Dilema Metafora Anjing

Majalah Tempo, 30 Desember 2012. Ahmad Sahidah, Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia.

Sumber gambar: konsultankreatif.com. Terjemahan dari bahasa Jerman: Lalu, saya harus bilang WOW, begitu?

Tulisan Zainuddin Maidin, mantan Menteri Penerangan Malaysia, mengguncang jagad politik Indonesia dan Malaysia. Dimulai dari tuduhan mantan pemimpin redaksi koran terbesar negeri jiran, Utusan, bahwa Habibie, Presiden ke-3 RI adalah anjing imperialisme, pertikaian ini telah membuat blog Zam, panggilan akrab sang menteri, dihujani komentar para blogger Indonesia sehingga memecah rekor. Sebelum ini, komentar terhadap blog bekas menteri penerangan di zaman Abdullah Badawi yang tidak lebih dari 10 telah mencecah ratusan. Hanya saja perlu dimaklumi bahwa gambar Habibie dalam blog itu diterakan dengan The Dog of Imperialism mengandaikan kiasan bernuansa Inggris. Benarkah?

Bagaimanapun, sang menteri merasa telah mengungkapkan kebenaran. Tentu saya tak akan mempersoalkan isu ini dari sisi hiruk-pikuk politik, tetapi dari kelenturan bahasa. Betapa kata dog kadang akan terasa lebih tidak ofensif berbanding kata anjing, sehingga penyebutan binatang ini tidak begitu mengusik apabila dialamatkan pada orang lain, apatah lagi kata itu terkait dengan imperalisme yang mengandaikan pengertian hamba pada penjajah. Tentu, siapa pun tidak berterima dengan tuduhan ini karena merendahkan ‘korban’ yang kebetulan sangat dihormati di negerinya.

Lalu, mengapa kita tidak terusik dengan kata anjing dalam percakapan sehari-hari dengan kawan akrab?

Dua teman karib saya saling menyebut asu (kosa Kata Jawa untuk Canis familiaris) sebagai tanda kedekatan. Namun, dalam keadaan normal, penyebutan seperti ini tidak akan ditemui. Lema ini akan memantik pertikaian makin memuncak apabila diucapkan. Hal ini bisa dimaklumi karena anjing dalam perbendaan peribahasa kita dikaitkan dengan begitu banyak keburukan, misalnya anjing ditepuk menjungkit ekor (orang hina), bagai anjing beranak enam (kurus sekali), anjing menyalak di pantat gajah (orang lemah hendak melawan orang berkuasa), dan melepaskan anjing terjepit (menolong orang yang tidak tahu membalas budi).

Belum lagi secara tidak sadar, untuk sebagian masyarakat, anjing dipandang sebagai hewan yang menjijikkan. Pandangan ini berpijak pada alasan teologis, meskipun Harun Nasution, sarjana Muslim Mu’tazili, tidak berpandangan demikian. Saya masih ingat dengan baik, betapa dengan heroik orang-orang kampung saya dulu memburu anjing yang tersesat masuk ke kampung dari bukit, dan menemukan kepuasan setelah membantai binatang yang tak berdosa itu secara beramai-ramai. Sekarang tak ada lagi anjing tersesat karena bukit sudah gundul. Kata anjing hanya ada dalam kosakata luapan amarah. Dulu, Pak Sakera, pahlawan Madura, menyebut penjajah Belanda, pate’ celleng (anjing hitam) dengan mata merah. Pate’ yang berasal dari patik (Dalam bahasa Sanskerta berarti anak anjing) justru digunakan oleh warga Malaysia untuk menyebut dirinya di hadapan raja hingga sekarang. Bayangkan!

