Ketika Dong Merajalela

Putu Wijaya* (Majalah Tempo, 7 Mei 2012)

Pada 1989, saya menulis skenario film Cas-Cis-Cus. Tapi Departemen Penerangan, yang pada waktu itu masih menjadi penjaga gawang pembuatan film Indonesia, hampir tidak memberi izin. Alasannya: Cas-Cis-Cus tidak diakui dalam kamus sebagai sebuah kata. Judul itu harus diubah. Tapi saya sudah telanjur jatuh cinta. Bunyi itu mewakili pengertian yang tidak hanya belum ada kesepakatan namanya, tapi juga sulit digantikan. Ia sudah jadi pengertian yang kompleks, mengandung banyak arti. Berlumuran berbagai rasa.

Seruan ah, misalnya. Sulit dijelaskan, kalau tidak berada dalam konteks kalimat atau peristiwanya. Seruan-seruan pendek itu menyatu dengan siapa, bagaimana, dan saat diucapkannya. Ini bagian dari kekayaan bahasa lisan, tapi sudah menyelusup masuk ke bahasa tulisan, lewat sastra. Dalam puisi, cerpen, novel, artikel, bahkan esai pun, “ah” dimanfaatkan untuk memperkuat diksi. Yang paling terang-terangan mengorbitkannya adalah naskah lakon dalam menampilkan bahasa percakapan yang hidup.

Atas dasar itu, saya berkeras memasok seruan cas-cis-cus sebagai kata. Dan ini sudah didahului dengan penulisan novel yang berhasil menang dalam sayembara penulisan novel majalah Femina, yang diketuai oleh Umar Kayam.

Akhirnya ada kompromi. Judul itu diperkenankan asalkan diberi subjudul. Maka dalam poster film itu kemudian tertera Cas-Cis-Cus (Soneta Dalam Kota). Saya menganggap sementara terobosan itu sudah cukup. Tahun berikutnya, saya kembali membuat judul film yang sejenis: Zig-Zag. Kemudian disusul oleh Plong. Yang berikut ini menjadi lebih mudah. Kini, lebih dari 20 tahun berlalu, seruan-seruan itu agaknya tak perlu paspor.

Ekspresi bunyi, yang bukan kata, telah menjadi kata, kendati kamus tidak mencatatnya. Saya tidak tahu apakah ini sebuah keterbukaan, kemajuan, atau pengacauan dan keblingeran. Tapi kata-kata seru yang lebih banyak berisi perasaan daripada pengertian itu adalah kenyataan yang hidup. Bahasa Indonesia semakin dinamis dan menangkap “tarian-tarian makna” dalam bahasa lisan. Maka tidak hanya dalam percakapan, dalam upaya memberikan deskripsi pun seruan-seruan itu mulai berperan.

Kalau kita jalan-jalan ke daerah, banyak hal yang menarik. Salah satunya kalau mendengarkan bahasa yang digunakan oleh penyiar radio. Orang Jakarta bisa kadang merasa ganjil. Sebab, di tengah masyarakat yang berbahasa Indonesia dengan paling tidak logat lokal, suara penyiar di radio seperti melemparkannya ke Ibu Kota.

Cara berbicara, berekspresi, dan memilih kata, menurut seorang mantan penyiar di sebuah radio di Kupang, memang seperti dianjurkan oleh pelatihnya memakai “medhok” Jakarta. Kadang begitu pasnya sehingga orang Jakarta merasa dirinya belum berangkat. Tapi juga tak jarang berkelebihan, sehingga lebih Jakarta daripada Jakarta sehingga terasa artifisial.

Salah satu seruan yang paling sering diumbar adalah “dong”. Empat huruf itu menjadi pelatuk yang membuat kalimat-kalimat meliuk hidup, gesit, tangkas, akrab, meriah, hangat, dan bisa lucu. Kadang seperti sebagai akhiran yang bermaksud mengeraskan. Kadang untuk menghaluskan, membuat jadi santai, ramah, dan egaliter.

Dong yang mengandung nuansa lisan yang kental membuat percakapan menjadi segar, hidup, dan mengalir. Tapi, di belahan yang lain, “dong” semacam duta yang “dikirim” oleh “pusat” untuk menyeragamkan ekspresi di daerah. Ini penetrasi yang dapat membuat warna lokal memudar. Ke mana pun kita pergi di wilayah Nusantara yang sesungguhnya sangat luas, beragam nuansa dan kekayaan lokalnya, perlahan-lahan menjadi sama. Dengan kata lain monoton.

Di daerah sebenarnya juga sudah ada seruan yang menjadi “karakter” wilayah. Misalnya “toh”. Tapi serbuan “dong” agaknya tak akan dapat lagi dibendung. Kepunahan seruan-seruan daerah mungkin tidak akan tercegah. Mudah-mudahan itu tidak berarti jiwa yang mendorong lahirnya seruan itu, seperti ketulusan, kejujuran, dan kepolosan daerah, tidak akan ikut pupus dilanda “dong”.

* Sastrawan, sineas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s