Kopitiam

KOMPAS, 9 Mar 2012. Samsudin Berlian, Pemerhati Makna Kata

Baru saja Mahkamah Agung mengesahkan keputusan Pengadilan Niaga Medan bahwa kopitiam adalah merek milik eksklusif seorang pengusaha Jakarta, yang langsung saja memerintahkan semua pengusaha kopitiam berhenti memakai nama itu untuk tempat usaha mereka.

Kopitiam adalah gabungan menarik dua kata yang melibatkan banyak budaya. Kopi menempuh perjalanan panjang dari Arab qahwah, Turki kahveh, Italia caffè, sampai Belanda koffie, sebelum diserap Melayu. Belanda menguasai Malaka sejak pertengahan abad ke-17.

Tiam kata Hokkien untuk toko. Bagian besar imigran Cina di Asia Tenggara berasal dari Provinsi Hokkien [Mandarin: Fujian] dan sudah ratusan tahun bahasa dan adat istiadat Hokkien di antara mereka bercampur dengan Melayu. Jadi, kopitiam tak lain tak bukan tak lebih tak kurang berarti ’kedai kopi’.

Pelanggan tradisional kopitiam hanya laki-laki yang berkumpul untuk makan, minum, main catur atau kartu, mengobrol, dan bertukar berita jauh dekat. Masih kita kenal ungkapan ”obrolan warung kopi”. Kopitiam adalah pusat sosial yang penting di zaman ketika orang buta huruf banyak dan di rumah tidak tersedia sumber berita. Kopitiam termasuk institusi publik pertama yang menyajikan koran, radio, dan televisi. Ini beda dengan konsep cafeteria yang dikembangkan di Amerika, yang kini lebih berarti restoran swalayan.

Kopitiam mulai berkembang pada akhir abad ke-19 sebagai kedai kopi etnik khas imigran Cina di Singapura, Malaysia, Sumatera belahan utara, dan Kalimantan Barat. Konsep kedai kopi sendiri berkembang luas di Asia Tenggara, juga di kalangan Melayu dan India, dengan sajian khas menurut selera dan tradisi masing-masing.

Bahkan, sebetulnya konsep warung kopi dikenal di seluruh dunia setelah khasiat minuman pelawan tidur ini pertama kali disadari di Etiopia dan kemudian menyebar dari Arab ke seluruh dunia sejak abad ke-15.

Di kedai kopilah, mulai abad ke-17 sampai awal abad ke-20 di Eropa, berkumpul filsuf, sastrawan, dan seniman, baik tenar maupun rudin, yang karya-karyanya mengubah wajah dunia atau yang tersapu tanpa bekas bersama debu sejarah. Di situ pulalah pembangkang dan pelarian politik tanpa kenal kantuk berkomplot dan bersekongkol menuju kemuliaan atau tiang gantungan.

Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kopitiam dalam dua generasi terakhir mulai lebih bergengsi dan mengembangkan konsep modern, pelayanan lebih terstandar, menu dan pelanggan lebih multietnik dan multikultural, pun mencakup perempuan dan orang asing. Sebagian besar masih datang bukan hanya untuk makan minum melainkan terutama untuk bercengkerama dalam keakraban.

Penulis ini mohon diri sekarang untuk pergi ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual mendaftarkan Warteg.

Sudah terbayang nikmatnya bagian laba yang akan disetorkan semua pengusaha warteg Nusantara setelah Mahkamah Agung mengesahkannya. Tidak perlu lagi susah-payah menulis di rubrik Bahasa ini hanya demi sepeser uang kopi.

Sumber gambar: lifestylewiki.com

Iklan

4 thoughts on “Kopitiam

  1. Melayu juga menyerap قهوة sebagai kahwa.

    Di Minang ada ungkapan “bak cando api’ kawa” (bagaikan apit kahwa) untuk orang yang kurus seperti penjepit daun kopi (kopi daun)

    Dalam bahasa Empat Lawang, orang biasa mengatakan “nak ke kawo jao” untuk ke kebun kopi yang jauh dari kampung.

    Bahkan, dalam bahasa Rejang yang sangat jauh dari Melayu pun, biasa juga terdengar “lak aleu nak pulo kawo” (mau ke kebun kopi)

    • Jika merujuk kepada KBBI, yang benar adalah wawas diri. Pengertian detailnya sebagai berikut:

      wa·was di·ri v, me·wa·was di·ri v melihat (memeriksa, mengoreksi) diri sendiri secara jujur; introspeksi: kita harus — agar jangan membuat kesalahan yg sama

      Bahasa ilmiah-populernya, jika tidak patut dikatakan sebagai sinonim, adalah instrospeksi. Semoga keterangan singkat ini bisa dijadikan renungan bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s