Elegan, Glamor, dan Celine Dion

Majalah Tempo, 6 Feb 2012. Qaris Tajudin, Wartawan

Pekan lalu, di kolom ini ada tulisan menarik dari Rohman Budijanto. Ia mengamati sejumlah merek mode–dari busana hingga minyak wangi–yang unik, bahkan cenderung nyeleneh, atau “subversif”. Nama-nama produk mode itu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan terdengar lebih aneh lagi.

Di antaranya ada True Religion (denim), Poison (parfum dari Christian Dior), Opium (parfum, Yves Saint Laurent), Agent Provocateurs (lingerie, parfum), Envy Me dan Guilty (keduanya parfum dari Gucci), Bathing Ape (produk fashion, lengkapnya A Bathing Ape in Lukewarm Water, disingkat BAPE), dan Urban Decay (mode).

Tulisan ini tidak akan menyanggah kolom Rohman, bahkan ingin melengkapinya. Saya hanya ingin menjelaskan dua hal yang belum terlalu diulas oleh tulisan berjudul “’Agama Sejati’ dan Celana Jins” itu.

Hal pertama, kenapa desainer dan rumah mode di luar negeri menggunakan kata-kata tak lazim untuk produknya? Kedua, kenapa hal ini tidak diikuti oleh perancang busana dan rumah mode Indonesia?

Seperti mode, kata-kata tidak lahir dari ruang kosong. Keduanya adalah cerminan dari karakter pemakainya. Di sini, ungkapan “bahasa menunjukkan bangsa” menjadi relevan. Bangsa tidak selamanya berarti penduduk sebuah negara. Bangsa juga bisa berarti sebuah komunitas. Dalam hal ini: komunitas mode. Lalu apa hubungan antara kata-kata nakal pada merek-merek itu dan penciptanya?

Di kutub-kutub mode dunia–terutama London dan Paris–mode sudah lama menjadi media pemberontakan. Para desainer cenderung membela kelompok liberal dibanding konservatif.

Di awal abad ke-20, Coco Chanel, misalnya, datang dengan serangkaian ide revolusioner. Pada 1930-an, ketika perempuan harus memakai gaun dan rok, Chanel memperkenalkan celana dan jas untuk mereka. Emansipasi dalam mode ini awalnya ditentang banyak orang. Chanel dianggap mempromosikan banalitas. Namun pada akhirnya terobosan ini justru menjadi “genre” tersendiri dalam mode dunia dan diikuti oleh semua wanita–yang paling konservatif sekalipun.

Pada 1970-an, Vivienne Westwood memperkenalkan kostum para penikmat bondage sex–pakaian kulit hitam dengan rantai dan sederetan paku. Lewat butik Sex Shop–bersama mendiang Malcolm McLaren–Westwood menjadikan seragam bondage itu sebagai pakaian resmi punker hingga saat ini. Pakaian dari butik Sex Pistols dianggap cocok dengan semangat punk: anarkisme.

Selain ada Chanel dan Westwood, dunia mode memiliki banyak orang “sinting” yang datang dengan ide-ide tak lazim. Kebebasan berekspresi dan kesintingan adalah modal utama mereka dalam berkreasi, membuat sesuatu yang baru. Tanpa keduanya, para desainer hanya akan menjadi pengikut, bukan pencipta tren. Kebebasan dan kegilaan itulah yang kemudian tak hanya muncul dalam karya mereka, tapi juga dalam bahasa yang digunakan untuk menjadi label produk tersebut. Tentu saja tidak selamanya begitu. Tapi kemunculan kata-kata itu dianggap wajar saja.

Keadaannya berbeda dengan di Indonesia. Bahasa yang keluar dari komunitas mode Indonesia adalah bahasa yang santun. Kalau ada yang berani membuat merek atau tema fashion show dengan kata-kata yang provokatif, mereka pasti ditinggalkan.

Alih-alih memakai kata-kata “subversif”, perancang (dan penulis mode) Indonesia justru mengunyah-ngunyah kata seperti eksotis, elegan, cantik, dan glamor. Sebuah artikel tentang koleksi seorang perancang, misalnya, berjudul “Batik Elegan nan Santai”. Sebuah pergelaran busana diberi tajuk “Glamorous Divas”. Setahun lalu, sebuah organisasi perancang busana memilih tema “Luxury Heritage” untuk pergelaran busana anggotanya.

Kalaupun mereka tidak menggunakan kata-kata yang berkonotasi keindahan (yang bombastis), kata-kata yang dipilih bersifat netral. Hampir tak ada kata yang nyeleneh dan menunjukkan pemberontakan.

Hal itu terjadi karena di negeri ini mode bukan alat pemberontakan dan ekspresi kebebasan. Mode di sini masih seperti mode di Paris sebelum abad ke-20: sebagai pendukung kecantikan dan penanda kelas sosial yang mapan.

Jika diibaratkan lagu, mode di London dan Paris adalah lagu rock: bisa berisi rayuan, tapi juga tak segan mengumpat. Sedangkan bahasa mode di Indonesia mirip lagu-lagu Celine Dion: manis dan membosankan.

Iklan

One thought on “Elegan, Glamor, dan Celine Dion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s