Revisi dan Revisionis

KOMPAS, 16 Nov 2012. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Sumber gambar: MDS Coacing

Langkah politisi Dewan Perwakilan Rakyat merancang revisi undang-undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi akhirnya terhenti—mungkin sementara. Mereka sendiri memutuskan penghentian itu setelah ”mempertimbangkan aspirasi masyarakat” (Kompas, 17 Oktober). Publik menolak niat DPR merevisi undang-undang itu lantaran curiga akan melemahkan peran KPK. Dalam rancangan revisi, pasal penting seperti kewenangan penuntutan dan penyadapan dilucuti dari tubuh lembaga antitilap harta negara itu. Niat itu, bila benar demikian, mengingkari makna kata revisi itu sendiri.

Seumur-umur, kata revisi mewadahi gagasan yang bersifat konstruktif. Dalam berbagai kamus Inggris, kata dasar revise dimaknai meninjau ulang dan mengoreksi sesuatu sehingga menjadi lebih baik ketimbang sebelumnya. Pemaknaan seperti itu pula yang terurai dalam lema revisi pada KBBI, ”peninjauan (pemeriksaan) kembali untuk perbaikan”. Revisi digunakan dalam cakupan bidang cukup luas semisal undang-undang, hukum, karya literer dan ilmiah, serta ekonomi.

Kata revisi, dengan demikian, mengandung watak kreatif dan progresif. Dalam bukunya, The Complete Idiot’s Guide to Creative Writing (1997), Laurie Rozakis, profesor sastra Inggris di Universitas New York, menulis, ”When you revise, you change what you need to better satisfy your purpose and audience.” Terkait penulisan kreatif, langkah revisi yang dia sarankan adalah cut, replace, add, dan rearrange atas materi yang akan diperbaiki. Puisi epik anggitan TS Eliot, ”The Waste Land” (1922), menurut pengamat sastra di Amerika Serikat, bertambah elok dan enak dibaca setelah mendapat saran perbaikan dari Ezra Pound, rekan Eliot.

Dalam khazanah pemikiran sosial dikenal istilah revisionisme yang muncul di Eropa setelah kematian Marx. Istilah itu merujuk pada arus kritik terhadap gagasan Marx, terutama ide tentang tamatnya kapitalisme dan transisi ke sosialisme yang penuh konflik antara kelas borjuis versus proletar. Namun, seperti ditulis Eduard Bernstein dalam Evolutionary Socialism (1899), fakta kala itu menunjukkan kebalikannya: jumlah pemodal malah bertambah, tidak terkonsentrasi pada genggaman individu, tetapi menyebar di tangan pemegang saham. Jumlah kaum proletar cukup ”terkendali” dan tidak terjadi polarisasi kelas.

Para pengibar revisionisme tersebut dijuluki revisionis(t), seperti Bernstein dan barisan austromarxisme. Yang disebut terakhir adalah para pengikut sekaligus pengkritik Marx asal Austria yang bermunculan pada awal abad ke-20. Pada dasarnya mereka tidak menolak marxisme sama sekali, tetapi menghendaki lebih terbuka terhadap pemikiran ilmiah dan, karena itu, selalu mengembangkan dialog intelektual. Mereka menolak cara berpikir tertutup, beku, dan deterministik. Dengan sikap itu, para revisionis menunjukkan bahwa revisi, bagaimanapun, harus dilandasi pemikiran rasional dan obyektif.

Kalau boleh beranalogi, politisi parlemen kita, sebagai pemegang hak revisi, mestinya juga bisa disebut revisionis atau berlaku seperti itu. Andaikan niat merevisi undang-undang tentang KPK tidak kelewat politis, tetapi ”sedikit ilmiah”, niscaya akan dielu-elukan rakyat. Sikap masyarakat terhadap rencana revisi bukanlah menentang prinsip revisi itu sendiri, melainkan ingin menyodok intrik politik yang tak bermaslahat babar blas bagi penegakan martabat bangsa dari rongrongan korupsi.

Iklan

2 thoughts on “Revisi dan Revisionis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s