Revitalisasi

Majalah Tempo, 13 Jan 2013. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Revitalisasi

Sumber gambar: KidzMatter Ministries

DI sebuah tikungan jalan raya menuju Puncak, Bogor, pandangan saya mampir pada sekeping papan kayu bertulisan “Reparasi Alat Vital” yang terpaku pada sebuah pohon tua. Alamat bengkel tempat reparasi tidak tercantum, kecuali nomor telepon. Juga tidak disebutkan jenis alat vital apa saja yang bisa dipermak di biro jasa itu. Jika mengikuti Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, sublema alat vital semestinya termasuk mesin pesawat terbang dan mesin pabrik. Namun, tak mungkin mesin-mesin besar bisa dibongkar-pasang di situ. Jelas kemudian teks pada papan kayu itu hanyalah trik penawaran “terapi syahwat” mirip iklan klinik terapi serupa yang dijajakan seorang rocker di televisi.

Tiba-tiba Alex, mahasiswa yang menemani saya melewati jalan raya itu, bertanya apakah “reparasi alat vital” merupakan sinonim revitalisasi. Semangat maknawinya mungkin begitu. Verba mereparasi bermakna memperbaiki atau membetulkan sesuatu (mesin, misalnya) yang rusak atau terganggu fungsinya. Akan halnya merevitalisasi adalah tindakan memberdayakan kembali sesuatu yang lunglai sehingga tampil segar. Program “revitalisasi kota tua” di kalangan ahli tata kota, misalnya, mengacu pada upaya mendandani kembali bagian kota yang rusak atau terbengkalai tak terurus. Biasanya revitalisasi dilakukan terhadap kota lama yang memiliki nilai historis penting dan ditimbang sebagai warisan budaya yang sangat berharga.

Istilah revitalisasi kemudian identik dengan pemugaran, khususnya terhadap tinggalan kuno atau bangunan bersejarah. Seperti tampak pada program revitalisasi museum di Indonesia yang digalakkan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Dalam buku panduan resmi tertulis, revitalisasi meliputi tampilan museum, pengelolaan koleksi, pengelolaan pegawai, administrasi umum, dan pengembangan jaringan serta kerja sama dengan pihak lain. Jadi, istilah revitalisasi dalam program itu merujuk pada keseluruhan aspek museum yang harus dibenahi, baik menyangkut benda fisik maupun nonfisik. Dalam kosakata budaya, revitalisasi erat dengan pembangkitan kembali budaya tangible “kasatmata” ataupun intangible “nir-raga”.

Di lingkungan badan usaha milik negara juga dikenal program “restrukturisasi dan/atau revitalisasi” untuk meningkatkan kinerja dan nilai ekonomis BUMN. Setelah pembubaran BP Migas beberapa waktu yang lalu, dipandang tepat untuk merevitalisasi Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sebagai lembaga penggantinya. Menurut Fanshurullah Asa, salah seorang pejabat BPH Migas, revitalisasi badan itu pertama-tama diarahkan pada penguatan institusi. Di sini istilah revitalisasi masuk ke ranah birokrasi untuk menjelaskan upaya atau proses penciptaan kegiatan usaha “yang mandiri, andal, transparan, berdaya saing dan efisien” (Tempo, 17-23 Desember 2012; Inforial).

Dalam bahasa Inggris, kata revitalize dicukil dari awalan ­re- (Latin) yang berarti “kembali” atau “lagi” digabung dengan vital yang berarti “hidup” atau “sangat penting” dan akhiran -ize, yang merujuk pada proses. Padanan kata itu adalah regenerate; kemudian renew, better, ameliorate, amend, dan ­improve. Kata turunannya revival, resurgence, revitalization, dan revivification. Intinya, semua kata itu bermakna memperbaiki, menghidupkan kembali, atau membarukan. Maka, seturut itu, revitalisasi dalam KBBI ditakrifkan “proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali”. Contoh kalimatnya, “Berbagai kegiatan kesenian tradisional diadakan dalam rangka revitalisasi kebudayaan lama.”

Baru belakangan revitalisasi banyak disebut dalam wacana publik di sini. Sebelumnya, lebih sering terdengar istilah pemberdayaan sebagai bahasa politik pemerintah bertalian dengan program “mengentaskan rakyat” dari lilitan masalah sosial-ekonominya. Mungkin, lantaran maknanya yang positif-konstruktif, revitalisasi pun ditarik dalam hajat politik nasional, entah sebagai program yang sungguh-sungguh entah sekadar pencitraan. Berbagai diskusi bertema “revitalisasi nilai-nilai Pancasila” atau “revitalisasi jati diri bangsa” memperlihatkan kehirauan terhadap gejala pengikisan identitas kebangsaan sebagai dampak dari berbagai faktor.

Arus pemikiran postmodernisme boleh jadi meluaskan sebaran kata revitalisasi saat ini. Menolak narasi besar, para penganut paham itu menjadikan revitalisasi sebagai konsep penting tentang “spiritualitas baru” yang bersumber dari nilai-nilai mitis-magis masa lalu sekaligus merangkul teknologi mutakhir (lihat Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat, 2004). Sejatinya hal itu bukanlah gejala baru. Gerakan sosial yang berlandaskan magico-religius yang berbaur dengan semangat protonasionalisme telah timbul setidaknya sekitar dua abad yang lalu, seperti tampak dalam kebangkitan mesianistik, Ratu Adil, cargo cult, dan sejenisnya, di Dunia Ketiga (lihat Sartono Kartodirdjo, Protest Movement in Rural Java, 1973).

Arti penting kata revitalisasi terletak pada optimisme yang ditawarkan: bahwa suatu “keloyoan”, yang mungkin mengidap kerusakan, bisa diperbaiki sehingga tampil wajah dan semangat baru.

Bahkan kematian ragawi pun bisa dibangkitkan kembali. Dihadapkan pada wajah coreng-moreng negeri ini — antara lain ditandai oleh keduafaan rakyat kebanyakan, korupsi, dan kepemimpinan nirteladan — kosakata revitalisasi makin kuat menemukan relevansinya. Moga-moga tahun baru ini banyak peluang untuk revitalisasi kehidupan bersama yang lebih segar.

Iklan

3 thoughts on “Revitalisasi

  1. Seperti biasa, artikel yang ilmiah dan mencerahkan. Sedikit menyimpulkan dengan mengutipkan definisi kata tersebut menurut daring KBBI online:

    re·vi·ta·li·sa·si n proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali: berbagai kegiatan kesenian tradisional diadakan dl rangka — kebudayaan lama

    (http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php)

  2. Kalau ada istilah dalam bhs Indonesia, “pemberdayaan”, mengapa harus pakai istilah “revitalisasi” yg diserap dari bhs. asing? Sepertinya kita lebih bangga dengan sesuatu yg berbau impor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s