Remot

KOMPAS, 5 Okt 2012. Salomo Simanungkalit.

Sumber gambar: Telly on a Plate

Sampai semalam saya masih memantangkan sebutan ”remot” bagi benda pudat tombol yang memungkinkan kita mengoperasikan televisi dari titik berjarak. Kesulitan pertama dan terbesar oleh kekerasan hati ini justru terjadi di rumah sendiri.

”Tolong ambilkan benda itu!”

”Maksud Bapak: remot?”

Mau bilang apa saya kepada putri saya yang masih duduk di kelas besar taman kanak-kanak itu?

Kelak saya akan berubah pikiran. Ketika mempersiapkan naskah ini, saya membuka-buka Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Rupanya bagi orang Amerika, menurut kesaksian kamus edisi keenam (2000) suntingan Sally Wehmeier itu, remote bisa kata sifat, bisa pula kata benda. Sebagai adjektiva, kata itu mengandung tujuh makna, masing-masing pada dasarnya masih terkait dengan ’jauh’: ruang, waktu, hubungan antarpersonal, dan sistem komputer. Selaku nomina, remote—begitu saja disebut menyingkat ungkapan remote control—secara informal digunakan di Amerika dengan makna, ya itu tadi, peranti yang memungkinkan kita mengoperasikan televisi dari suatu tempat berjarak. Dengan fakta ini dan sejumput rekonsiliasi dengan hati, akan saya jawab kepadanya, ”Ya, remot.”

”Remot” adalah kenyataan belia dalam kehidupan kita, hampir tanpa preseden, setelah seabad lebih fisika gelombang mendasari teknologi elektronika bagi penciptaan perkakas-perkakas yang serta-merta memasuki keseharian kita tanpa jarak—di rumah, di tempat kerja, dan di mana saja—melalui benda bernama formal remote control. Adat kita menidurkan nama resmi di atas secarik dokumen catatan sipil, lalu menyapa pemangku nama itu dengan panggilan lugas yang sembarang belaka. Rupanya itulah yang berlangsung pada ”remot”. Setali tiga uang dengan yang terjadi di negeri asalnya! Vox populi, vox Dei.

Jadi, pekamus ekabahasa tak usah ragu-ragu menaruh remot sebagai sebuah lema berkelas kata benda.

Sebagai kata sifat? Tunggu dulu. Teknologi berbasis fisika gelombang dan fisika kuantum telah dan akan melahirkan sejumlah peranti dan sistem dengan kata sifat remote. Antara lain, remote sensing, sudah lama kita dengar. Beberapa pendeta sedang memikirkan kemungkinan pemberkatan perkawinan berjarak jauh: pendeta jemaat di Jakarta memberkati pengantin Batak yang memilih Seattle sebagai tempat perayaan pernikahan.

Sebelum menghadapi gempuran hebat akan ungkapan berlumur remote, kata orang bijak, sedia payung sebelum hujan. Pecandu bahasa bolehlah melacak padan bagi remote dalam kosakata bahasa Indonesia: masih jarang dipakai, tetapi makna intrinsiknya memang remote. Jauh sudah telanjur sering dipakai: 127.000.000, menurut Google.

Kamus Poerwadarminta, Kamus Dewan, maupun Kamus Besar mencantumkan lema dura dengan arti ’jauh’, yang luput dari mata elang petesaurus kita sehingga pengindraan jarak jauh yang selama ini mendampingi remote sensing barangkali kita persingkat saja dengan pengindraan dura.

Pendeta Einar Sitompul yang pernah memikirkan pemberkatan perkawinan jarak jauh barangkali sudah waktunya membahas bersama rekan-rekannya landasan teologis bagi pemberkatan dura. Tak elok rasanya bila ritus itu kelak disebut sebagai pemberkatan remot.

Iklan

2 thoughts on “Remot

  1. Remote untuk remot, atau dura? Kita lihat perkembangannya, akankah diserap langsung atau dipadankan dengan kosakata lokal? Saya sendiri lebih suka remot, secara kata ini sudah membumi dan populer di masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s