Tali-temali Gender

Majalah Tempo, 26 Mar 2012. Samsudin Adlawi, Wartawan Jawa Pos

Gerakan Women2Drive mengguncang Arab Saudi. Women2Drive (Linnisai Biqiyadatis Sayyarati), yang dipelopori Manal al-Sharif, asisten computer security perusahaan minyak Aramco, adalah kampanye menuntut hak mengemudi mobil bagi perempuan Arab Saudi yang gaungnya mendunia. Negara-negara Arab lain sudah lebih “liberal”, tak hanya membolehkan mengemudi, tapi juga memberi kemungkinan luas menduduki jabatan publik, sementara persoalan mengemudi mobil masih menjadi persoalan di Arab Saudi.

Konservatisme Arab Saudi ini seakan-akan ahistoris. Sejarah membuktikan, pada awal perjuangan Islam, perempuan Arab bisa berdiri sejajar dengan kaum laki-laki. Selain Khadijah dan Aisyah, ada nama Nusaibah binti Kaab atau Ummu Imarah (pejuang logistik dalam Perang Uhud), Asma binti Abu Bakar, Rufaidah binti Sa’ad (organisator perawat korban perang), Asma binti Yazid al-Anshariyah (orator wanita ulung), untuk menyebut beberapa nama pemuka kaum perempuan.

Bukan hanya sejarah, bahasa Arab juga memberi ruang penting bagi kaum perempuan. Bahasa Inggris memiliki she (dia perempuan). Bahasa Jerman memiliki awalan die untuk awalan kata benda feminin (membedakan dengan der yang maskulin dan das yang netral). Bahasa Arab lebih kaya varian dalam menyebut gender.

Bahasa Arab menyebut huwa untuk dia laki-laki dan hiya untuk dia perempuan. Bukan hanya itu. Bahasa Arab juga menyebut anti untuk kamu perempuan (tunggal); dan antunna untuk menyebut kalian perempuan.

Berbeda dengan bahasa Inggris, yang menyebut kamu atau kalian, laki-laki atau perempuan, menggunakan you. Sedangkan untuk menyebut kamu, laki-laki bahasa Arab memiliki kosakata anta, dan antum untuk menyebut kalian laki-laki.

Satu lagi contoh adalah adanya kata hunna (mereka perempuan) lawan dari hum (mereka laki-laki). Ini sangat berbeda dengan bahasa Inggris yang menggunakan kata they untuk menyebut mereka tanpa membedakan jenis kelamin atau juga kata mereka yang netral dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Arab mengelompokkan kata benda menjadi dua kelompok besar, yakni mudzakkar dan muannats ataumaskulin dan feminin. Tapi, seperti bahasa Jerman ditambah dengan kelompok neutral, bahasa Arab juga memiliki kelompok netral, saat menunjuk orang pertama (baik jamak maupun tunggal: ana yang berarti saya dan nahnu berarti kami/kita) atau menunjuk dua orang (orang kedua dan orang ketiga, seperti huma = mereka dua orang laki/perempuan dan antuma = kalian dua perempuan/laki).

Cara gampang menemukan perbedaan di antara keduanya adalah dengan huruf di akhir kata. Yang muannats selalu diakhiri dengan huruf ta marbuthah, yang biasa dibaca “h”. Bentuknya bulat dengan dua titik di atasnya. Mirip anting bulat yang menggantung di telinga perempuan. Contoh: madrasah (sekolah), sahah (lapangan), sayyarah (mobil),thairah (pesawat terbang), mistharah (penggaris), dan safinah (kapal laut). Bandingkan dengan yang mudzakkar: qalam(pena), kitab (buku), kursiy(kursi), qithar (kereta api), baab (pintu), dan bahr (laut).

Bahkan dua tempat suci Islam disebut dengan kata bersifat perempuan, yakni Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawarah. Gelar itu dibuat berkelamin perempuan karena Makkah dan Madinah berjenis perempuan.

Bagaimana dengan bahasa Indonesia? Bahasa Indonesia memang lebih netral gender. Laki-laki atau perempuan sama-sama disebut dia. Demikian juga kamu dan mereka. Baik laki-laki maupun perempuan menggunakan kata yang sama: kamu dan mereka. Pembedaan kelamin baru ditemukan pada kata ganti yang spesifik, seperti tuan dan puan (nyonya), pemuda dan pemudi, putra dan putri, saudara dan saudari.

Bahasa Indonesia sebenarnya mengembangkan kosakata untuk laki-laki dan perempuan dari perubahan bunyi di akhir kata. Sebagai contoh adalah wartawati untuk menyebut wartawan perempuan, karyawati (karyawan perempuan), seniwati (seniman perempuan), direktris (direktur perempuan), atau, dari khazanah lama, sukarelawati (sukarelawan perempuan).

Namun kata-kata untuk membedakan lelaki dan perempuan perlahan-lahan lenyap. Juru warta berjenis kelamin apa pun bisa disebut wartawan. Perempuan yang memimpin perusahaan pantas-pantas saja disebut direktur, tak lazim lagi disebut direktris. Bahkan kata ”pemudi” (yang muncul dalam lagu kebangsaan Bangun Pemuda-Pemudi karya C. Simanjuntak) lama-kelamaan tak terpakai. Dan, contoh saat ini, ketika banyak perempuan bekerja di belakang kamera, tak sempat muncul sebutan kamerawati. Mereka tetap disebut kamerawan.

Memang ada ketidakkonsistenan dalam penggenderan itu. Ada sebutan berbau pembedaan kelamin yang masih bertahan, misalnya polwan alias polisi wanita. Padahal sebelumnya tak ada sebutan polisi laki-laki alias polki. Sebutan polki justru muncul ketika ada sebutan polwan. Di kalangan angkatan bersenjata, ada juga sebutan Kowal (Korps Wanita Angkatan Laut), Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat), atau Kowau (Korps Wanita Angkatan Udara). Bedanya dengan polwan, di ketiga angkatan itu tak sampai muncul sebutan Kolal (Korps Laki-laki Angkatan Laut), Kolad, atau Kolau.

Tapi bahasa Indonesia konsisten mempertahankan pengelompokan gender serapan dari bahasa Arab. Kata hadirin dijejerkan hadirat untuk menyebut undangan laki-laki dan perempuan. Selain itu, ada kata almarhum dan almarhumah, ustadz dan ustadzah, qari dan qariah, muslimin dan muslimat, serta mukminin dan mukminat. Pengguna bahasa Indonesia seperti tak mengutak-atik pertalian gender ini.

Iklan

One thought on “Tali-temali Gender

  1. Sepengetahuan saya, tidak bisa kita sembarang menganalogikan peran wanita pada zaman Nabi ketika berjihad dengan perbuatan apa saja yang melibatkan gerakan aktif, terlebih hanya menyetir yang unsur duniawinya lebih kental daripada unsur ukhrawinya. Gender dalam lingkup agama tidak sesederhana itu, perlu pemahaman mendalam dari sisi ilahiah. Di luar hal ini, uraian penulis sangat bermanfaat karena gender dalam kosakata bukanlah perkara sepele, salah-salah ucap akan membuat orang yang diajak bicara tersinggung atau bahkan marah. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s