Arogan

KOMPAS, 20 Apr 2012. Alfons Taryadi, Penerjemah

Sumber gambar: Goodreads

Enak betul membaca buku Lie Charlie, Bahasa Indonesia Yang Baik dan Gimana Gitu… keluaran Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta (1999). Selain kocak, uraiannya menampilkan kearifan terhadap bahasa Indonesia dan upaya pengembangannya. Dalam ”Kata Pengantar”, misalnya, Lie antara lain menulis bahwa bukunya tidak ingin tampil arogan sebagai polisi yang mau mengatur begini-begitu, melainkan hendak hadir sebagai kawan berbincang-bincang ringan, dan syukur kalau pada akhirnya menciptakan terang pencerahan.

Menarik juga cerita Lie tentang dialognya dengan Slamet Djabarudi dalam suatu seminar. [Keduanya kini berada di alam baka. Lie sarjana tata bahasa lulusan Universitas Padjadjaran, Bandung. Slamet redaktur bahasa majalah Tempo.]. Saat itu ia mengutip seorang asing, yang adalah muridnya, yang berucap, ”Kok tak beres-beresnya orang memperkarakan mana bentuk yang baku, telur atau telor. Kan cukup dilihat di kamus?” Oleh Slamet Djabarudi, pertanyaan itu dijawab, ”Masalahnya ada orang yang mau melihat kamus, ada yang tidak.”

Ihwal buka-membuka kamus itu memikat minat saya terkait dengan pengalaman pribadi. Di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, saya mempunyai seorang teman kelas yang sudah terbiasa membaca Reader’s Digest meski hanya lulusan SLTP. Pengakuan Rene, sahabat saya itu, ia selalu mau membuka kamus setiap menjumpai kata bahasa Inggris yang tidak ia pahami.

Kebutuhan saya membuka kamus ternyata terbangkit juga ketika membaca buku Charlie itu sebab pada awal paragraf akhir di halaman 15 tersua, ”Teks proklamasi ditutup dengan kata-kata: Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta. Pada hemat saya, kedua putra Indonesia itu sangat satria dan arogan.”

Menurut Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, arogan berarti sombong, congkak, angkuh. Dalam psikologi, arogan berarti ’mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah’ seperti dalam ”di dunia ini ada saja manusia arogan dan penuh kepalsuan”. Eko Endarmoko dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006) memadankan arogan dengan, antara lain, angkuh, besar cakap, congkak, jemawa, pongah, snobis, sombong, tinggi hati.

Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (Hornby, AS, Oxford University Press, Fifth Edition, 1955), arrogant dijelaskan sebagai behaving in a proud and superior manner, showing too much pride in one self and too little consideration for others ’bersikap sombong dan tinggi hati, menunjukkan terlalu banyak kebanggaan pada diri sendiri dan terlalu sedikit pertimbangan terhadap orang lain’.

Dengan makna arogan dalam tiga rujukan di atas, saya setuju banget dengan Lie bahwa dalam menyampaikan pengamatan kita tentang situasi perkembangan bahasa Indonesia dewasa ini, kita mesti jauh dari sikap arogan. Namun, dengan makna seperti itu, arogan kiranya tak pas menggambarkan kekhasan pribadi tokoh Soekarno-Hatta.

Dengan kata lain, untuk memahami secara benar makna kata arogan dalam cuplikan tulisan Lie Charlie itu, saya harus siap membuka kamus lain barang empat atau lima, atau berapa gitu. Termasuk Kamus Khalayak Bahasa Indonesia yang disebut-sebut oleh Wahyu Adi Putra Ginting (”Kamus Kita Orang Punya”, Basis Nomor 05-06, Tahun ke-60, 2011) seandainya karya yang kita tunggu-tunggu itu sudah terbit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s