Merujuk pada D.C. Greetham dalam Theories of the Text, bahwa sebagai teks, konsep anjing mengandaikan makna konkret, artinya objek bisa diraba karena bersifat fisik, dan figuratif atau konseptual, yang terkait dengan pandangan analogis pemakainya. Di sini, kita berselisih jalan dengan Barat dalam memahami makna perlambangan dari anjing. Di negara-negara berbahasa Inggris, secara simbolik anjing adalah tanda bagi keteguhan pada janji, kesetiaan, kecerdasan, keguyuban, perlindungan, kerja sama, dan kepekaan inderawi. Apakah The Dog of Imperalism bermakna pengkhianatan Habibie terhadap Indonesia? Hampir serentak, banyak sarjana, dosen, dan politisi di negeri menyangkal tuduhan ini.

Seandainya kita memahami tuduhan itu dalam kerangka berpikir Barat, kata anjing yang dikaitkan dengan seseorang tidak akan memantik amarah begitu rupa. Jelas, kita tidak menemukan pengkhianatan yang telah dilakukan oleh Habibie terkait Timor Leste. Mengingat Zainuddin Maidin belum menghapus gambar Habibie yang bertuliskan The Dog of Imperialism dari blognya, kita tidak bisa lagi bersikap seperti peribahasa yang berbunyi anjing menggonggong kafilah berlalu, meskipun Zam berniat suci, seperti dalam pembelaannya di blog. Malah, secara khusus, pemilik blog zamkata ini meminta pembacanya berkeadaban.

Zam alpa. Kedua negara, Indonesia-Malaysia, hidup dalam ranah budaya Kemelayubesaran, seperti diandaikan oleh Pramoedya Ananta Toer. Dengan sendirinya, makna anjing secara otomatis akan dipahami dari sudut pandang ‘Melayu’. Zam tidak bisa menyembunyikan kebencian dengan memanfaatkan makna simbolik Barat seraya membiarkan makna itu berada dalam pikiran masyarakat yang menerima pesan. Tan Sri Zainuddin Maidin yang bersikukuh untuk tidak meminta maaf telah menjatuhkan dirinya kepada sifat-sifat nista anjing dalam dunia Melayu dan tidak menunjukkan sifat-sifat mulia yang diandaikan oleh tamadun Eropa. Akhirnya, harus diakui anjing itu menggonggong karena ingin melahap tulang.

Iklan

4 thoughts on “Dilema Metafora Anjing

  1. Ada yang bisa bantu memberi rujukan untuk pernyataan Ahmad Sahidah ini:
    Pate’ yang berasal dari patik (Dalam bahasa Sanskerta berarti anak anjing)

    Setahu saya
    वटिका vatikaa pion catur
    पथिक pathika pejalan

    Untuk anak anjing saya cuma ketemu sisu शुनक (monier 1076,2)

    • Halah. Kang Herman saja tidak berhasil menemukan rujukannya, apalagi kami? Nanti saya minta Cikgu Ahmad untuk memberi rujukan beliau.

      Sambil lalu, saya jadi ingat dengan “njing” yang menjadi “imbuhan” standar yang digunakan di kalangan teman-teman kala saya bersekolah di SMA di Bandung dulu :D

      • Di kamus Jawa Kuna Zoetmulder ternyata ada beberapa arti patik
        I hamba, sahaya, abdi
        II patik wenang, patik iwen ternak
        III patik gundala: peraturan
        IV menatah
        V menyentuh
        VI mahapatika = mahapataka (Skr) dosa besar

        Arti I-V tidak ditandai (Skr), jadi Zoetmulder juga tidak mengakui patik=hamba berasal dari Sanskerta.

  2. Perbedaan perspektif bangsa Barat dan Timur soal hakikat di balik kata “anjing” pun berbuah konflik. Memang, bahasa terkait budaya; budaya milik masyarakat; masyarakat terdiri dari sekumpulan manusia yang majemuk; kemajemukan merupakan keberagaman identitas. Semakin dicari titik masalahnya semakin sulit ditemukan. Perlu adanya kesahajaan dalam bersikap, dan ini tidak hanya dalam konteks perbedaan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s