Devosi, Jombrot, dan Tembolok

Pikiran Rakyat, 26 Agu 2012. Setyadi Setyapranata, dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Sumber gambar: DinoMite

“Devosi”, “jombrot”, dan “tembolok”, hanyalah contoh model pengindonesiaan bahasa asing yang boleh dikata mewakili tiga “aliran” penerjemahan istilah teknis. Devosi diserap dari aslinya devotion, rangkaian ritual tertentu di gereja Katolik. Mungkin pencipta istilah semacam ini yakin tidak ada kata dalam bahasa Nusantara yang tepat berpadanan dengan aslinya, baik makna, konsep, maupun bentuknya, maka diserap saja dengan dimiripkan ejaannya. Contoh yang ”sealiran” devosi, misalnya mitigasi, dan hotplat. Semboyan mereka ”Mengapa susah-susah cari terjemahan, kalau serapannya sudah dapat dipahami”. Mereka yakin bahwa cara mereka dapat memperkaya bahasa nasional, dan bahkan dapat mengarah ke ”globalisasi” bahasa kita, meskipun cara ini sering disebut terlalu mengejar bentuk (form-based) aslinya.

Penganut aliran “jombrot”, kata Jawa untuk bangkrut, justru sangat giat menyisir kamus, berburu kosakata asli Indonesia dan menghindarkan banjir kata asing yang dianggap akan mencemari bahasa nasional; kalau perlu menghidupkan kembali kata yang pernah dianggap telah mati. Temuan mereka sering terdengar ”aneh”, menggelikan, bagi telinga orang masa kini sehingga terdengar lebih ”asing” daripada bahasa asing, meskipun tercantum dalam kamus resmi KBBI. Contoh semodel jombrot misalnya ”gapilan(interference), ”widik” (critical), ”kotongan” (acronym), dan ”cacil” (sangat kecil). Semboyan mereka berbalikan dari ”aliran” devosi, ”Mengapa harus menyerap kata asing, kalau kita sendiri punya kata itu”. Tekniknya mereka daku sebagai terjemahan ”berbasis makna” (meaningbased), bukan berbasis bentuk (form-based).

Istilah ”tembolok” di bidang perinternetan dimaksudkan sebagai padanan istilah aslinya, cache. Tembolok, bagian dalam leher unggas, dianalogikan dari cache. Unggas menelan dan menyimpan makanan lebih dulu ke dalam tembolok sebelum lumat, kemudian baru diproses pencernaannya. Konsep cache mirip fungsi tembolok: bahan yang diunduh dari internet disimpan dulu di ruang cache untuk kemudian dibuka bila akan digunakan. Contoh lain ”rangga”, tanduk rusa yang bercabang-cabang, dianalogi dengan tree diagram. Jadi, ”rangga silsilah” adalah family tree diagram. Istilah olah raga ”kandang dan tandang” dianalogikan dari ”home dan away”. Aliran ini sebenarnya cukup kreatif dan cerdas, namun tetap sering dianggap aneh, maka kurang populer; selain itu memang tidak mudah mencari analogi yg tepat, jadi tidak banyak ciptaannya. Ada yang menyebut teknik ini sebagai metoda terjemahan ”berbasis konsep” (concept-based).

Ada beberapa model terjemahan lain yang sebenarnya kurang tepat disebut sebagai ”terjemahan”. Misalnya ”manajer garis” untuk line manager, ”diskursus” untuk discourse, dan ”papan kunci” untuk keyboard. Kenyataannya istilah-istilah tersebut tak ada kaitannya dengan ”garis”, ”kursus”, dan ”kunci”. Contoh yang agak semodel, misalnya rock music mungkin seharusnya disebut musik ”goyang”, bukan musik ”cadas” karena sebenarnya yang dimaksud dengan rock adalah ”goyang”, bukan  cadas. Demikian juga petinju kelas ”terbang” untuk fly-weight boxer, seharusnya kelas “lalat”; memang kata Inggris fly bisa bermakna ”lalat” ataupun ”terbang”; sedangkan ”asam urat” (urate/uric acid) ternyata tak ada kaitannya dengan ”urat”.

Para pendukung ”aliran-aliran” tersebut sering saling melempar sindiran, bahkan ejekan. Misalnya ada yang menyebut model mitigasi sebagai terjemahan ”ngaco”; jenis ”papan kunci” disebut ”tidak nyambung”, sedangkan ”asam urat” dituduh ”menyesatkan” justru karena masuk sebagai lema dalam kamus resmi istilah kedokteran.

Sering kali para pejabat secara spontan juga ”mencipta” istilah baru. Misalnya Ali Alatas menceplos istilah ”opsi”, dan menggusur ”pilihan” ketika menteri luar negeri itu pulang dari sidang PBB tentang Timor Timur; dan Tanri Abeng, belum dua bulan menjadi menteri sudah mengubah ”swastanisasi” menjadi ”privatisasi”.

Namun bagaimanapun juga, banyak pengamat dan cendekia bahasa berpendapat bahwa bahasa yang benar-benar hidup dan benar-benar digunakan masyarakat adalah bahasa yang benar-benar ”benar”; sedangkan bagi penulis buku ilmiah, bahasa yang benar adalah yang mudah dipahami.

Nah, Anda termasuk pengikut aliran yang mana, silakan tentukan sendiri.

Iklan

5 thoughts on “Devosi, Jombrot, dan Tembolok

  1. Menurut saya, tujuan dari bahasa adalah kesamaan pemahaman antara pihak yang memberikan informasi dan pihak yang menerima informasi. Dalam hal ini, bahasa sebagai media penyampaian informasi. Bila salah satu pihak tidak mengerti atau tidak dengan mudah memahami isi dari pesan yang disampaikan, apakah kondisi tersebut bisa disebut sebagai komunikasi yang efektif ?

  2. Namun bagaimanapun juga, banyak pengamat dan cendekia bahasa berpendapat bahwa bahasa yang benar-benar hidup dan benar-benar digunakan masyarakat adalah bahasa yang benar-benar ”benar”; sedangkan bagi penulis buku ilmiah, bahasa yang benar adalah yang mudah dipaham

    apakah tidak sebaiknya : ……….adalah bahasa yang “sebenarnya” bukan bahasa yang “seharusnya”……? Seperti dalam bahasa hukum ada terdapat kedua kata tersebut….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s