Komedian?

KOMPAS, 16 Mar 2012. Kurnia JR, Cerpenis

Sekarang ada sebutan yang lebih populer bagi seniman panggung pengocok perut: komedian. Istilah pelawak mulai ditinggalkan tanpa alasan jelas kecuali kecenderungan masyarakat yang mudah terkesima oleh kosakata keinggris-inggrisan. Ini gejala peyorasi dalam linguistik. Dalam hal ini, kata pelawak mengalami degradasi semantik.

Peminjaman atau penyerapan kosakata dari bahasa asing adalah situasi alamiah dan wajar dalam suatu bahasa. Yang celaka jika proses itu berakibat pembonsaian khazanah bahasa kita sendiri. Kosakata asing diserap seraya merendahkan derajat makna padanannya yang sudah ada dalam bahasa kita tanpa urgensi sama sekali.

Apabila orang berpikir bahwa comedian memiliki spesifikasi makna yang lekat dengan konteks profesi, sesungguhnya begitu juga pelawak. Sejak TVRI berdiri dan menghibur kita, banyak sudah bermunculan pelawak atau grup lawak, yakni orang atau sekelompok orang yang pekerjaannya melucu, baik dengan alur cerita maupun berupa sketsa. Sekadar contoh, ada Srimulat, BKAK, Warkop Prambors (Warkop DKI), dan Jayakarta Group.

Sesungguhnya terminologi pelawak tak terasing dari kompetensi intelektual individual—jika itu yang dianggap tidak ada oleh mereka yang melebih-lebihkan istilah komedian di atas pelawak dewasa ini.

Kita memiliki Bing Slamet, Eddy Soed, Bagyo, Gepeng, Teguh (Srimulat), Dono-Kasino-Indro, dan lain-lain yang tak melucu dengan kepala kosong. Saat diwawancara wartawan, mereka mampu mengekspresikan penghayatan artistik sekaligus intelektual atas profesi mereka. Saat berbicara sebagai pelawak, mereka mengungkap sisi intelek yang dingin dan berjarak sehingga orang pantas tercengang menyadari bahwa dalam kelucuan mereka tersembunyi keseriusan profesional yang tak main-main.

Mungkin orang melongo kagum pada sejarah seni drama Barat yang berasal dari Yunani Kuno berupa tragedi dan komedi. Dari situ berkembang seni pertunjukan modern dalam aneka bentuk. Apa yang disebut comedian dalam seni pertunjukan modern Barat pun tak lagi terpatok pada makna pelakon sandiwara jenaka bertendensi filosofis. Kini motifnya hiburan belaka: sekadar berbagi keriangan dengan lelucon ringan. Secara historis itulah yang juga terjadi pada seni pertunjukan kita.

Dalam seni pertunjukan tradisional seumpama ketoprak, ludruk, topeng Betawi, wayang kulit dan golek, terselip humor, parodi, sindiran, kritik sosial, lelucon, dagelan. Wayang kulit yang notabene bertendensi filosofis dengan ajaran moral adiluhung bahkan memberi tempat khusus bagi para punakawan, tokoh-tokoh bijak di jagat wayang dengan tampang rakyat jelata yang naif dan kocak.

Seni pertunjukan humor mengiringi dinamika sosial kita ke bentuk yang sekarang. Tiada tuntutan bahwa lawakan harus meramu kritik sosial, apalagi mengemban elemen filosofis yang ”tidak praktis” pada masa ini.

Pelawak adalah profesi yang sejajar dengan penyanyi, musisi, pemain sinetron, sutradara, dan lain-lain di dunia hiburan dengan sejarah panjang seni pertunjukan sebagaimana comedian di negeri asalnya.

Iklan

8 thoughts on “Komedian?

  1. Comedian tidak sama dengan pelawak.
    Pelawak: orang yang suka melawak.
    Comedian: pelawak yang menjadi artis.

  2. Bagaimana dengan genre “stand-up comedy” yang belakangan marak di Indonesia, dengan pelopor terkenalnya (alm) Taufik Savalas dan si “kambing jantan” Raditya Dika; penasaran dengan padanan profesi ini yang baik dalam bahasa kita, mana yang lebih pas: komedian sambil berdiri atau pelawak aksi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s