Sang Pemula

Majalah Tempo, 20 Jan 2013. Hairus Salim H.S., Penulis dan Editor.

MetonimiaDi kantor saya, setiap kali ada rapat atau diskusi kecil, usul untuk suguhan air minumnya selalu saja aqua. Tapi yang muncul sering bukan Aqua, bisa merek minuman lain yang jumlahnya sekarang menjamur. Aqua sendiri dalam bahasa Latin memang artinya air. Tentu istilah itu digunakan bukan karena keinginan menghidupkan bahasa Latin, melainkan karena Aqua adalah merek pertama air minum kemasan yang dikenalkan di Indonesia sejak 1980-an dan kini sangat populer.

Mirip dengan kasus aqua di atas adalah produk makanan mi dadak, istilah kamus bahasa Indonesia untuk menyebut makanan mi yang setelah dimasak sekejap sudah siap buat disantap. Meski kini ada banyak merek untuk jenis makanan yang paling menasional ini, orang tetap lebih sering menyebutnya supermi, yang boleh jadi merupakan merek mi dadak yang pertama. Jadi, kalau di sebuah kios kecil ada yang bilang ingin beli supermi, yang dimaksud belum tentu Supermi sebagai merek produk itu. Bisa juga merek lain yang kini jumlahnya telah mencapai puluhan.

Dua contoh ini menunjukkan bagaimana sebuah merek yang bersifat pemula dan perintis, atau terkenal, dalam pemakaian sehari-hari berubah secara perlahan menjadi sebutan untuk jenis produk itu sendiri. Kita bisa menyusun daftar ini lebih banyak dan panjang lagi.

Awalnya beberapa kalangan mungkin menganggap kecenderungan berbahasa seperti ini salah kaprah, tapi bisa juga tidak. Tidak jika merek itu sendiri telah dibakukan dalam bahasa Indonesia. Contoh untuk pembakuan merek ini adalah odol. Odol pada dasarnya adalah merek pertama pasta gigi produksi Jerman yang diperkenalkan di Indonesia pada 1920-an. Karena itulah masyarakat lebih sering menyebut pasta gigi dengan odol.

Kenapa Odol bisa diindonesiakan? Semula saya menerka karena istilah itu memang sudah kadung populer dan kebetulan pasta gigi merek Odol memang–entah karena apa–sudah tidak dipasarkan lagi di Indonesia. Maka, untuk alasan yang kedua ini, bahasa Indonesia aman dari pesan iklan terselubung.

Tapi alasan yang kedua ini tidak relevan jika dikaitkan dengan kasus kodak. Seperti odol, kodak sebenarnya nama merek produk kamera dengan film gulung yang dipatenkan Eastman pada 1888. Nama Kodak diambil dan dibentuk Eastman dari huruf-huruf yang disenanginya. Meski tidak sepopuler masa lalu, hingga sekarang Kodak masih diproduksi dan dipasarkan di Indonesia. Mungkin karena Kodak menjadi sang pemula juga, masyarakat kita masih banyak yang menyebut kamera, tustel, atau alat potret–apa pun mereknya–dengan kodak. Bahkan kata kodak dalam praktek berbahasa sehari-hari membentuk pula kata kerja, seperti mengodak (memotret) dan dikodak (dipotret), meski yang ini belum disebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tapi sekali lagi, jika ada orang mengatakan ingin membeli kodak, yang dimaksud adalah kamera, bukan atau belum tentu alat pemotretan dengan merek Kodak.

Daftar pengindonesiaan sebuah merek menjadi sebutan untuk suatu jenis produk masih bisa diperpanjang lagi. Misalnya riben, untuk menyebut kacamata hitam yang dimaksudkan untuk melindungi mata dari sinar matahari yang menyilaukan. Seperti odol dan kodak, riben berasal dari Ray-Ban, merek kacamata dari perusahaan Bausch & Lomb dari Amerika Serikat, yang didirikan pada 1937. Awalnya dibuat untuk kepentingan pilot angkatan udara Amerika, tapi kemudian juga membuat produk untuk umum. Sekarang riben menjadi istilah untuk menyebut kacamata hitam merek apa pun meski kacamata hitam yang dipakai seseorang belum tentu bermerek Ray-Ban. Odol, kodak, dan riben telah menjadi lema dalam kamus bahasa Indonesia, dan karena itu pemakaiannya tentu tidak bisa dianggap salah kaprah lagi.

