Bahasa Lisan

KOMPAS, 21 Sep 2012. Kurnia JR, Cerpenis.

Sumber gambar: Preschools4all

Tidak banyak wartawan media elektronik, televisi dan radio, yang bahasa lisannya bagus dalam arti memenuhi standar dan kaidah bahasa baku, efektif, dan ekonomis ketika menyampaikan laporan langsung. Pada umumnya tata bahasa mereka belepotan. Tak jarang, pelafalan istilah-istilah tertentu keliru akibat kemiskinan perbendaharaan kata. Ada juga problem pilihan kata yang kacau-balau plus pengulangan dan pemanjangan kalimat-kalimat. Laporan yang seharusnya ekonomis dan lugas pun jadi bertele-tele, bahkan ngawur.

Orang Betawi bilang, ”Kagak kena kalo model begini jadi wartawan!” Sayangnya, yang model begitu lumayan banyak. Stasiun televisi dan radio seharusnya lebih serius menggembleng reporter mereka sebelum diterjunkan ke lapangan.

Barangkali para wartawan itu hanya cacat dalam bahasa lisan, sementara bahasa tulis mereka lebih baik. Penulis yang piawai dan indah dalam tulisan pun tidak niscaya sempurna dalam ragam lisan. Boleh jadi ini sifat bawaan, tetapi bisa didebat sebagai problem kompetensi dan kemalasan melatih keselarasan lidah dengan pikiran.

Wartawan yang setiap hari mewawancarai narasumber perlu belajar pada dua orang. Yang pertama Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen (Pol) Boy Rafli Amar. Yang kedua penyampai informasi kedatangan-keberangkatan dan lalu lintas di setiap stasiun sepanjang jalur KRL Jabodetabek maupun jalur sepanjang Pulau Jawa. Rata-rata petugas bagian informasi kereta berbahasa bagus, ekonomis, dan lugas.

Sebaliknya, jangan ditiru bahasa lisan dalam rekaman yang selalu diperdengarkan di dalam bus transjakarta. Penyebutan untuk bus dicampuradukkan antara bus, bis, dan bas. Pelafalan untuk bahasa Indonesia dan Inggris dikombinasikan seperti mengadon bahan-bahan untuk piza dengan bumbu martabak arau. Tahu rasanya seperti apa?

Perihal kompetensi bahasa lisan, perlu disebut dua pakar komunikasi yang populer, yakni Effendi Ghazali dan Tjipta Lesmana. Selain khatam secara keilmuan, keduanya memiliki daya pukau berkat pengenalan yang matang akan pembawaan diri pribadi dalam hubungannya dengan sistem komunikasi publik. Apa pun yang mereka ucapkan senantiasa jelas dan unik menampilkan kepribadian masing-masing.

Bahasa lisan yang sangat menarik juga ditunjukkan oleh para penyiar di radio BBC London sebelum dekade 2000-an. Mereka bukan lagi sekadar fasih dan kompeten dalam bahasa Indonesia, tetapi sudah mencapai taraf indah. Dari sekian banyak nama yang tentunya membekaskan kesan indah di benak para pendengar setia adalah Ridwan Pinat, dan dia bukan satu-satunya.

Sungguh, banyak guru bagi para wartawan media elektronik yang setiap hari berkutat dengan kata di ujung lidah seandainya mereka mau belajar guna menajamkan jurus.

Iklan

2 thoughts on “Bahasa Lisan

  1. Bagaimana dengan bahasa Ustadz dan lai-lain ? Mereka menggunakan bahasa Arab dengan diterjemah langsung yang memang susunan kata per kata dan kalimat perkalimat banyak belum dapat diterjemahkan atau dicarikan padanan kata dalam bahasa Indonesia.
    Sangat disayangkan sampai menyadang gelar S2 pun mereka tidak mendapat pelajaran atau mata kuliah bahasa Indonesia sampai akhir masa kuliah, sehingga banyak pemahaman yang keliru. Contoh kata saling tolong menolong, sekali-sekali, sesekali, pada – kepada. belum lagi cara menterjemahkan ungkapan-ungkapan yang berkaitan dengan budaya orang Arab..Bahasa mereka diterima oleh orang banyak dan santri-santri yang akan menjadi pendukung atau penerus budaya “dakwah bahasa Indonesia” yang menjadi tradisi kurang baik.

  2. Saya ingin memberikan sedikit masukan saja bahwa sebaiknya kata “problem” digantikan dengan kata “masalah” atau padanan lainnya, bila tidak, setidaknya dicetak miring

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s