa berutang budi kepada orang lain.

Akhiran -ify pada gratify menunjukkan suatu proses “menjadikan”. Dalam Kamus Bahasa Inggris-Indonesia Echols-Shadily, verba itu diartikan “memberi kebahagiaan/kepuasan”, “memuaskan”, seperti dalam contoh kalimat Love gratifies many people, “cinta memberikan kebahagiaan kepada banyak orang”. Dari gratify menetas nomina gratification yang berarti “kepuasan”, “kegembiraan”, seperti dalam contoh kalimat tanya What gratification do you get from studying? Pertanyaan itu menyiratkan rasa ingin tahu mengenai kepuasan apakah yang diperoleh seseorang yang tengah mempelajari sesuatu. Artinya, makna kata itu terkait dengan sisi batiniah, belum tentu hal yang material.

Masuk sebagai kosakata Indonesia, gratification tersulih ejaan menjadi gratifikasi yang dimaknai secara sempit. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, kata itu dijelaskan dalam arti tunggal, yaitu “uang hadiah kepada pegawai di luar gaji yang telah ditentukan”. Jika mengikuti arti grat- yang telah disebut, “uang hadiah” itulah yang memberikan kepuasan atau kegembiraan penerimanya. Boleh jadi, rumusan itu mengikuti arti gratificatie dalam bahasa Belanda, “toelage boven het vastgestelde loon” atau tunjangan yang lebih tinggi daripada upah yang ditetapkan (lihat Verklarend handwoordenboek der Nederlandse taal, 1983).

Gratifikasi dalam artian “hadiah” sejatinya merupakan kenyataan budaya global. Dalam lalu lintas perdagangan antarbenua di masa lampau, para saudagar dari negeri luar selalu siap dengan bingkisan bagi penguasa setempat untuk memperoleh izin dagang. Pada masa jaya kerajaan tradisional di Asia Tenggara, gratifikasi dilembagakan dalam “sistem upeti” (tributary system, seperti disebut dalam In Search of Southeast Asia suntingan David Joel Steinberg, 1971). Atas nama loyalitas, para penguasa daerah di Jawa, misalnya, harus menunjukkan bulu bekti, alias tanda setia, dengan cara asok glondhong pengareng-areng atau unjuk persembahan yang luar biasa kepada raja.

Kini, dihadapkan pada angger-angger negara modern, gratifikasi adalah suatu bentuk kejahatan. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi, gratifikasi merupakan bungsu dari kumpulan “tujuh setan korup” yang biasa menguntit kaum kerah putih di lingkaran birokrasi pemerintahan. Enam unsur korup yang lain adalah perbuatan yang menyebabkan kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, dan benturan kepentingan dalam pengadaan.

Gratifikasi yang dimaksud dalam undang-undang itu adalah “pemberian dalam arti luas” berupa uang, barang, rabat, komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya, baik diterima di dalam maupun di luar negeri, lewat peranti elektronik ataupun langsung pindah tangan. Pemberian dan penerimaan “hadiah” itu dipatok sebagai kejahatan koruptif apabila terkait dengan jabatan dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugas pejabat di pemerintahan. Hukumannya tidak main-main, dari penjara seumur hidup hingga denda berbilang miliar rupiah.

Namun, selagi masih ada dorongan hati manusia untuk berterima kasih atau sekadar berbagi suka-cita, tradisi “bingkisan” tak akan sirna. Artinya, gratifikasi tak akan lenyap. Dalam makna yang netral, kata gratifikasi menyimbolkan semua dorongan itu. Tapi inilah repotnya: dalam budaya yang diliputi suasana sidheman alias serba rahasia, suatu ekspresi berbagi bahagia bisa menjelma jadi kejahatan. Maka ucapkan saja rasa itu dengan setangkai bunga–bila pinjaman tanpa bunga terhadang undang-undang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s