Keunggulan kosakata yang diambil dari merek bukan semata kemasyhurannya, melainkan juga sifat hematnya: hanya satu kata untuk menjelaskan suatu benda odol, kodak, dan riben. Bandingkan dengan alternatif lain yang ditawarkan kamus bahasa Indonesia, misalnya “pasta gigi”, “alat potret”, dan “kacamata riben”. Tanpa bermaksud kampanye, aqua jelas lebih irit daripada “air mineral”.

Masih banyak lagi merek yang lalu jadi sebutan untuk menyebut suatu produk di masyarakat kita. Baik yang bersifat masif seperti supermi dan aqua di atas maupun yang bersifat lokal. Misalnya, di sebagian daerah di Indonesia, masih banyak orang menyebut sepeda motor dengan honda. Jadi jangan kaget kalau mendengar orang mengatakan, “Tadi dia pergi naik honda.” Lalu, setelah dia datang, Anda lihat orang yang disebut itu ternyata naik sepeda motor merek Suzuki atau Yamaha. Lebih ekstrem lagi, di pinggiran Yogyakarta, sebagian orang kerap menyebut koran dengan “kr”, singkatan dari Kedaulatan Rakyat, nama koran terkenal di daerah itu. Tentu beberapa sebutan ini tidak bisa diterima begitu saja sebagai istilah dalam bahasa Indonesia.

Tapi sayang, Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebagaimana untuk banyak kata yang lainnya, tidak memberikan etimologi untuk pembakuan kata-kata yang sebenarnya berasal dari nama merek ini. Demikianlah, untuk kasus odol, kodak, atau riben, kebanyakan kita mungkin akan kehilangan jejak akan asal-usul kata itu. Dan itu artinya kita kehilangan sejumput pengetahuan sejarah ekonomi dan teknologi.

Iklan

8 thoughts on “Sang Pemula

  1. Jadi teringat canda teman sekantor soal merek motor di kampungnya, Muntilan – Jawa Tengah, yang kerap kali disebut “honda”.
    Dia bertutur, “Di Jawa, kita biasa tanya, ‘Honda-ne merek opo, Mas?'”
    Anehnya, pertanyaan itu ditanggapi, “Iki, merek honda-ne Suyuki (alih-alih Suzuki).”
    Lucu, bukan?

  2. Ada lagi kata “micin”. Ini kosa kata Jawa Serang –biasanya ibu-ibu era80-an– untuk menyebut banyak merk penyedap masakan, seperti sasa, masako, miwon, royko, dan lain-lain.

    Pernah suatu ketika saya disuruh membeli “micin”, karena tidak ada nama itu, saat disodori “sasa” atau “miwon”, saya menggeleng. Entah, dari mana kata “micin” itu muncul?

    Barangkali penulis tahu asal-usulnya?

      • Mas Ivan,

        Saya rasa memang itu yang dimaksud oleh masyarakat. Satu contoh yang sering ayah saya ungkapkan dan ini menjadi hal lucu yang ia ceritakan di rumah saat senggang.
        Sebelum berkembangnya produksi televisi, layar tancap(cep) begitu marak. Mayoritas orang-orang di tahun 70 s/d 80-an kerap terdengar sebuah kata yg sekarang terdengar lucu, “Sudah berapa “lor” filmnya?” padahal maksudnya kata ayah adalah “roll” –> “rolling” artinya putaran/putar.

      • Saya rasa berasal dri Kata cina han
        味精 wei Jing. Dibca wei cing. Artinya MSG. Inii bisa dijumpaI dikemasan sasa. Dia menuliskan wei Jing. Qt biasa blg wei cing. Mgkin org indo dengernya micin

    • Mas Nels79,
      Kalau di tempat saya sedari kecil, sering saya mendengar orang-orang menyebut istilah saat belanja di warung dengan sebutan “mecin” bukan “micin”. Berbeda “e” dan “i”. Sedikit berbeda memang. Tapi maksudnya saya yakin sama, MSG-MSG juga. Namun kini, seiring berkembangnya informasi, alhamdulillah, masyarakat sudah biasa menyebut merek produknya. Karena beberapa penjual suka tanya, “merek apa mecinnya?” :D

      • Saya kira, kasus-kasus di atas masuk teori sosiolinguistik.

        Terima kasih. Betapa banyak kasus-kasus kebahasaan. Dari sana kita dapat melihat masa lalu dan masa depan sebuah bahasa dari bagaimana ia diperkembangbiakkan.

  3. di daerah saya, untuk menyebut kata “pompa air”, kita lebih suka kata “Sanyo”, merek pompa air yang paling akrab di telinga orang kampung. Begitu pula, ketika menyebut mesin penyedot air/ penggerak roda yang lebih besar, kita menyebutnya “diesel”.. Entah yang ini namanya apa dalam bahasa Indonesianya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s